
Helen hanya duduk diam memandangi Iaros. Setelah pembicaraan mereka kemarin, pria itu hanya diam. Namun diamnya berbeda dari saat dia berpikir melakukan hal gila.
Nampaknya dia diam karena merenungi Kamila. Merenungi apa yang dia dapatian dari memperjuangkan Kamila, menginginkan Kamila selama bertahun-tahun tapi pada akhirnya tak mendapatkan apa pun hingga akhir.
Iaros pasti benar-benar bodoh jika dia masih tidak menyadari betapa kosong tangannya yang bertahun-tahun berusaha menggenggam Kamila.
Jika dia masih berpikir Kamila adalah cinta sejatinya, maka kebodohan itu mungkin sudah tidak dapat ditolong oleh siapa pun lagi.
"Ekspresi yang bagus untuk ukuran pria seperti Kakak."
Helen mendongak pada Demeter yang datang setelah beberapa waktu tidak menemui Iaros. Gadis itu melirik Helen sekilas, lalu masuk mendekati Iaros.
"Apa yang sedang Kakak pikirkan?" tanya Demeter, mengusap-usap wajah Iaros. "Kakak tidak mau bicara padaku?"
"...."
"Aku datang mengejek Kakak. Sungguh, aku ingin menertawakan Kakak. Tapi Kakak harus tahu bahwa Kakak salah satu boneka kesayanganku."
Demeter mengarahkan wajah Iaros padanya, mengecup bibir pria itu.
"Bisakah Kakak berjanji untuk patuh? Aku akan mengakhiri kekonyolan ini jika Kakak bersedia."
Di situasi sekarang, Demeter memang bisa mengakhiri semuanya. Ketika Orion dan para tetua menganggap justru keberadaan Demeter yang penting bagi pemimpin Narendra selanjutnya, mudah bagi Demeter membolak-balik keadaan.
Gadis kecil itu pun tak pernah ragu bertindak. Dia bisa meminta semua kakaknya dibunuh untuk kesejahtraan Narendra, dia pun bisa menghentikan pembunuhan itu demi sejahtera Narendra.
__ADS_1
Iaros pasti tahu. Helen rasa tidak ada gunanya lagi memberontak dari Demeter.
"Demeter," gumam Iaros lemah.
Senyum Demeter terulas manis saat merasa Iaros sudah sangat putus asa untuk melawan.
"Kamu tidak mencintai siapa pun yang kamu miliki sekarang. Kurasa itu karena ibuku."
Demeter terkekeh. "Cinta hanya emosi, Kakak. Aku anak Narendra, bukan istri Narendra. Aku tidak perlu mencintai siapa pun kecuali diriku sendiri."
"Kamu benar."
"Aku tahu."
Helen bisa melihat perubahan ekspresi Demeter. Sebenarnya Helen pun bertanya-tanya mengapa Iaros begitu keras kepala.
Memberi Demeter apa yang dia inginkan setidaknya bisa menghentikan kekonyolan ini. Kenapa dia terus menolak dan memuntahkan omong kosong?
"Kakak akan menyesalinya."
"Tidak. Aku tidak menyesalinya." Iaros memanjangkan tubuhnya ke wajah Demeter, menatap lekat-lekat gadis cantik berhati iblis itu. "Sayangnya aku pria yang lebih terangsang pada wanita lemah menjijikan seperti Kamila daripada kamu. Aku bukan Dionisos atau Ares, Adikku. Terima itu."
"...."
Iaros tertawa kecil. Tak peduli jika tulang rusuknya sakit, pria itu tetap membiarkan tubuhnya diguncang oleh tawa.
__ADS_1
"Aku memang konyol. Mencintai gadis sialan itu tanpa mendapat apa pun. Kamu tahu? Aku mencintainya sejak dulu. Sejak kami masih sangat kekanakan. Tapi dia menolakku, dia mengabaikanku, membuatku jadi monster sampai aku mempermalukan diri sendiri."
Demeter menatapnya dingin.
"Tapi kurasa kamu juga mulai konyol. Bahkan Euribia tahu kamu menjadi gila karena hal itu. Kamu ingin aku terobsesi padamu seperti Dionisos dan Ares. Maafkan aku, Manisku. Dadamu tidak semenggemaskan dada p*lacur cantikku."
Helen yang merasa tegang akan hal itu.
Pikirnya Demeter akan mengamuk karena penolakan Iaros, tapi seperti biasa, dia mementingkan harga dirinya ketimbang kemarahannya sendiri.
Demeter beranjak, berbalik pergi tanpa suara.
"Istriku."
Panggilan Iaros membuat Helen tersentak. Buru-buru beranjak mendekati karena berpikir lukanya mungkin terasa sakit.
"Di sini, Tuan Muda."
"Beritahu Aether, aku ingin melakukan pertemuan terakhir dengan saudara-saudaraku."
"Tuan Muda—"
"Sekarang."
*
__ADS_1