
Setelah beberapa lama diam memikirkan cara, hari ini Hera secara langsung menemui ayah dan ibu mertuanya. Tentu saja, rencana Hera adalah menggagalkan permintaan Iaros yang dapat memicu kekacauan.
Tapi karena Hera harus punya alasan masuk akal selain keinginan berdamai, maka Hera butuh waktu sampai hari ini.
Di ruang kerja pemimpin keluarga utama, Hera duduk di sofa, berseberangan dengan Orion dan Tethia.
"Mohon maafkan kelancangan saya meminta waktu berharga Anda, Ayah, Ibu." Hera membuka dengan sopan, sebagai bentuk penghormatan juga tentu strategi. "Bagaimanapun, saya rasa saya pun harus berbicara mengenai hal ini. Jika Anda mengizinkan, tentunya."
Orion menyesap teh herbal nya tenang. "Katakan."
"Baik. Saya akan berusaha mempersingkat." Hera mengangguk formal. "Secara jujur, tentunya saya datang untuk meminta Anda tidak menerima permintaan Tuan Muda Iaros."
Tethia nampaknya mengamati Hera. "Alasanmu?"
"Alasan paling utama, tentunya adalah alasan pribadi, Ibu. Saya tidak ingin menyusahkan Tuan Muda saya."
Orion menopang dagunya dengan kepalan tangan, jelas tak mau mendengar hal yang sudah jelas begitu. "Jika kamu sampai datang meminta, saya rasa kamu sudah menyiapkan alasan yang cukup bagus. Katakan, Anakku."
"Tolong maafkan saya jika perkataan ini lancang." Hera tersenyum teduh. "Bukankah Anda sudah tahu alasan Tuan Muda Iaros meminta adalah karena Nona Muda Kamila?"
Itu adalah dasar. Meskipun nampaknya Aether terlalu fokus pada tindakan Iaros sampai mengabaikan pertimbangan bahwa ayahnya sudah tahu, tapi Hera tidak.
Lagipula biarpun Orion tidak menyadarinya karena fokus mengerjakan tugas sebagai kepala keluarga, kepala rumah tangga alias Tethia mana mungkin melewatkan informasi.
Hubungan Iaros dan Kamila telah berlangsung sejak lama. Tethia mungkin sudah tahu sejak Iaros menolak menikah di usia ke tujuh belas.
__ADS_1
"Ayah, Ibu." Hera menatap keduanya sopan tapi tak mengendurkan sikap percaya diri. "Saya tidak menganggap alasan 'mencintai' seorang wanita adalah ambisi kuat memimpin keluarga. Saya tidak menganggap Tuan Muda Iaros layak menggantikan Tuan Muda saya."
Tethia mendengkus. "Mungkin itu benar."
Ibu mertuanya bukan lawan yang mudah.
"Tapi Iaros adalah Narendra. Jika dia memenangkan perebutan hak kuasa, maka dia membuktikan dia mampu. Kamu tidak berpikir begitu, Putriku?"
Hera terkekeh. "Tentu saya juga berpikir demikian."
Tentu saja tidak. Aether mana mungkin kalah oleh anak kecil yang terlalu terlena oleh hormon sampai gila.
"Apa Ibu berpikir itu bukan ide yang buruk?"
Jadi Tethia mau Aether membunuh Iaros untuk meninggalkan kesan 'siapa yang berani melakukan hal serupa nasibnya akan sama?'. Ibu mertuanya sangat keras. Hera jadi terpesona.
"Saya bukan tidak mempertimbangkan hal sama, Ibu. Ibu benar." Hera beralih pada Orion. "Alasan saya menolak adalah istri Tuan Muda Iaros tidak akan mumpuni dalam mengemban tanggung jawab tersebut."
Orion memicing. "Itu benar."
"Tuan Muda Iaros memicu pemberontakan karena keinginannya pada Nona Kamila yang terhalangi oleh peraturan keluarga. Jika Tuan Muda Iaros memimpin keluarga, maka pilihan wanita beliau untuk sekarang adalah Helen dan Nona Muda Kamila. Apa Anda berpikir mereka berdua dapat menggantikan tempat Anda, Ibu?"
Tethia terkekeh. "Jadi begitu. Begitu maksudmu."
Sesuai harapan dari Tethia. Dia menyadari kalau hari ini Hera tidak benar-benar datang untuk meminta pembatalan, melainkan mengulur waktu juga mencari informasi.
__ADS_1
Sekarang Hera sudah tahu kalau Tethia mempertimbangkan persetujuan rencana Iaros untuk Aether dan Orion nampaknya masih mencari-cari apa alasan menolak. Dengan kata lain, sekitar tujuh puluh persen atau lebih, permintaan Iaros akan disetujui meski semua risiko mengikuti.
Dan ... Hera jadi paham bahwa permintaannya ditolak. Meski Hera memang sengaja tidak mengeluarkan alasan yang cukup bisa diterima.
"Istri pemimpin keluarga bisa diganti kapan itu diperlukan." Orion mengatakan sesuai perkiraan Hera. "Alasan istri Iaros tidak mumpuni tidak sebanding dengan permintaan Iaros, Hera."
Hera mengangguk menerima, lalu pamit setelahnya.
Begitu ia keluar dari ruangan, ekspresi Hera yang tadinya ramah mendadak dingin.
Ini berbahaya, pikir Hera sekarang.
Tethia cukup percaya bahwa Aether tidak mungkin akan digulingkan oleh Iaros. Tapi, nampaknya ada pertimbangan bahwa Iaros bisa memimpin Narendra.
Bukan karena Iaros, melainkan karena 'wanita' yang mendampingi Iaros.
Para tetua ... mempertimbangkan Demeter yang berada di belakang Iaros.
Siapa pun istrinya terserah, kah? Hera rasanya mau tertawa. Ibu tahu Demeter sangat menyukai Narendra. Terlepas dari Demeter juga tidak mau pembunuhan antar saudara terjadi, jika nanti Iaros benar-benar memimpin, maka Demeter pasti akan bergerak di belakang Iaros.
Jika Demeter dengar hal ini, kemungkinan dia akan berubah pikiran. Karena Demeter ... tidak pernah menyukai kepemimpinan yang tidak dia sukai.
Tapi di sisi lain, Hera jadi bisa mengerucut alasan penolakan sebenarnya.
*
__ADS_1