
Aether mengetuk-ngetuk ujung telunjuknya pada meja ketika semua orang yang terhitung senior di generasi mereka berkumpul atas panggilan tiba-tiba malam ini.
Tepat setelah mereka semua duduk, tanpa mengambil waktu, Aether langsung mengatakan persoalannya.
"Apa yang harus kulakukan mengenai perbuatan adikku malam ini?"
Iaros ataupun Dios tidak ada di sana karena terhitung masih di bawah umur—di bawah usia dua puluh lima tahun. Jadi yang merespons pertama kali adalah saudara sepupu Aether sekaligus orang yang berusia sama dengannya, namun lebih muda beberapa bulan.
Tuan Muda Kedua, Hefaistos.
"Pada dasarnya hubungan terlarang bukan pembahasan baru di keluarga ini." Dia menopang dagu. "Jika Iaros hanya mau bermain-main, biarkan saja."
"Apa bagimu itu permainan ketika dia terang-terangan merendahkan istrinya di depan semua orang? Apa yang Ayah katakan kalau tahu hal ini? Dia dieksekusi?"
"Yah, kurasa Iaros memang agak keterlaluan." Adiknya yang lain membalas. "Tapi bagaimana dengan Kamila? Dia tidak terlihat sedang dipaksa saat berjalan dengan Iaros."
"Kalau begitu pisahkan mereka secara paksa sebelum kembali." Nereus menimpali. "Kurung Kamila dengan otoritasmu. Dia mungkin hanya korban permainan Iaros, tapi lebih mudah membuat alasan mengurungnya daripada mengurung Iaros."
Aether langsung menoleh atas saran itu.
Kamila jelas akan terluka kalau dikurung di masa liburan ini. Aether memikirkannya dengan serius. Tapi jika mengurangi interaksi mereka, kemungkinan Iaros akan ....
"Membuat Kamila membencinya kurasa jauh lebih masuk akal." Tiba-tiba, Zefirus memberi saran. "Tidak perlu bertindak terlalu gegabah. Lihat saja dulu sejauh apa perbuatan Iaros. Jika kebencian Kamila padanya justru membuat Iaros menggila pada Kamila, maka sudah jelas siapa sumber masalahnya."
*
__ADS_1
Kamila berdiri diam melihat kilas balik masa lalu dalam mimpinya.
Itu adalah saat mereka masih sama-sama berusia di bawah sepuluh tahun. Tepatnya Iaros berusia sembilan, dan Kamila tujuh tahun.
Hari itu kaki Kamila terluka karena bermain kejar-kejaran dengan Iaros. Ia bermaksud mencapai Iaros yang berlari sangat kencang, tapi justru membuat Kamila tersandung, lalu menangis terisak-isak.
Sambil tertawa, Iaros datang menggendongnya ke sisi kastil. Lalu berjongkok mengobati luka Kamila.
"Kamila sangat mudah menangis sejak dulu."
Gadis kecil itu tambah menangis karena berpikir diejek. "Ma-maaf, Tuan Muda, hiks."
Iaros malah menyengir. Datang memeluknya. "Tapi aku menyukai Kamila yang cengeng. Tidak apa jika Kamila menangis. Aku akan melindungi Kamila sampai dewasa nanti."
"Benarkah?" Kamila mendongak. "Sampai menikah?"
Harusnya aku tidak tertawa dulu. Kamila menatap miris dirinya yang terhibur oleh perkataan Iaros, lalu sekarang cuma bisa mengingat semua dengan menyedihkan.
Hatinya sakit.
Ia lelah.
Ia lelah.
Kemarin rasanya ia sangat ingin bersama Iaros, tapi sekarang dirinya tidak boleh berharap atau menghancurkan hidup Iaros dan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tuan Muda." Karena itu, Kamila berharap ini berakhir. "Ayo berpisah."
Iaros yang duduk di samping kasurnya menunggui Kamila bangun langsung tersentak kaget. "Kamila—"
"Saya ... ingin melepaskan Anda."
Kamila tidak menangis. Meski seluruh tubuhnya menggigil oleh rasa ingin menangis.
"Saya sudah lelah. Tolong akhiri ini saja. Tolong. Saya mohon. Tidak perlu lagi mengatakan sesuatu seperti mencintai saya atau tidak bisa hidup tanpa saya. Anda tahu itu kebohongan. Anda tahu itu hanya permainan. Jadi tolong pergi. Saya mohon."
Tatapan Iaros mendadak kosong.
Kenapa sejak dulu dia selalu membuat Iaros mencintainya, tak berdaya olehnya, lalu mendorong Iaros sambil berkata itu menjijikan?
"Kamu benar. Ini memang melelahkan." Dia mengulurkan tangan, tapi berhenti di udara, tak menyentuh Kamila. "Cintamu dan milikku memang tidak suci."
Kamila membuang muka.
"Ini hanya permainan. Permainan kita berdua terhadap diri kita sendiri."
Ketika Kamila yakin dia akhirnya memahami bahwa hubungan mereka seharusnya berakhir, sesuatu tiba-tiba menusuknya, diiringi oleh tatapan kosong Iaros sekali kagi.
"Tapi tidak, Kamila." Iaros menangkap tubuhnya yang lunglai akibat obat bius. "Permainanku dan kamu belum dimulai selama kamu melupakan semuanya."
Pandangan Kamila memburam, perlahan-lahan berubah gelap, bersama dengan sebaris bisikan Iaros di bibirnya.
__ADS_1
"Tidurlah dan jangan ingat apa pun."
*