Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
37. Aku Tidak Suka


__ADS_3

"Kamila." Iaros menepuk-nepuk pipi Kamila lembut. Memaksanya untuk keluar dari dunia mimpi. "Kamila, bangunlah."


Panggilan itu mengusik Kamila. Terbangun hanya untuk menemukan ruangannya dipenuhi oleh bunga-bunga berwarna pink keunguan. "Ini ...."


Iaros merangkai senyum. Mengecup kening Kamila dan memeluknya. "Azalea. Ada banyak di sekitaran tempat ini, jadi kupikir kamu akan menyukainya."


Mata Kamila terpaku melihat semuanya. Bunga itu benar-benar memenuhi seluruh sudut ruangan. Membuat Kamila tertarik untuk turun, menyeret rantai di belakang tubuhnya untuk bisa mencapai bunga terdekat.


Kamila berjongkok. Menyentuh permukaan nyata bunga setelah sekian lama rasanya hanya melihat ruangan putih dan besi silver.


Sulit untuk Kamila tidak tersenyum lega.


Akhirnya.


Akhirnya ada warna.


"Mereka hidup." Kamila membenamkan wajahnya pada kelopak kecil bunga tersebut. "Mereka hidup."


"Kamu menyukainya?"


Kamila terduduk. Membiarkan seluruh kulitnya menyentuh bunga-bunga yang sungguh terasa nyata itu.


Pikir Kamila ia mulai gila. Rasanya sudah sangat muak terkurung di sini. Jauh lebih buruk daripada terkurung di kastil, karena rumput pun tak dapat ia lihat.


"Maafkan aku, Kamila." Iaros ikut duduk, mengangkangkan kakinya di antara Kamila. "Aku akan membawa lebih banyak bunga padamu. Katakan saja kamu ingin apa."


Kamila membiarkan tubuhnya jatuh ke pelukan Iaros. Merasa tiba-tiba lemah saking senangnya.


"Aku juga menyiapkan sesuatu yang lain." Iaros menoleh ke arah tembok. Dia menjentikkan jari, membuat ruangan seketika gelap, disusul munculnya proyeksi lautan luas yang berombak. "Aku tidak bisa membawamu keluar, tapi aku bisa membawa lautan ke tempat ini."

__ADS_1


"Pfft."


Kamila tersentak. Sosok imajinasinya muncul dan tertawa menyaksikan proyeksi itu.


"Lihatlah, Kamila. Lautan begitu luas dan indah." Sosok itu menatapnya penuh kesan menertawakan. "Lihatlah lautan itu muncul di tembok yang membatasimu. Selanjutnya apa? Mintalah gunung. Lalu dia akan menampilkan proyeksi gunung sementara kamu di sini, tetap terkurung, tetap terbelenggu. Mintalah."


Dada Kamila seketika sesak.


Dia benar. Apa hebatnya ini? Pada akhirnya terkurung.


Pada akhirnya terbelenggu. Pada akhirnya seperti hewan. Apanya yang hebat?


"Kamila?"


"Aku tidak menyukainya." Kamila mengalihkan mata pada azalea di tangannya. "Itu membosankan. Aku tidak suka."


Perasaan aneh menyerang Iaros. Membuatnya segera menghilangkan gambar itu, datang bernapas di tengkuk Kamila. "Maafkan aku tidak memahami keinginanmu," bisiknya. "Akan kubawa hal lain nanti."


*


"Aku tidak suka."


Iaros pikir itu tidak terlalu penting. Tapi ketika Kamila berbaring di pelukannya, terlelap lagi setelah puas menatap azalea, pikiran itu tak bisa lepas.


"Aku tidak suka."


Perasaan Iaros tak nyaman. Mata Kamila, sikapnya, dan senyumnya, semua mulai membuat Iaros tak nyaman.


Ia membelai rambut Kamila. Bergeser menggelitik kulitnya sebelum berhenti pada belenggu di tangan itu, berlama-lama membelainya juga.

__ADS_1


"Tidak longgar," gumam Iaros nyaris tanpa suara. Tangannya mengecek kedua belenggu otu bergantian. Memastikan tidak ada bagian yang longgar, akan terlepas atau bisa saja rusak.


Tidak ada tanda belenggu itu lepas. Lantas kenapa rasanya Kamila mulai berlari dari pelukannya?


Tangan Iaros bergeser. Mengusap peluh di kening Kamila, lalu turun melihat beberapa bekas merah di lehernya.


Cantik, gumam Iaros dalam benaknya. Menyukai lekuk leher Kamila yang menurutnya selalu terlihat indah, penuh kesempurnaan.


Dalam keheningan itu, Iaros memberi isyarat agar Maria datang. Dia memahaminya hanya dengan melihat. Menyerahkan belenggu baru yang lantas Iaros pasang ke leher cantik itu.


"Maafkan aku." Iaros menunduk, membenamkan bibirnya di antara rambut Kamila. "Duduklah tenang di sini, Kamila. Tidak perlu melakukan apa pun."


Rasa rindu membuat Iaros tidak membaringkan Kamila dan memilih terus mendekapnya.


"Perpendek jangkauan rantainya," perintah Iaros pada pelayannya.


Maria langsung bergerak. Melepaskan sejenak rantai dari belenggu tangan Kamila untuk diganti menjadi rantai pendek berukuran satu meter yang ujungnya dihubungkan pada pilar tempat tidur.


Dengan begitu, Kamila tidak lagi bisa tidur dari tempat tidur.


Dia hanya bisa bergerak kapan Iaros datang melepaskannya.


"Aku tidak suka."


Iaros membelai bibir Kamila. Tersenyum pada wajah tenang gadisnya itu.


Bibir ini ... tidak boleh lagi mengatakan sesuatu seperti tidak suka.


*

__ADS_1


__ADS_2