Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
82. Tidak Layak Dicintai


__ADS_3

Narendra diajari tidak takut pada kematian. Kamila pun begitu.


Bukan karena Narendra suci atau agung, namun karena Narendra mengakui kematian adalah satu-satunya pembunuh yang tidak bosa mereka lawan balik.


Maka Kamila tidak pernah takut mati jiia kematian memang datang.


Atau setidaknya itu yang Kamila pikirkan, sampai akhirnya saat ini tiba.


Dalam sebuah buku, terdapat sebuah perkataan bahwa detik menjelang kematian, seseorang akan mengingat seluruh isi kehidupannya. Terutama kesalahannya.


Andai aku lebih berusaha.


Andai aku lebih bersabar.


Andai saja aku melakukannya lebih baik.


Semua itu bergema dalam pikiran Kamila.


Ketika Kamila melihat kematiannya, ia menerima sebuah kenyataan yang tak ditutupi oleh perasaan apa pun.


Kamila mencintai Iaros. Kamila mencintai Iaros bahkan jika Iaros membunuh calon suaminya dulu.


Rasa jijiknya pada Iaros dulu adalah kenyataan. Rasa marah karena obsesi Iaros dulu adalah fakta. Namun sekarang Kamila mencintainya dan dulu adalah dulu.


Sayangnya sudah terlambat. Kamila sudah melompat.


"Kamila."


Mungkin itu adalah selintas harapan. Dalam ruang gelap tak berujung, Kamila mendengar suara Iaros merintih kesakitan.


"Maafkan aku." Pria itu menangis. "Maafkan aku. Aku membuatmu menangis, membuatmu takut padaku. Tapi aku tidak bisa berhenti. Aku takut kamu pergi dariku. Aku takut tidak memilikimu."


Kamila membuka matanya, menemukan kilas balik masa lalu. Iaros yang mencabut jantung calon suaminya, meletakkan itu di tangan Lily.


Tapi kemudian dia bersimpuh, menangis di depan Kamila yang menggigil ketakutan.


"Kenapa harus seperti ini?" rintih dia begitu lemah. "Aku melakukan segalanya, Kamila. Aku menunjukkan cintaku padamu perlahan, agar kamu terbiasa dan tidak menolakku. Tapi kenapa kamu ingin berpisah?"


Kamila terpaku menatap dirinya di sana.


Dirinya yang kecil dan bodoh.


Aku yang menciptakan monster itu. Kamila bersimpuh menangis terisak-isak. Aku yang menciptakan Iaros lalu membuangnya.


Dulu Kamila sangat sering berpikir bahwa dunia ini benci padanya. Namun sekarang ia tahu kenapa.


Karena dunia tahu Kamila memang tidak layak dicintai dengan cara yang layak pula.

__ADS_1


*


Ainias berdiri di hadapan putranya itu, melihat Iaros seperti kehilangan sembilan puluh persen kehidupan karena Kamila.


Bahkan jika Narendra tidak diajari untuk mencintai, pada dasarnya cinta adalah milik semua manusia. Ainias bisa melihat bahwa putranya menganggap Kamila pusat dari dunia.


Dia ingin memilikinya bahkan jika harus dengan cara paling salah sekalipun.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Ainias samar.


Iaros mendengar itu, tapi diam tanpa suara. Pikiran Iaros sekarang dipenuhi kemelut badai.


Memikirkan segala yang telah ia lakukan untuk Kamila. Kuat perasaannya ingin bersama bahkan jika harus memgotori nama kebanggaan Narendra, tapi sampai akhir Kamila memutuskan berlari.


Mengapa? Iaros tak mengerti, mengapa?


Apa yang salah dari perasaannya? Apa yang salah jika mereka bersama?


Aku terlalu bermain-main, pikir Iaros dalam diamnya. Aku terlalu menunda-nunda. Padahal keluarga ini mau kuhancurkan juga, tapi kenapa harus mengikuti aturan? Harusnya kubunuh Aether dan Demeter, lalu Hefaistos, lalu Zefirus.


Ah, benar. Mereka bertiga menyentuh milikku. Kenapa aku bersikap bodoh dan diam saja?


Ibu tidak pernah mengajariku jadi bodoh. Seharusnya aku mendengarkan Ibu.


"Iaros." Ainis tidak dapat mendengar racauan Iaros di dalam sana, namun bisa merasakan hawa di sekitar Iaros justru semakin gelap dan tidak waras.


Pria itu berjongkok di depan putranya, mencengkram tangan Iaros yang ditahan oleh rantai baja.


Iaros membeku.


"Apa itu karena kamu takut tertolak oleh Kamila? Atau karena kamu takut melawan Ibumu yang sudah mati? Beritahu saya. Sudah lama kita berdua tidak bertukar cerita."


"Diam," desis Iaros gemetar. "Aku tidak butuh nasehat jadi pergilah."


"Nasehat? Untuk apa saya memberi nasehat pada putra tidak tahu diri sepertimu?"


Iaros tersedak keras oleh cekikan Ainias di lehernya.


"Apa menurutmu saya tidak tahu apa yang kamu lakukan? Mengancam kehidupan putri saya, lalu meniduri putri saya yang lain, dan sekarang mengemis cinta wanita yang justru mau mati daripada bersama kamu. Menurutmu saya datang menasehati?"


"Ayah."


Tubuh Iaros terhempas bersama cekikan itu lepas. Ainias menoleh pada Helen yang memasuki kurungan Iaros.


"Saya memohon maaf atas nama beliau." Helen menarik lembut lengan ayah mertuanya itu. "Tolong. Beliau sudah melakukan terlalu banyak kesalahan yang sulit ditanggung. Maafkan beliau sebagai putra Anda."


Ainias membuang napas, kembali menatap Iaros. "Jangan berpikir sesuatu akan berjalan mudah kedepannya. Tidak akan ada Narendra yang mendapat penghinaan, kecuali kamu kedepannya."

__ADS_1


Iaros menatap ayahnya dengan sorot tanpa rasa bersalah.


Setelah memastikan itu, Ainias berlalu, meninggalkan Iaros bersama Helen begitu saja.


Helen mendekati suaminya dan berlutut. Tangannya terulur memeriksa luka Iaros, tapi pria itu menghindar.


"Saya hanya ingin memastikan, Tuan Muda. Anda terluka parah sekarang."


"Berhenti bersikap seperti tidak membenciku sama sekali." Iaros membalas dingin. "Apa maumu?"


"Apa Anda benar-benar ingin mendengar?" Helen tak lagi bisa mengendalikan suaranya.


Sejak awal Iaros sudah menghinanya. Sejak awal pernikahan mereka bahkan, Iaros sudah melecehkan kehormatannya. Apa dia pikir Helen benar-benar tahu cara bersabar?


"Ya, saya membenci Anda. Sangat membenci Anda sampai saya memutuskan untuk melayani adik Anda, Tuan Muda Dionisos hanya agar saya menghina Anda setidaknya di depan beliau!"


Iaros hanya menatap tanpa ekspresi. "Lalu? Pergilah pada Dionisos kalau begitu. Dia akan senang koleksi boneka s*ksnya bertambah."


"Lalu? Anda juga akan kembali menggila untuk gadis yang bahkan tidak pantas untuk Anda?"


"Jangan menghina Kamila!"


Helen tersulut luar biasa. Sebelum wanita itu sadar, dia telah mengambil belati di dekat Iaros, menusuk ke tangannya sendiri sebelum dengan tangan itu, ia menampar Iaros.


Dalam sejarah Narendra, tidak pernah ada wajah dari mereka yang mendapat tamparan bahkan oleh kepala keluarga.


Tapi jika ia harus memutus tangannya sendiri cuma demi menampar Iaros sekali, Helen akan memutuskan kedua tangannya agar mendapat kesempatan sekali lagi!


"Apa yang sebenarnya Anda lakukan?!" teriak Helen frustrasi. "Beritahu saya dengan jelas! Apa yang sebenarnya Anda lakukan?! Anda sudah melakukannya sejauh ini, Anda sudah mengemis memalukan selama ini tapi wanita itu sedikitpun tidak mempertimbangkan Anda! Tidak sedikitpun! Lalu Anda malah berteriak membelanya, melakukan segalanya untuk dia yang sedikitpun tidak peduli jika harga diri Anda sudah habis!"


Iaros terpaku. Darah Helen membasahi pipinya dan bekas tamparan itu terasa nyeri.


Tapi Iaros kini lebih terpaku pada Helen yang menangis di wajahnya.


"Jangan menghina Kamila tapi hina diri Anda, begitu yang Anda sukai?! Itu bukti cinta Anda?! Anda lari di masa bulan madu Anda sendiri, Anda membuat permintaan konyol dan membahayakan diri Anda sementara wanita itu, Kamila kesayangan Anda, memilih tidur dengan Tuan Muda Aether lalu bunuh diri!"


"...."


"Beritahu saya Tuan Muda, apa yang dia sisakan untuk Anda? Apa bayaran dari perjuangan Anda selama bertahun-tahun pada wanita itu? Beritahu saya!"


Kepala Iaros tertunduk, kosong menatap tangan Helen di pahanya.


Seolah semua itu baru bisa Iaros pikirkan sekarang, pertanyaan Helen menusuk sangat dalam.


Apa yang ia dapatkan setelah melakukannya semuanya? Kamila?


Tidak.

__ADS_1


Tidak ada.


*


__ADS_2