
Kamila sudah memutuskan.
Ia akan menemui Iaros.
Mungkin sejak awal memang ia tak diciptakan untuk bebas.
Jika ibu dan kakaknya baik-baik saja, orang-orang yang peduli padanya, entah Aether, Hefaistos, juga Ribia: jika ia harus terkurung dalam belenggu Iaros demi menjaga mereka, Kamila akan melakukannya.
Sekarang ia sudah cukup tahu bahwa mereka menyayanginya. Dengan cara yang bisa mereka lakukan.
Ia tidak sendirian, tidak kesepian. Tapi memang beginilah garis takdirnya sebagai wanita setengah Narendra.
“Ana."
Pelayan Kamila didatangkan hari ini atas perintah Aether. Karena permasalahan Iaros, Kamila dan Lily harus tertahan di kastel utama sampai keputusan dibuat.
Jika ia dan Lily menikahi Narendra, mereka akan resmi tinggal di sini. Dan jika permintaan Iaros diterima, maka Kamila dan Lily harus ikut bersama para wanita Narendra menuju mansion Asgard, rumah tetua Narendra.
"Anda bisa pergi sekarang, Nona."
Kamila pun beranjak. Berjalan meninggalkan kamar tanpa izin Aether untuk menemui Iaros.
Berulang kali Kamila menoleh ke sekitaran, berharap tidak ada satupun orang melihatnya. Kata Ana, Iaros berada di tempat yang dulu Kamila tempati sebelum mereka berangkat ke Korea.
"Kamila."
Tersentak, Kamila menahan napas saat Ribia tiba-tiba muncul di dekat danau. Dia seperti sudah menunggu Kamila hingga spontan ia ingin berlari.
"Kamila, kumohon. Bicara padaku."
Niat Kamila batal. Menatap penuh keraguan pada Ribia di sana.
Banyak hal telah ia katakan. Kamila menyakiti Ribia dan mungkin karena ucapannya itulah, Ribia jadi merasa sangat terbebani oleh hubungan mereka.
__ADS_1
Kini Kamila tidak punya keberanian. Demeter benar. Kamila akan selamanya jadi Kamila, dan tidak akan pernah menjadi Lissa Makaria Narendra.
"Kamu ingin menemui Kakak?" tanya Ribia saat sudah mendekat pada Kamila.
Ragu-ragu ia mengangguk, tapi kemudian Ribia tersenyum.
"Kemarilah. Aku akan menemanimu."
"Tidak usah, Nona."
"Aku berada di pihakmu, Kamila. Percaya padaku, tolong." Ribia menarik pelan lengannya. "Akan lebih aman bersamaku. Jika Kakak Aether tahu, aku akan berkata aku yang memaksamu."
Meski Kamila merasa itu justru akan menyusahkan Ribia, gadis itu bersikeras. Akhirnya Kamila diam, berjalan mengikuti Ribia yang diam saja tanpa suara.
Semua tak akan lagi sama, dia dan Kamila tahu hal itu.
Benar-benar tak ada suara sampai Kamila berhenti di depan pintu tempat Iaros berada. Ribia turun dari tangga, menepi ke taman agar Kamila dan Iaros punya waktu berdua.
Segera Kamila mengetuk pintu. Menyiapkan batinnya untuk menanggaung apa yang harus ia tanggung.
Tapi ia tetap berdiri, tetap menunggu sampai pintu kamar Iaros terbuka.
"Tuan Muda."
Kamila meremas tangan di depan dadanya. Memaksakan diri menatap Iaros saat seluruh ingatan itu datang.
Malam itu, Iaros membunuh mimpinya.
Malam itu, Iaros merebut kebahagiaannya.
Kamila tak tahu. Apa sebenarnya yang harus ia rasakan pada orang ini sekarang?
Aku tetap harus melakukannya bahkan kalau dia menjadikanku binatang. Kamila bergumam menyakinkan diri sendiri. Aku harus melakukannya.
__ADS_1
"Tuan Muda, saya datang—"
"Aku tidak memanggilmu."
Kamila tertegun.
Mata Iaros dingin memandangnya. Tak tersisa jejak yang sama, luka atau kesedihan kendati seharusnya dia yang paling menantikan hal ini.
"Pffft." Iaros menutup mulut, tiba-tiba tertawa geli. "Aku sangat menyukai adikku yang satu itu."
Apa?
"Kamila." Iaros meraih wajahnya, dengan cara yang sangat kasar. Dia mengangkat dagu Kamila agar mendongak menatapnya. "Kamu ingat buku harian Kamila terdahulu yang membuatmu tertarik itu?"
Kamila meringis sakit. Rahangnya ditekan keras.
"Aku pernah berpikir bahwa kamu dan Kamila itu berbeda. Tapi sekarang aku tahu. Kamu dan Kamila itu sama."
Air mata Kamila menggenang.
"Pada generasi sebelumnya, Kamila kalah dalam pertarungan memperebutkan hati Iaros. Yang memenangkannya adalah Lissa." Iaros membungkuk. Berbisik di bibir Kamila. "Demeter adalah Lissa bagimu."
Iaros mendorongnya hingga punggung Kamila membentur tembok. Tapi sedikitpun dia tidak merasa bersalah, hanya menatapnya dingin.
"Demeter, adikku tercinta. Dia berkata 'Kamila akan datang menemui Kakak dan akan meminta kembali, tapi dia kembali bukan karena cinta tapi karena benci'."
Sesuatu menggugah Kamila. Wajahnya pucat saat Iaros mengambil tangannya lembut, membelai gelapak tangan Kamila.
Jangan.
"Kamu mempermainkanku seumur hidupku." Iaros membelainya sangat lembut. "Karena itu aku bersumpah atas semua itu, atas cintaku padamu, Kamila-ku. Aku akan meletakkan jantung ibumu di atas tanganmu ini, agar kamu tahu aku bukan mainanmu."
Pintu kamar Iaros teruturp, dan Kamila jatuh berlutut menatap tangannya sendiri.
__ADS_1
Kini di mata Kamila, tangan itu berlumur darah. Siap menimang jantung Ibu yang dicabut oleh Iaros.
*