Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
61. Ancaman


__ADS_3

Kadang-kadang, kekuatan seorang Narenfra bukan dinilai dari kedudukan status, namun kemampuannya secara individual.


Ribia, Lily, bahkan Hera tidak boleh memasuki kamar Kamila tanpa seizin Aether dan Hefaistos, tapi itu tidak berlaku bagi Demeter.


Saat dia mengatakan ingin masuk, dia masuk.


"Nona."


"Aku mengganggumu sebentar." Demeter duduk, mengibaskan tangan samar agar seluruh pelayan pergi. "Layani aku, Kamila."


Kamila menuangkan minuman hangat ke cangkir menggantikan pelayan. Diam berdiri, tak duduk sebab Demeter tak memberinya isyarat duduk.


Anak ini berbeda.


Dia adalah Lissa Makaria Narendra generasi sekarang. Dia tak punya kebaikan, atau keramahan, atau toleransi.


"Aku ingin berbasa-basi sedikit denganmu, tapi aku sedang tidak bisa memikirkan apa itu." Demeter menopang dagu. Memandangi Kamila yang berdiri di samping meja. "Bisakah aku langsung mengatakan apa maksud kedatanganku?"


"Ya, Nona."


"Kalau begitu ... aku akan mengatakan: aku tersinggung pada perbuatanmu."


Perbuatan? Perbuatan yang mana?


Kamila tidur dengan Aether? Atau Kamila dibawa kabur? Atau Kamila dan Iaros saling mencintai hingga situasi keluarga ini jadi seperti sekarang? Yang mana?


Kamila berusaha keras untuk tahu karena Demeter jelas mau ia tahu.

__ADS_1


"Kamu tidak membalas?"


Jantung Kamila rasanya turun ke perut. Dia tahu Kamila panik dan dia mendesak.


"Maafkan saya."


"Atas?"


Kamila menahan dirinya tidak menangis. Pada akhirnya ia masih lemah. Tanpa ada Aether, Hefaistos juga Zefirus, Kamila bahkan tidak bisa membalas seorang gadis yang usianya masih belasan tahun.


"Kamila." Demeter mengisyaratkan Kamila duduk. "Apa kamu ingin mengotori sejarah keluarga kami?"


Tatapan Kamila mendadak kosong.


Kami? Bukan kita, kami?


Cuma ada satu golongan selain Narendra yang berada di kastil Narendra. Golongan budak. Pelayan.


"Jika permintaan Kakak Iaros diterima, dan kemungkinan diterima, kamu akan jadi penyebab. Semua orang tahu. Dan orang yang akan menanggungnya ... adalah anak Lily."


Napas Kamila semakin memburu. Demeter benar. Kamila jelas akan tersiksa, tapi yang paling akan menanggung kebencian Narendra adakah keturunan Lily.


"Aku memiliki sebuah tawaran. Kamu mau mendengarnya?" tanya Demeter lagi. "Redam Kakak. Buat dia menarik permintaannya. Normalnya sesuatu yang sudah dikatakan tidak boleh ditarik lagi, tapi situasi berbeda. Ini tentang sejarah keluarga Narendra dan kedamaian kita bersama. Jika Kakak menarik permintaannya, Paman juga tidak akan mempermasalahkan."


Kamila memejamkan mata erat-erat.


Rayu Iaros, adalah apa yang Demeter katakan.

__ADS_1


Kembali padanya. Turuti kemauannya. Jadi boneka atau terkurung atau apa pun, asal pembunuhan tidak terjadi.


"Kamila, ada satu hal yang aku ingin kamu menjawabnya." Demeter tak membiarkan Kamila berpikir terlalu lama. "Kamu ... membenci dirimu?"


Tapi Kamila tidak bisa menjawabnya.


Sebab jawabannya sudah terlalu jelas.


Iya. Tidak ada apa pun yang Kamila benci melebihi ia benci dirinya sendiri.


"Jawabanmu?"


Bibir Kamila bergetar. Lalu menggeleng tak sanggup.


Demeter beranjak. Tertawa kecil saat menatapnya penuh iba. "Ketidakmampuanmu menjawab adalah cerminan dirimu. Aku tahu siapa yang menginspirasimu saat merayu Kakak Aether. Leluhur Lissa, benar?"


"...."


"Kamu tidak akan pernah jadi beliau, Kamila. Tidak akan. Kamu tahu kenapa?"


"...."


"Karena kamu membenci dirimu. Sesederhana itu."


Gadis muda itu berlalu, tak menyentuh teh yang dia minta, tapi meninggalkan Kamila menangis sendirian.


Demeter mengancam. Kedatanganya adalah pesan. Jika Kamila tidak bergerak, maka dia akan memastikan seluruh tanggung jawab dilimpahkan pada Kamila.

__ADS_1


*


__ADS_2