
"Aku menyukai warna kulitmu."
Kamila masih merasakan sakit kepala dan tubuh berat itu, tapi fokusnya lebih terarah pada kecupan Iaros di tubuhnya.
Dia berada di sini sepanjang hari, menemani Kamila untuk pulih meski seharusnya dia kembali dan menikmati bulan madu bersama istrinya.
Tentu saja Kamila bukan berdoa dia pergi. Ia diam saja, menutup mulutnya agar tidak bersuara.
Kamila ingat Dios mendengar ia menangis padahal bangunan ini cukup jauh dari bagian ramai kastil yang sering dikunjungi okeh Narendra.
Suhu tubuhnya naik karena demam, jadi Iaros membasuh Kamila dengan air agar demamnya cepat naik, lalu turun.
Narendra tidak meminum obat saat demam.
Matanya menatap jauh ke langit yang terlihat di jendela tanpa penutup. Mengawang-awang sebuah ingatan yang samar ketika mereka memasuki usia remaja.
Saat itu sepertinya menjelang usia Iaros yang ke tujuh belas. Waktu di mana dia akan segera meninggalkan Kastil Bintang untuk datang ke kastil mawar ini.
Mereka tenggelam dalam dosa kecil yang semakin besar. Melepas pakaian mereka di bawah rembulan dan dinginnya udara malam, dalam posisi berpelukan seperti kekasih.
"Tuan Muda." Kamila berbisik di telinganya waktu itu. "Kenapa Anda tidak menuntaskannya?"
Iaros selalu berhenti sebelum mereka benar-benar saling berzinah. Tak tahu kenapa. Bahkan ketika dia kadang terlihat lepas kendali, Iaros lebih memilih menyakiti dirinya sendiri daripada memiliki Kamila.
__ADS_1
"Usiamu masih terlalu muda," jawab Iaros waktu itu. "Aku ingin menjagamu sebentar kagi. Sampai kamu dan aku melakukannya dakam kesadaran diri masing-masing."
"Tapi saya sudah lima belas tahun."
"Kamu ingin?"
Kamila memukul bahunya. "Bukan itu!"
Dan Iaros tergelak usil. "Aku ingin menjagamu." Entah kenapa pelukan Iaros mengisyaratkan sebuah ketakutan. "Aku ingin menjagamu dari apa pun yang menodaimu."
Kamila tidak mengerti. Tapi ia membiarkan Iaros mengatakannya dan menerima cara Iaros mencintainya.
Meski setelah itu, jauh di hati Kamila, ia mungkin bersyukur karena Iaros tidak melakukanya.
Kini ia pun tak bertanya kenapa Iaros masih menghentikannya sebelum semua tuntas. Dia kembali membaringkan Kamila, menyelimutinya baik-baik dan memegang kening Kamila yang berkeringat dingin.
"Tuan Muda."
Suara ketukan pintu mengejutkan Kamila. Suara perempuan di sana membuat ia takut itu istri Iaros, tapi ternyata pelayan pribadinya.
"Tuan Besar menunggu kehadiran Anda, Tuan Muda."
Tuan Besar, berarti paman mereka, ayahnya Aether.
__ADS_1
Beliau kepala keluarga jadi tentu saja Iaros harus menghadap. Meski ada pelayannya, Iaros mengecup kening dan bibir Kamila, lantas beranjak pergi meninggalkannya sendirian.
Kamila takut jika Lily datang dan menjambak rambutnya lagi. Tapi syukurlah tidak hingga Kamila bisa beristirahat.
Tak tahu berapa lama ia tertidur, Kamila terbatuk-batuk yang jadi penyebabnya terbangun.
"Silakan, Nona."
Tangan Kamila gemetar menerima air itu. Ia minum, tersedak karena napasnya yang terlalu sulit diatur.
Begitu ia mengulurkan gelas kembali, Kamila tersadar ia tak mengenali suara orang tersebut.
Matanya terbuka lebar. Menemukan wajah yang sama dengan wajah wanita di sisi Iaros kemarin, memakai gaun merah dan menerima bunga mawar.
Seketika Kamila merasa napasnya tertahan, bukan lagi tersendat.
Ia mengalami palpitasi, nyaris seperti orang kejang karena takut.
Kenapa dia menemui Kamila? Jangan bilang dia tahu tadi Kamila—
"Halo, Nona." Wanita itu tersenyum. "Nama saya Helen."
*
__ADS_1