Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
40. Jangan Lari


__ADS_3

Kamila menatap sekitarannya serupa orang hutan yang baru pertama kali melihat keramaian pasar.


Lampu-lampu bertebaran di seluruh sudut jalan. Suara percakapan dengan bahasa asing terdengar khas. Berbagai aroma makanan tercium, dan terselip tawa bersama umpatan entah dari mana asalnya.


Keringat di wajah Kamila bercucuran. Ia tersenyum tetapi menangis menginjakkan kaki telanjangnya pada jalanan.


Tak tahu ke mana ia harus melangkah. Kamila hanya ingin berjalan, menatap sebuah ruang luas dipadati manusia tanpa harus menemukan sebuah tembok raksasa atau sebuah kastil yang merupakan kurungan.


Indah.


"Nona, saya diperintahkan untuk meninggalkan Nona di sini. Seseorang akan datang menjemput Nona, jadi tolong jaga diri Anda."


Kamila tak mendengar ucapan Maria. Kakinya terus melangkah hingga lebih cepat sebelum tiba-tiba ia berlari.


Bebas.


Semuanya bebas.


Tidak ada rantai.


Tidak ada belenggu.


Tidak ada kemarahan.


Tidak ada apa pun selain rasa lepas.


Tapi ....


"Berlari terlalu jauh akan membuatmu tak sadar tenggelam dalam laut." Halusinasi itu tetap ada di tengah keramaian. "Bukankah lari membuatmu meninggalkan hal yang paling penting dalam hidupmu?"


Iaros.


Jika Kamila berlari, maka ia akan meninggalkan Iaros.


Jika Kamila meninggalkan Iaros, maka siapa yang akan menangani dendam ini?


...*...


Perasaan Iaros sangat tidak nyaman. Mengapa tiba-tiba seluruh pengawal terbaik saudara dan saudarinya turun, berkeliaran di sekitar tempat ini?

__ADS_1


Bahkan jika Aether berusaha keras mencari, harusnya masih ada waktu sampai mereka benar-benar menemukan Iaros.


Ada yang ganjal. Perasaan terjebak ini membuat Iaros tak bisa tenang.


Ada sesuatu yang ia lewatkan.


Iaros memutuskan untuk kembali. Meski diluar rencana, lebih baik sekarang ia membawa Kamila pergi.


"Kamila, bangun dan persiapkan—" Iaros mematung bersamaan dengan seluruh lantai terbuka.


Kotak kosong yang menjadi kurungan Kamila kini sungguhan menjadi kosong, tanpa kehadiran siapa pun, kecuali sisa-sisa belenggu dan rantainya.


Rasa tak percaya menbuat Iaros melompat. Meraih belenggu itu dan mencium aroma Kamila masih tersisa kuat.


Tidak mungkin Kamila yang lemah bisa kabur. Dan rantai ini tidak dihancurkan tapi dilepas dengan kunci.


Satu-satunya yang memegang kunci darurat hanya ....


Maria. Iaros menggeram buas.


Berlari mengikuti jejak Kamila dan bersumpah akan menguliti Maria jika ujung rambutnya terlihat oleh Iaros.


Beraninya budak itu menentang tuannya.


...*...


Tapi halusinasi itu mengikutinya seperti hantu. "Apa yang bisa kamu lakukan di negeri yang tidak kamu kenali ini?"


"Aku tidak tahu tapi aku ingin bebas."


"Kebebasan. Apa kamu memahaminya, Kamila?"


Tentu saja.


Tentu saja ia memahaminya.


Seumur hidup terkurung dalam kastil, menjadi rapunzel yang tidak boleh melihat apa pun kecuali apa yang terlihat dari jendela, dilarang berharap apa pun kecuali apa yang diperbolehkan; Kamila sangat memahami arti kebebasan.


Lepas dari segalanya.

__ADS_1


Berlari sesuka hatinya.


Pergi ke tempat yang ia mau dan melakukan apa yang ia sukai.


"Lalu menyesal tidak membalas Iaros?"


Langkah Kamila terhenti.


"Pergi menikmati hidupmu sambil memikirkan Iaros dan Iaros?"


Kamila menatap sekitaran. Entah kenapa kini terlihat jelas bahwa seluruh ruang memang asing.


Bahasa yang tidak ia mengerti—karena satu-satunya bahasa lain yang ia kuasai adalah bahasa Inggris—pakaian-pakaian yang tidak ia kenali, aroma asing, suasana asing.


Tidak ada satupun yang ia tahu.


"Nona!"


Kamila tersentak. Pucat pasi melihat hal yang ia kenali di antara seluruh benda asing itu, namun hanya ketakutan.


"Nona Kamila—"


"Jangan mendekat!" Kamila berlari kencang. "Menjauh dariku! Aku tidak mau terkurung lagi!"


"Nona!"


Tidak. Tidak boleh. Jika Tuhan sungguhan ada, maka ini adalah sesuatu yang Dia berikan pada Kamila.


Ia harus lari.


Ia harus bebas dari cengkraman Narendra agar bisa hidup sebagai manusia.


"Jangan lari." Halusinasi itu memaksa Kamila berhenti. "Kembalilah, Kamila."


"Untuk terkurung?!" Tak peduli ia menjadi orang gila di tengah orang asing sekitarannya, Kamila berteriak pada imajinasinya sendiri. "Aku berlari sejauh ini dan harus kembali hanya demi itu?!"


Tapi sosok itu datang, memaksa Kamila untuk melihat ke sebuah arah.


Di ujung sana, Iaros berdiri, memegangi belenggu Kamila dengan tatapan siap memusnahkan semua orang.

__ADS_1


"Kamila."


...*...


__ADS_2