Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
55. Bahasa Tersirat


__ADS_3

"Saya membawakan Anda makan malam."


Helen berucap tanpa ditanya ketika membawa makan malam Iaros dengan tangannya sendiri. Meski Iaros sedang duduk di tepi jendela, tidak ada niatan darinya membuka suara.


"Tuan Muda, tolong makan makanan Anda setidaknya sekali sehari." Tadi pagi, Helen melihat kereta makanan Iaros dibawa kembali tanpa ada kurang dari isinya. "Apa ada makanan yang Anda mau? Saya akan minta koki menyiapkannya sebaik mungkin."


Ditanya demikian, Iaros justru melirik.


Aroma mawar menggelitik, wajah cantik meski tanpa polesan make up berlebih, pakaian yang agak terbuka dengan kesan dia mau tidur ....


Iaros memang baru bercinta bersama Kamila tapi ia tak bodoh.


"Aku benci bahasa tersirat." Iaros menarik lengan Helen hingga wajah mereka bersinggungan. "Katakan yang kamu inginkan, Istriku."


Ekspresi Helen hanya datar dan kosong. "Anda yang meminta liburan ini untuk bulan madu."


"Lalu?" Padahal Iaros sudah tahu.


"Apa Anda berniat duduk diam begitu saja? Saya hanya ingin tahu apakah Anda—"


"Aku mengenali wajahmu." Iaros membelai pipi perempuan itu. "Ada apa, Istriku? Wajahmu dipenuhi kesedihan. Apa ada perasaan khusus yang kamu harapkan dariku?"


Helen menekan rahangnya sebelum memberanikan diri memegang balik lengan Iaros. Untuk sesaat, Helen menelan ludah. Sejujurnya Helen pun bingung mengapa tiba-tiba ia jadi emosional seperti ini.

__ADS_1


Istri Narendra adalah robot. Jika tidak dicintai duluan, mereka tidak akan pernah paham apa itu cinta.


Lalu kenapa ... Helen mulai merasa muak pada sikap dingin Iaros?


"Tolong berhenti memikirkan Nona Kamila." Helen memegang erat lengan Iaros. "Tolong berhenti mengabaikan saya di belakang Anda. Tolong."


"...."


Pada akhirnya tetap Kamila, kah?


Helen menarik tangannya dari Iaros. Sudah paham bahwa dia tidak ingin menyakiti wanita yang dia cintai.


Sebaiknya aku kembali dan bekerja. Helen menarik kimono yang sempat sengaja ia turunkan, hanya berpesan singkat agar Iaros makan.


Di tepi jendela, Iaros sengaja diam untuk melihat lebih jauh ekspresi Helen. Diluar dugaan, dia yang pasti pernah dibanting-banting oleh pelatih di peternakan, tampak begitu kesepian dan sendirian.


"Istriku." Iaros menghentikan sebelum Helen membuka pintu. "Kemari."


Dia datang sesuai perkataan Iaros. "Apa ada lagi yang Anda butuhkan?"


Iaros menarik pinggangnya, hanya butuh satu kedipan mata untuk menyatukan bibir mereka.


...*...

__ADS_1


Wajah yang Iaros lihat setelah membuka mata bukanlah Helen, melainkan wajah Demeter.


"Halo, Kakak."


Iaros mengerutkan kening oleh sinar matahari. Terbangun dengan tubuh setengah telanjang, melihat Helen menghilang dari kamar. "Di mana istriku?"


"Hm? Entahlah. Dia pergi begitu saja dan aku tidak tertarik bertanya."


Iaros beranjak. Mengambil segelas minuman segar di atas meja yang mungkin disediakan untuknya oleh Helen.


"Kamu tahu di mana Maria berada?"


Adiknya terkekeh penuh arti. "Jika aku membantu Kakak menguliti Maria, apa yang kudapatkan?"


"Bukankah menjawab adalah keharusan bagi adik kepada kakaknya? Di mana Aether menyimpan Maria?"


"Bukan Kakak Aether yang memegang Maria. Itu dipegang oleh Hera."


Iaros tahu selalu wanita itu di belakangnya.


Ketika pikiran Iaros dipenuhi keinginan menyiksa Maria, Demeter tiba-tiba datang. Meraih tubuhnya agar berbalik.


"Kakak tahu tidak ada yang bisa Kakak tipu di tempat ini, kan?" Gadis itu membelai sudut bibirnya. "Apa yang sedang Kakak rencanakan?"

__ADS_1


Iaros hanya diam, tapi ia berjanji agar secepatnya memperlihatkan itu.


*


__ADS_2