
Usulan Hera diterima oleh Aether. Esok hari ia memutuskan untuk memanggil Iaros dari kurungannya, bermaksud untuk bicara hanya bersama saudara-saudara tertua dan istrinya Hera.
Tapi Kamila terbangun dan meminta untuk hadir.
"Tolong bawa saya." Kamila memohon lemah. "Ini persoalan mengenai saya. Saya ingin mendengarnya."
Sejujurnya Aether merasa Kamila tidak perlu ikut campur bahkan jika itu melibatkan dia. Meski begitu, melihat Kamila tampak agak aneh setelah bangun, Aether putuskan dia boleh ikut.
Pikir mereka Kamila akan ketakutan melihat Iaros. Bahkan karena itu Aether memerintahkan tangan dan kaki Iaros sementara harus terikat.
Diluar dugaan, Kamila tenang saja. Berjalan mengikuti Aether, lalu duduk di sampingnya bersama Hera.
"Apa Nona baik-baik saja?"
Itu adalah kekuatan Narendra. Meski Kamila jelas-jelas tidur dengan Aether, suaminya, Hera harus tetap tersenyum melupakan segalanya.
Kamila mengangguk.
Membuat mata Aether, Hefaistos, dan Zefirus langsung meliriknya karena merasa Kamila bertingkah aneh.
"Kamila." Iaros langsung melebarkan mata menatap Kamila di sana. Jauh di hatinya Iaros berharap semua ucapan Demeter salah, tapi ketika Kamila memalingkan wajah darinya, Iaros tersentak.
Dia bermain lagi, geram Iaros di hatinya.
"Ayo segera selesaikan ini." Aether melirik Kamila sebentar sebelum menatap adiknya. "Aku akan menyuruh semua orang melupakan insiden memalukan yang kamu buat, Adik Bodoh. Dan setelah membicarakan segalanya, kami membuat kesimpulan."
__ADS_1
Aether menghela napas.
"Kamila dan Lily akan menikahi Narendra, terkecuali kamu."
Iaros membalas mata dingin Aether. "Aku hanya akan mengatakannya sekali. Akan dihancurkan Narendra jika kamu menyentuh gadisku."
"Iaros." Hefaistos langsung bereaksi. "Bukankah sudah kubilang mengoreksi dirimu?"
"Apa aku berkata iya?"
Kamila menoleh pada Zefirus di sisi lainnya. "Apa saya boleh berbicara, Tuan Muda?"
"Lakukan."
"Jika saya boleh memilih, tolong biarkan saya menikahi Tuan Muda Dionisos."
"Kamila."
"Anda memang senang melecehkan saya, Tuan Muda." Kamila menggertak giginya penuh kebencian. "Anda membuat saya ketakutan lalu berkata mencintai saya dan memaksa saya membalasnya."
"Kamila—"
"Apa Anda begitu menyombongkan diri sampai berpikir semua hal yang Anda inginkan benar-benar milik Anda?!"
Aether tersentak melihat sisi lain Kamila ini.
__ADS_1
"Apa Anda bahkan mengerti perasaan saya menjadikan Anda harapan dan ternyata Anda hanya memainkan permainan menjijikan di belakang saya?! Apa saya bagi Anda?! Mainan favorit?!"
Terfokus pada Kamila yang berdiri berani, semua orang terkejut mendengar suara rantai terputus. Zefirus tercengang melihat Iaros kini berdiri, menatap dingin pada Kamila.
Jelas saja Aether langsung berdiri, meski begitu, mereka cukup yakin Iaros tidak akan membawa lari Kamila di depan mereka semua.
"Lalu aku apa bagimu?" Iaros berdiri tegak di hadapan Kamila. "Aku melakukan segalanya bagimu dan ini yang kudapat? Dari dulu memang selalu seperti ini. Kamu menjijikan. Aku menjijikan."
Kamila mengetatkan rahangnya. "Apa saya pernah meminta?"
"Meminta?" Iaros membeo.
Ujung jemarinya menyentuh wajah Kamila. Dapat dengan mudah menemukan bekas-bekas sentuhan di leher dan belakang telinganya yang membuktikan bahwa ucapan Demeter benar adanya.
"Tidak." Iaros mundur. "Kamu tidak meminta."
"Lalu apa yang Anda harapkan dari saya?"
"Aku tidak pernah berharap darimu, Kamila. Tidak pernah sedikitpun. Aku melakukan apa yang bisa. kulakukan."
Pria itu berlalu, berdiri di depan Aether yang hanya diam menyaksikan semua.
"Nikahkan dia dengan Dionisos jika dia ingin. Aku pun akan mengoreksi diri seperti maumu."
"Lalu semua selesai, kamu ingin bilang begitu?" Zefirus merasa Iaros masih merencanakan sesuatu.
__ADS_1
Iaros menatap Hera sekilas. "Selanjutnya," berlalu begitu saja, meninggalkan mereka, "akan kulakukan dengan cantik."
*