
Pikiran Kamila dipenuhi ketakutan hingga napasnya memburu kasar.
Tidak boleh. Jika perkataan Iaros diterima dan perebutan hak kuasa terjadi, Iaros mungkin akan mati (di mana sekarang Kamila rasa tak akan peduli) tapi dengan kematian Iaros, sasaran mata selanjutnya adalah Kamila, Lily, juga Ibu.
Iaros ingin hak kuasa Aether untuk memiliki Kamila. Maka secara otomatis seluruhnya salah Kamila.
Dan jika seseorang dari mereka berkata Lily juga Ibu harus dihukum bersama, kami semua mati.
Pria gila itu tidak pernah berbohong. Dia membunuh pengawal sekaligus calon suami Kamila di depan Lily tanpa ragu. Dia tahu Kamila menderita tapi tetap melakukannya karena dia tidak suka.
"Kamu terlihat tidak senang mendengar aku membunuh Iaros," ucap Zefirus, meleburkan lamunan Kamila. "Ada apa? Kamu tidak suka?"
Kamila menelan ludah. Ia tiba-tiba merasa lemah lagi, tak bisa mengendalikan apa pun lagi, tak bisa memanipulasi sesuatu lagi, meski ia terus memikirkan Kamila terdahulu juga buku hariannya.
"Adikku?"
"Sa-saya hanya ...." Kamila menelan ludah. "Saya hanya memikirkan bagaimana jika hal itu terjadi."
"Hm?"
"Generasi setelah ini, mereka secara otomatis akan lebih mudah melakukannya. Peraturan perebutan hak kuasa memang ada, tapi sejak awal sampai sekarang, belum pernah terjadi."
__ADS_1
Zefirus tertawa kecil. "Bukankah pernah? Lio Narendra membunuh Abraham Widipa Yasa."
"Tapi itu Yasa, Tuan Muda."
"Lio Narendra bernama Lio Ekata Yasa, Kamila."
Tidak sulit untuk tahu bahwa Zefirus sudah menganggap Iaros musuhnya. Jika tak ada peraturan tidak bolehnya bertikai kecuali untuk alasan konkret, kemungkinan Zefirus sudah membunuh Iaros sekarang.
Dia menantikan alasan itu. Persetujuan Paman Orion.
Perbuatan Iaros sudah diluar toleransinya.
Tapi itu berlaku bagiku juga. Kamila memeluk dirinya ketakutan. Jika pertikaian terjadi, istri-istri mereka yang terlibat juga akan merasa dirugikan. Bagaimana jika ada satu Tuan Muda yang mati sebelum Iaros mati? Mereka otomatis membenciku.
Pikiran Kamila itu terbaca oleh Zefirus. Pria itu tersenyum diam-diam. Tak menegur meski ekspresi Kamila telah pucat.
Ini semakin menarik. Salah satu yang bisa menghentikan Iaros adalah Kamila.
Dan bisa dibilang hanya itu satu cara yang lembut. Karena cara lainnya, akan sangat brutal dan kasar.
...*...
__ADS_1
"Kakak belum mau ikut campur?" tanya Demeter pada Dios yang berendam di kolam mandinya. "Situasi memanas sekarang. Kakak tidak tertarik semakin memanasi?"
Tawa Dionisos langsung mengalun samar. "Dalam situasi di mana Aether bahkan berpikir membunuh Iaros, aku hanya akan membuat Ibu marah jika ikut campur. Akan kuambil bagian lezat dan gampangnya."
Demeter terkekeh. Alasan Dios santai-santai adalah karena usianya dia di bawah Iaros.
Jadi dia bukan target. Tidak ada hal yang perlu dia pikirkan kecuali menyaksikan pertunjukan menarik.
"Tapi, Kakak, aku tidak ingin pembunuhan terjadi."
"Benarkah? Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin dalam sejarah kita terdapat noda. Kita hidup tanpa cela selama enam generasi, lalu tiba-tiba hanya karena setengah Narendra, kakakku yang mulia harus mati? Jangan bercanda."
Dios menopang dagu. "Kupikir kamu akan bilang 'itu menyenangkan'."
"Akan menyenangkan kalau orang lain. Aku tidak mau Narendra tercela." Demeter mengangkat bahu. "Yah, tapi kurasa Hera akan melobi Paman Orion. Maka sekarang ...."
Dua bersaudara itu saling melempar seringai memahami pikiran satu sama lain.
Pembunuhan untuk hak kuasa itu tercela, bagi Demeter. Tapi memanfaatkan kekacauan sebagai hiburan itu lain cerita.
__ADS_1
Sekarang ... waktunya menambahkan bara agar api menyentuh langit.
...*...