
Sementara Aether, Hefaistos dan Zefirus menangani Kamila, Deimos punya banyak waktu bersantai selama masa libur ini. Sebagai adik yang mempunyai banyak kakak hebat, Deimos tidak dituntut banyak melakukan hal lain.
Jadi ia punya waktu berjalan-jalan santai setelah menghabiskan waktu dengan istrinya di kamar.
Langkah Deimos tadinya ingin mengarah ke belakang vila. Ia tak terlalu suka pantai jadi ingin melihat pemukiman, tapi justru tak sengaja melihat Lily.
"Kamu seharusnya memakai mantel." Deimos melepaskan luaran pakaiannya untuk sang kakak perempuan. "Memikirkan Kamila?" tanyanya lagi.
Lily mengangguk samar. "Adik saya membuat masalah yang merusak ketenangan liburan. Tolong maafkan—"
"Nah, Lily." Deimos mendongak pada langit siang cerah di atas mereka. "Apa kamu tahu mengapa dalam posisi pewaris tahta Narendra, Tuan Muda Pertama memiliki hak mutlak? Satu-satunya cara menggeser Aether dari posisinya adalah membunuh dia secara terang-terangan."
Kenapa Deimos membahas itu, adalah apa yang Lily pikirkan, tapi memutuskan diam.
"Aku baru memahaminya ketika aku semakin sering melihatnya." Deimos tersenyum kecil. "Kamu tahu dalam liburan kali ini, siapa pun yang hamil pertama kali, jika seorang tuan muda lahir maka dia yang jadi Tuan Muda Pertama selanjutnya?"
"Tuan Muda—"
"Peraturan Narendra. Sesuatu seperti pengaturan keturunan, fase steril, pembedaan kedudukan, menurutmu apa gunanya?"
Deimos menoleh.
"Itu agar Tuan Muda Pertama dan Tuan Muda Kedua, mereka yang berpotensi memimpin Narendra, bukanlah anak nakal seperti Dionisos dan Iaros."
__ADS_1
Lily belum mengerti.
"Aether dan Hefaistos sejak dulu sudah dibesarkan dalam pengaturan yang spesial. Membuat mereka tumbuh bijaksana, menerima apa pun, karena mereka siap memimpin."
Air wajah Lily berubah ketika tersadar arah ucapan Deimos. "Tuan Muda—"
"Mereka bukan orang yang akan mempecundangi rintihan seseorang. Jadi jika ada sesuatu yang sebenarnya sangat ingin kamu katakan, menahannya justru kesalahan. Mereka berdua harus mendengar agar mereka bisa memperbaiki kesalahan yang ada."
Dalam sekejap, Lily berjongkok. Dia menutup wajahnya dsn menangis terisak-isak.
Harusnya dia menyampaikan pada Aether jika memang dia tak puas pada apa yang ada sekarang.
Katakan saja 'tolong ubah ini' karena Aether ... tidak pernah membelakangi adik-adiknya, siapa pun itu.
"Saya lelah menjadi Nona." Kamila mencengkram semakin kuat tangan Aether akibat lonjakan emosinya. "Kenapa saya harus jadi Nona jika seluruh hidup saya hanya diisi hal semacam ini? Seluruh tubuh saya sakit setiap kali memikirkan saya harus menjalani ini setiap waktu, setiap hari, entah sampai kapan saya mati."
Zefirus mengembuskan napas dari mulutnya.
Apa seseorang pernah memikirkan hal semacam itu? Mungkin saja.
Apa seseorang pernah menghentikan hal itu? Tidak. Karena semua orang memikirkan itu sebagai kewajaran.
Meski tak ada diskriminasi di rumah ini, kebanyakan yang membuat keputusan tetaplah pria. Dan para pria, para tuan muda dan tuan besar kebanyakan melihat istri mereka daripada adik-adik mereka.
__ADS_1
Istri Narendra bekerja, karena mereka bukan wanita Narendra. Mereka wanita luar yang diberi nama Narendra untuk melahirkan keturunan Narendra.
Tidak kusangka masalahnya justru ini. Zefirus mengerutkan kening dalam. Diam sampai Kamila selesai menangis dan ditenangkan, lalu dibawa tidur oleh Aether.
Segera mereka mengadakan rapat.
"Kurasa ini memang puncak masalahnya." Hefaistos sedari tadi membaca buku harian Kamila. "Kita mengurung mereka tanpa sadar dan berpikir mereka hidup nyaman."
"Tapi Ribia, Demeter dan yang lain tampak baik-baik saja." Aether menautkan tangan di bawah dagunya, berpikir keras. "Hanya Kamila dan Lily."
"Kecenderungan mereka kemungkinan berpengaruh." Zefirus menimpali. "Kalau kulihat lagi, Ribia sudah menyadarinya. Perbedaan campuran dan murni itu mempengaruhi alam bawah sadar mereka. Meski mereka Nona, kebebasan mereka terenggut."
Demeter dan Ribia juga adik perempuan mereka lainnya tidak perlu membatasi diri. Mereka tidak perlu bersikap sopan pada seseorang, tidak perlu menahan diri saat ingin mengatakan sesuatu, dan apa pun yang mereka mau bisa mereka katakan.
Sebenarnya Kamila dan Lily juga sama. Tapi, mungkin saja, cap 'setengah Narendra' membuat dia merasa dia tidak boleh memiliki sesuatu yang dimiliki 'Narendra murni'.
"Aether?"
Sang Tuan Muda Pertama menumpukan kening di atas tangannya, tampak frustrasi.
"Ini bukan hanya soal setengah atau murni." Aether bergumam. "Karena Iaros juga mengalaminya."
*
__ADS_1