Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
baby boy 2


__ADS_3

Setelah selesai mengadzani si bayi, Bisma langsung membawanya kepada Billa yang sudah dipindahkan keruang perawatan pasca melahirkan, Billa tersenyum saat melihat Bisma menghampirinya sambil menggendong bayi mereka disusul oleh bidan yang membantu Billa melahirkan tadi.


"Bisma, aku mau gendong dia." ucap Billa dengan antusiasnya, dia seperti lupa akan kesakitannya setelah melihat bayinya.


"iya, dia ganteng banget kaya aku Bill." ucap Bisma dengan pedenya.


"hah? ngarang kamu!" balas Billa sambil terkekeh.


"disusui dulu ya bayinya bu! mari saya bantu." seru bidan itu, Billapun dibantu sang bidan cara menyusui bayi dengan benar. Bisma memperhatikan mereka sambil terus tersenyum.


Setelah itu bidanpun pergi untuk mengurus surat kelahiran bayi mereka.


Bisma menggeser kursi yang ada disamping kasur Billa lalu mendudukinya, sedangkan Billa duduk bersandar pada sandaran kasur sambil menyusui bayi mereka.


"Bill, apa kita akan mengabari keluarga kamu sekarang?" tanya Bisma.


"iya Bisma, mama sama Liona pasti senang banget lihat bayi kita sudah lahir." sahut Billa.


Bismapun mengirim pesan kepada mama Dinar dan semua anggota keluarga yang sengaja ditambah dengan foto si bayi yang sempat dia ambil tadi setelah mengadzaninya.


"coco juga dikabarin ya Bisma!" seru Billa.


"iya, mama Vera sama papa juga udah aku kabarin."ucap Bisma.


"apa? mama Vera?" Billa mengulang kata-kata Bisma.


"iya, kenapa? kaya nggak seneng gitu?" tanya Bisma saat melihat perubahan di wajah Billa.


"aku takut dia menghina bayi ini Bisma, bayi ini nggak bersalah." ucap Billa sambil mendekap sang bayi dengan mata berkaca-kaca saat membayangkan mama Vera menggebu-gebu menghinanya.


Bisma tersenyum getir lalu mengelus kepala Billa perlahan.


"aku nggak akan membiarkan mama Vera menghina kamu sama bayi kita, percayalah!" ucap Bisma.


***


Veni menggerutu sendiri didepan perusahaannya, sudah hampir 15 dia menunggu, tapi orang yang membuat janji malah belum kelihatan batang hidungnya.


"sial, siapa yang butuh siapa yang harus nunggu." Veni uring-uringan sendiri.


Rafael baru saja keluar dari perusahaannya, dia melihat Veni yang sedang mondar-mandir didepan gerbang sana, Rafael tersenyum geli melihat kekesalan diwajah perempuan itu.


"ternyata dia menepati janjinya." gumam Rafael, diapun menghampiri Veni dengan langkah gontai.


"keterlaluan loe! Loe udah bikin gue nunggu lama disini, sebenernya apa mau loe. cepet to the point." Veni langsung menyemprot Rafael saat dia sudah ada dihadapan Veni.


"wes, selow dong. Mari kita bicara sambil makan, gue lapar." ucap Rafael.


Venipun meng-iyakan perkataan Rafael dan merekapun memutuskan untuk makan sambil berbincang di restoran yang tepat berada disebrang perusahaan mereka.


Merekapun duduk sambil berhadap-hadapan, sambil menunggu pesanan datang, Rafael melirik Veni yang terlihat tidak mood karena waktunya terbuang untuk mengurusi Rafael yang menurutnya tidak penting.


"kenapa loe?" tanya Rafael.

__ADS_1


"udahlah, to the poin aja. apa maksud loe ajak gue ketemu?" Veni balik bertanya.


"ok, loe harus temani gue keacara resepsi pernikahan temen gue." ucap Rafael.


"what? nggak salah, bawa aja cewe loe." sahut Veni.


"gue nggak ada cewe." ucap Rafael jujur. Veni tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah pasrah Rafael saat berkata seperti itu.


"nggak usah ketawa, ini nggak lucu." ucap Rafael. Tapi Veni masih saja tidak berhenti tertawa, Rafael menatap Veni yang tertawa dengan renyahnya, ada ketenangan tersendiri yang Rafael rasakan ketika melihatnya.


"hari minggu ini jam 9 pagi gue jemput kerumah loe." ucap Rafael yang sebenarnya merasa malu karena ditertawakan oleh Veni seperti itu.


"haha, bahkan rumah gue aja loe nggak tau." ucap Veni.


"kata siapa? gue tau." sahut Rafael.


"siapa yang kasih tau loe?" tanya Veni.


"Billa yang kasih alamat loe kegue." jawab Rafael. Veni berusaha meredam.tawanya.


"kalau gue nggak mau gimana?" tanya Veni.


"gue nggak menerima penolakan, dan nggak menawarkan loe mau apa nggak. Gue cuma memerintahkan loe ikut sama gue." ucap Rafael.


"itu namanya pemaksaan." ucap Veni.


"bukan, ini perintah." balas Rafael.


"siapa loe berani perintah-perintah gue?" tanya Veni.


"gue nggak mau, wlee." Veni menjulurkan lidahnya kearah Rafael.


Rafael habis kesabaran menghadapi Veni yang keras kepala, dia berpikir dengan cara apa lagi dia harus membujuk Veni, Rafael menghembuskan nafas beratnya.


"ternyata benar apa kata Bisma, loe itu orang nggak bertanggung jawab." Rafael menyenderkan punggungnya kesandaran kursi.


Veni yang mendengar nama Bisma disebut membelakakan mata.


"kata siapa? gue bertanggung jawab kok." ucap Veni.


"buktinya loe nolak perintah gue." sahut Rafael.


"ok, gue bakal buktikan kalau gue bertanggung jawab, loe jemput gue jam 9 minggu nanti. jangan sampai telah dan membuat gue menunggu." ucap Veni dengan mantap.


Rafael tersenyum lebar, akhirnya Veni mau juga menerima ajakannya meski harus membawa-bawa nama Bisma, tapi Rafaelpun semakin curiga kalau Veni ada apa-apanya kepada Bisma.


Pesananpun datang, mereka langsung menyantapnya karena memang sama-sama sudah merasa lapar.


Tak butuh waktu lama untuk mereka menghabiskan makanannya, Rafael meminum air digelasnya, begitupun denga Veni.


"habis ini, kita ke bidan." ucap Rafael.


"hah? ngapain kesana?" tanya Veni.

__ADS_1


"Billa udah melahirkan, kita harus menengoknya kesana sekarang. sekalian." jawab Rafael.


"ahh masa? kemaren dia baru aja main dari rumah gue." balas Veni.


"ya guepun nggak tau, Bisma yang kasih kabar tadi. bayinya lucu banget." ucap Rafael.


"oh ya?" tanya Veni.


"iya, coba lihat!" Rafael menunjukkan layar ponselnya kearah Veni, Venipun melihatnya, terlihat Billa yang sedang menggendong bayinya sambil tersenyum dan perutnya sudah rata.


Veni tidak berkedip ketika melihatnya.


"hati-hati, nanti mata loe keluar dari tempatnya." seru Rafael sambil menarik lagi ponselnya.


Veni jadi kesal sendiri membayangkan Billa dan Bisma yang bahagia atas kelahiran bayi mereka.


"ayo!"


Setelah membayar tagihannya, Veni dan Rafaelpun pergi meninggalkan restoran itu menuju kembali keperusahaan untuk mengambil motor Veni, mereka memutuskan mengendarai motor Veni sedangkan motor Rafael sengaja dia tinggalkan diperusahaannya.


***


Mama Dinar, Liona dan om Suryo sampai di klinik persalinan tepat pukul 7 malam bertepatan dengan adzan isya berkumandang, saat mendapat kabar Billa sudah melahirkan mereka langsung cepat-cepat meluncur kesana, mama Dinar dan Liona terlihat antusias dan tidak sabar ingin melihat sang bayi.


"kak Billa!" Liona langsung berlari berhambur kearah Billa dan bayinya.


"mama dan papa sudah sampai?" Bisma menyambutnya dan mencium tangan mereka tanda hormat.


"nak, kenapa nggak mengabari mama sebelumnya? kan mama bisa mendampingi kamu saat melahirkan" ucap mama Dinar.


"nggak apa-apa kok mah, kan ada Bisma, dan yang penting sekarang Billa sama dede bayi udah selamat dan sehat." ucap Billa sambil tersenyum.


"kamu beruntung Bill memiliki suami seperti Bisma ini, dia sangat menyayangimu." ucap om Suryo Bisma tersenyum malu mendapat pujian seperti itu.


"kak, siapa namanya? nanti kalau udah agak besaran, Liona mau gendong dan ajak main dia." ucap Liona antusias.


"siapa ya? kakak juga bingung. Bisma apa kamu udah punya nama buat bayi kita?" tanya Billa.


"namanya Muhammad Adrian DhiyaRahman. kamu setuju nggak?" jawab dan tanya Bisma.


"emm, bagus, tapi panggilannya apa?" tanya Billa.


"Rian." ucap Liona spontan.


"pinter kamu Li." puji Bisma.


"hai Rian, ini nenek sama kakek jengungik kamu, kamu tampan sekali." ucap mama Dinar mengajak bicara bayi merah yang matanya madih terpejam rapat itu.


Terdengar suara keributan kecil diluar, derap langkah kaki semakin mendekat, semua orang menoleh kearah pintu yang baru saja dibuka seseorang.


Seorang orang wanita dan pria paruh baya tampak diambang pintu sana, semua mata membulat sempurna saat sama-sama menyadari kehadiran masing-masing, entah apa yang ada dipikiran mereka, mereka sibuk berjibaku dengan pikirannya masing-masing menerawang jauh kemasa lalu.


Dari semua orang yang tertegun, mama Vera yang paling dominan merasakan keterkejuatannya disana.

__ADS_1


Minta like nya ya readers...


__ADS_2