Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
47. Tidak Dapat Memahami


__ADS_3

Tujuh tahun lalu, di usia Iaros yang ke enam belas tahun.


Pendidikan wajib Iaros telah selesai di usia ke lima belas, dan masa menjelang tujuh belas tahun hidupnya, Iaros hanya menghabiskan waktu berpedang seraya mendalami penjelasan mengenai pernikahan.


Iaros remaja sering bertanya-tanya, apa jika dirinya dan Kamila terlahir di tempat yang sepenuhnya berbeda, mereka akan saling menemukan tanpa rasa bersalah?


"Aku kelelahan, Kamila."


Sejujurnya, setiap kali Iaros mengatakan itu, ia tak membahas tentang fisik. Ia mengadu tentang hatinya. Tentang jiwanya yang ditekan oleh keinginan Ibu.


Meski begitu, mesi tidak memahami apa yang Iaros maksudkan, Kamila masih mau tersenyum menyambutnya.


"Maka istirahatkan diri Anda bersama saya, Tuan Muda."


Sekarang dia tak ada. Dia tak mau mengatakan hal semacam itu lagi.


"Kakak." Demeter memecahkan lamunan Iaros begitu saja. "Apa Kakak ingin bebas dari sini?"


Jika Demeter membebaskannya, maka hal satu yang dia mau.


Kesenangan ketika Iaros bebas.


...*...


"Kenapa kamu melakukan ini?"


Kamila memandang Ribia dari balik bulu matanya. Dia diizinkan masuk setelah dua kali meminta izin pada Aether.

__ADS_1


Entah kenapa Kamila tidak terkejut saat Ribia menatapnya penuh kekecewaan.


"Kamu tidur dengan tiga saudaramu."


"Empat." Kamila mengoreksi. "Empat, Nona Muda. Empat Tuan Muda, bukan saudara saya."


"Seluruh Narendra adalah saudara."


"Itu hanya kalimat." Kamila memejam.


Demamnya mulai turun san Kamila sekarang merasa lebih baik. Tapi, untuk menghindari orang-orang yang tidak ia butuhkan dalam rencananya, Kamila akan tetap bersikap seolah ia sakit.


"Saya dan Anda bukan saudara."


Ribia jelas terkejut. Meski dia sendiri tahu bahwa ada perbedaan antara keturunan setengah Narendra dan Narendra murni, baginya semua tetap saudara.


Kamila yang Ribia kenal juga pasti sependapat.


Mungkin Ribia tidak tahu perkataan itu sangat mengusik Kamila.


Baik-baik saja? Baik-baik saja setelah ia dikurung dan ketakutan sendirian? Baik-baik saja ketika ia berharap bebas dari kekangan takdir ini?


"Anda pasti sangat bahagia, Nona Muda."


"Kamila, aku tidak—"


"Agav adalah kekasih yang baik hati." Kamila terbatuk saat berusaha untuk duduk. Namun begitu Ribia mau membantunya, Kamila menepis samar. "Anda dan saya berbeda."

__ADS_1


"Kamila—"


"Seluruh wanita Narendra adalah sama. Ya, tentu saja. Tapi apa Anda akan tetap mengatakan sama ketika saya harus memanggil Anda nona padahal katanya kita berdua sama? Tidak. Karena kita berbeda."


"...."


"Apa saya merasa iri? Apa saya merasa tertekan? Entahlah, Nona. Bagaimana Nona mendefinisikan perasaan di mana Nona berharap tidak lahir di tempat itu, namun setiap hari Anda terbangun di tempat yang sama? Tempat menjijikan dan menakutkan?"


Ribia tak mampu membalas.


Mulutnya kaku melihat Kamila terengah-engah lagi, sebuah reaksi spontan dari traumanya.


"Saya tidak membicarakan perasaan saya terhadap Tuan Muda. Atau dosa saya meniduri empat Tuan Muda beristri. Saya membicarakan apa yang saya alami namun tidak Anda alami dan Anda berkata Anda mengerti."


"...."


"Sangat mudah bagi Anda." Kepala Kamila terasa sakit. Sebuah bayangan menyusup masuk ke kepalanya. Membuat perasaan sakit terasa tertusuk.


Bau darah pekat, kegelapan malam, suara jeritan Lily; kenapa semua itu terasa asing namun ia kenali?


"Saya hanya ingin melakukan sesuatu." Kamila menggigil oleh tangisannya. "Saya hanya ingin melakukan sesuatu sebagai manusia. Bukan boneka yang terbangun kapan saya diminta, tidur kapan saya dijadwalkan, lalu duduk diam menunggu saya diperintah. Apa Anda mengalaminya? Apa Anda memahaminya? Benarkah, Nona?"


"Aku ...." Ribia menelan ludah. "Aku hanya ...."


"Satu-satunya yang bisa saya harapkan hanya saya menikah, lalu punya anak. Apa itu menyenangkan? Saya tidak tahu. Tapi saya harus mengharapkan apa lagi jika bukan itu?"


"Kamila."

__ADS_1


"Saya sudah mengharapkan agar saya tidak terlahir, tapi saya terbangun setiap hari dan terus hidup hingga saya gila. Saya pun sudah berharap dunia segera berakhir, tapi matahari dan bulan selalu terlihat siang dan malam. Beritahu saya Nona, apa itu perasaan yang dapat Anda pahami?"


...*...


__ADS_2