
Helen memasuki ruang kerja Iaros sore hari itu. Meletakkan nampan berisi makanan dan minuman yang lupa Iaros nikmati lantaran sibuk. Mata Helen mengintip apa yang dia baca, dan langsung bisa mengerti hanya dari sampul bukunya.
Dia membaca sejarah jilid rahasia milik Narendra. Buku yang menuliskan segala jenis sejarah kelam mereka, dimulai dari pembantaian Lio Narendra pada Yasa yang menjadi alasan berdirinya Narendra.
Iaros serius mau mengambil alih kursi Aether.
Tapi ....
"Tuan Muda."
Helen tak bisa membiarkannya. Sebab siapa pun yang mati, Helen juga akan mati. Entah dibunuh sebagai istri Iaros atau dibunuh oleh Iaros yang menggilai Kamila.
"Anda sudah menghabiskan dua hari di ruangan ini tanpa beristirahat." Helen mendekatkan secangkir teh hijau. "Tolong setidaknya memerhatikan diri Anda."
Iaros tetap fokus membaca.
Kepalan tangan Helen menguat. Ada sesuatu dalam jiwanya yang membuat Helen ingin menangis. Tapi ia tak tahu caranya.
Anak tanpa nama yang tinggal di bawah tanah sejak baru terlahir hingga Iaros mau menikahinya. Tiap hari, tiap waktu, ia cuma tahu melakukan tiga hal. Hidup dibawah perintah, berlatih, dan mengubur emosinya.
Helen tak tahu rasanya mencintai. Ia juga tak paham apa itu terluka. Ia minum racun, ia dikurung di sebuah ruangan tertutup, bertarung dua belas jam nonstop sampai patah tulang dan tertebas sana-sini, ia kesepian—tapi Helen masih tak tahu apakah itu luka atau itu justru hidup.
Jangan suruh Helen memahami siapa pun. Karena saat ia merasa kerongkongannya sakit akibat emosi tertahan, ia masih tak tahu ada apa.
"Tuan Muda." Helen memberanikan diri menyentuh Iaros di tangannya. "Apa yang harus saya katakan pada Anda?"
Jangan lakukan itu. Segera hentikan permintaan berbahayanya.
__ADS_1
Aku tidak meminta dicintai olehmu, rintih Helen di hatinya. Aku tidak minta dikasihani. SetIdaknya jangan suruh aku bersabar lagi, terluka lagi, karena hidupku ke belakang sudah penuh penderitaan.
Jangan lagi.
"Tidak ada." Iaros menyingkirkan tangan Helen. "Tidak perlu mengatakan apa-apa."
Helen menelan ludah untuk menenangkan hatinya.
"Duduklah, Istriku."
Helen duduk, tapi ada emosi yang sulit ia tahan di hatinya. Membuat Helen berusaha keras tidak terlihat rapuh.
"Aku ingin berbicara dari hati ke hati padamu." Iaros menutup bukunya setelah menempatkan tanda pada halaman tersebut. "Kamu bersedia?"
Jika Helen bersedia, maka kedepan apa pun yang mereka bicarakan, harus dilakukan secara jujur. Sebagai bentuk saling menghormati.
"Lakukan, Tuan Muda."
Iaros menatap wajahnya. "Aku akan membunuhmu jika aku mendapatkan posisi itu."
Sekeras mungkin Helen tidak berekspresi. "Saya tahu."
"Kamu tidak bersalah. Aku tidak menganggapmu bersalah. Aku menganggapmu akan mengganggu apa yang kuinginkan."
Bukan mengganggu dia bersama Kamila, tapi keberadaan Helen akan mengganggu posisi Kamila. Hanya itu alasan Helen mati.
"Kamu tidak ingin mati?"
__ADS_1
Helen menghela napas. Menunduk pada tangannya yang gemetar. Walau begitu, Helen adalah istri Narendra.
Hatinya tak lemah.
"Bisakah saya melukai diri saya? Emosi dalam diri saya sedikit kacau."
Iaros membuka laci, memberikan sebilah belati emas ysng Helen berikan padanya di hari pernikahan mereka sebagai bentuk sumpah.
Diambil benda itu, mencari titik di telapak tangannya yang bisa dirobek tanpa menyentuh urat saraf tertentu. Rasa sakit menyentak Helen. Tapi itu juga sebuah penenang, pengalih agar dirinya ingat apa dirinya ini.
"Terima kasih." Helen mengembalikannya. Mulai tenang saat gaunnya dirembesi darah merah segar. "Mohon maaf, apa yang Anda tanyakan tadi, Tuan Muda?"
Iaros melumuri bekas-bekas darah Helen pada belatinya. "Kamu tidak ingin mati?"
"Kematian saya ditentukan oleh Anda, Tuan Muda. Jika saya tidak memadai, maka saya layak mati."
"Aku menanyakan kemauanmu, bukan apa yang akan kamu lakukan."
Helen meremas lukanya agar semakin terasa sakit. Demi kewarasan. "Saya tidak ingin," jawabnya jujur, sesuai kesepakatan awal.
Dari hati ke hati.
"Saya lelah terluka dan tidak memiliki apa-apa." Helen menipiskan bibir. Ternyata meski sudah mengiris tangan, ia tetap menangis. "Saya berjuang agar bersama Anda."
Apa tidak bisa sekali saja ia tidak terluka? Apa ia diciptakan hanya untuk ini?
Mau tak mau, pertanyaan yang seharusnya tidak ada itu bermunculan.
__ADS_1
...*...