Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
36. Masih Menjadi Budak


__ADS_3

"Aku merasa Dios bertingkah aneh belakangan."


Aether tetap fokus menyodok bola incarannya di atas meja biliard. Bersama dengan suara bola berwarna masuk ke lubang, Aether berdiri tegak dan menoleh. Melihat Deimos mengambil gelas minumannya tanpa permisi.


"Apa maksudmu?"


"Kamu tahu bagaimana anak itu dan Iaros bermusuhan." Adik sepupunya itu datang, meminta tongkat dari Aether agar bisa ikut bermain. "Jika aku jadi dia, justru aku yang paling semangat mencari Iaros agar Paman menamparnya keras-keras atau mungkin membunuh Iaros. Tapi sepertinya dia hanya diam."


"Dios memang mengurusi Iaros, tapi dia lebih suka membuka lubang dub*r pelayan." Aether bergerak menuangkan minuman sementara Deimos membidik bola. "Kenapa dia harus menyia-nyiakan waktu liburannya hanya demi permusuhan tidak berdasar?"


"Itulah kelemahanmu, Kakak," balas Deimos mengejek. "Kamu terlalu berdamai dengan semua orang hingga tak paham rasanya membenci saudaramu."


"Katakan saja langsung."


"Istri-istri Dios belakangan sering bersama Helen." Deimos mengangkat bahu. "Dan secara kebetulan Helen belakangan jadi sering bersama Euribia."


Kening Aether berkerut. Ia langsung ingat kalau Ribia dan Kamila memang memiliki hubungan khusus dalam arti bersahabat. Tapi Aether juga bukan orang bodoh. Jika Deimos bersikeras mengatakan ada sesuatu, paling tidak anak itu merasakannya.


Maka pagi hari Aether tak menunggu waktu memanggil Ribia, ditemani Hefaistos.


"Tidak biasanya kamu tertarik." Aether melirik saudara sepupunya itu curiga. "Ada apa?"


"Aku hanya memikirkan alasan Iaros sampai mempermalukan dirinya sendiri."


"Lalu?"


"Jika memikirkannya ulang," Hefaistos menopang dagu malas, "bukankah peraturan dalam Narendra sudah terlalu membosankan?"


Tatapan Aether berubah dingin. "Apa kalimatmu barusan adalah penghinaan bagi keluarga kita?"


"Alasan mengapa Kamila yang dulu tidak dibiarkan hamil anak Narendra adalah karena ayahnya dan ayah para Narendra sama." Hefaistos menggoyangkan gelas minumannya dan semakin terlihat bosan. "Masa itu, keturunan Narendra hanya berasal dari satu orang. Hanya Trika Narendra dan Luka Narendra. Sementara sekarang, kita sudah memiliki sangat banyak Narendra yang berkembang. Apa menurutmu darah Narendra dalam diri Kamila sekarang masih kental?"


"Apa yang coba kamu katakan?"


"Aku menganggap setengah Narendra sebenarnya bukan Narendra lagi."


Aether terbungkam.

__ADS_1


"Kamila yang dulu adalah setengah Narendra yang tidak menyandang nama Narendra. Lalu dia hamil anak pengawalnya yang sama sekali bukan Narendra, jelas. Lalu anak Kamila hamil anak pengawal dan kembali terulang sampai enam generasi. Apa menurutmu masih tersisa darah Luka Narendra di sana?"


"Lalu?"


"Jika ingin menyelesaikan konflik ini, hilangkan saja setengah Narendra. Nikahkan Kamila dan Iaros lalu Lily dengan entah siapa pun di antara kita."


"Menurutmu menghilangkan ketentuan enam grnerasi semudah itu?"


"Lalu, kamu ingin kejadian ini terulang karena cinta terlarang antar Narendra murni dan setengah Narendra?"


Kepala Aether pening. Padahal masih pagi dan ia belum kekurangan air. Apalagi ketika Ribia datang dengan ekspresi mencurigakan di wajahnya.


"Akan langsung kutanyakan. Adikku, kamu tahu di mana Iaros dan Kamila?"


Ribia mengalihkan mata. "Tidak, Kakak."


Dia payah berbohong.


"Euribia."


"Apa kamu ingin melihat Narendra dieksekusi secara tidak terhormat karena alasan konyol semacam ini?"


Jelas saja Ribia menelan ludah. Jika Aether sudah mengancam, ujung darinya pasti tidak baik.


"Tapi—"


"Jika aku mengobrak-abrik Korea dan menemukan mereka berdua, bahkan jika Kamila adalah korban, akan kupatahkan kakinya."


Mulut Ribia langsung terkatup. Wajahnya pucat melihat Aether berusaha keras tidak menunjukkan kemarahan.


"Di mana mereka?"


*


Kamila berbaring menatap belenggu di tangannya yang terasa semakin menyesakkan. Kepalanya terus terasa sakit. Sakit sampai Kamila lelah dan ingin kepalanya terlepas dari tubuh ini jika itu menghentikan sakitnya.


"Menurutmu, Iaros mencintaimu?"

__ADS_1


"...."


"Menurutku, Iaros hanya menjadikanmu pelampiasan."


Tangan Kamila terkepal di antara rasa nyeri pergelangannya. Perkataan Dios masih terasa jelas di benaknya. Dan Kamila tidak bisa menghentikan rasa muak itu datang setelah Iaros meninggalkannya tergolek telanjang.


"Aku selalu merindukanmu." Itu yang dia katakan, tersenyum dengan wajah lembut, menyaksikan Kamila tak berdaya dalam dekapannya, meremas tubuh Kamila seolah-olah itu miliknya. "Aku selalu merindukan rasa tubuhmu, Kamila."


Lalu setelah itu dia pergi, menutup atap, menutup seluruh akses Kamila melihat sesuatu selain tembok putih dan pintu baja.


"Bukankah sudah kubilang kamulah tuannya?" Halusinasi itu datang lagi. Duduk di samping Kamila, tersenyum seolah-olah dia bebas dan begitu lepas. "Kamu masih bertingkah seperti budaknya, karena itulah dia memperlakukanmu seperti budak."


Kamila hanya diam.


"Apa kamu ingat, hari dia melecehkanmu?"


Mata Kamila langsung bergerak menatap halusinasinya.


Melecehkan. Kata itu asing namun terasa familier.


"Ingatlah, Kamila. Apa benar ini pertama kali dia melakukan ini padamu?"


Apa Kamila menjadi gila karena kesendirian ini? Ia ingat betul pertama kali melakukannya dengan Iaros adalah beberapa hari kemarin, di kamar itu. Darahnya bahkan ada, jadi kenapa—


"Apa yang Anda lakukan, Tuan Muda?"


"Apa aku tidak boleh menyentuhmu?"


"Tapi Anda—"


"Ssshhh, kamu menggemaskan."


Kamila tersekat. Spontan memeluk dirinya sendiri saat bayangan tangan Iaros di dadanya terasa sangat nyata. Tapi, tubuh Kamila tersengat seolah itu bukan hanya bayangan.


Ia tak ingat itu. Ia tak ingat sebuah kejadian di mana ia berusaha diam padahal risi, menerima ciuman Iaros yang menyentuh tubuhnya terlalu jauh.


*

__ADS_1


__ADS_2