Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
38. Sebuah Boneka Kesayangan


__ADS_3

Itu adalah bagian tergelap yang tenggelam dalam tumpukan memorinya.


Suatu hari, ketika Kamila memutuskan tidur dengan ibunya, ternyata Iaros berbaring di atas ranjang tempat tidur Kamila.


Mereka sering berbagi kasur bersama. Biasanya diisi oleh obrolan tak penting, senyum dan tawa kecil sebelum saling memeluk hingga bermimpi. Tapi hari itu Iaros tidak bilang akan tidur dengannya.


"Maaf, Tuan Muda. Saya tidak mengira Anda datang, jadi saya pergi ke kamar Ibu."


Apa yang Kamila harapkan adalah Iaros berkata tidak masalah karena memang itu hanya sebuah kebiasaan, bukan kewajiban.


Sayangnya harapan Kamila adalah omong kosong. Iaros dengan ekspresi dingin datang memegang lengannya, menarik Kamila berbalik.


"Tuan Muda?"


Hari itu, sebenarnya Kamila menyadari betapa dingin dan menakutkan ekspresi Iaros. Tapi entah sedang membohongi diri atau Kamila hanya tidak bisa berterus terang, ia mengira Iaros masihlah Iaros.


"Apa Anda lapar? Bagaimana jika Anda dan saya sarapan bersama?"


Iaros hanya diam memandanginya. Lalu tiba-tiba memeluk Kamila. "Aku merindukanmu," bisiknya datar. "Aku merindukanmu sepanjang malam."


"Tuan Muda, saya hanya tidur di kamar Ibu. Anda berlebihan." Kamila tertawa.


Tapi tawanya redup ketika Iaros membungkuk, dan cengkramannya menguat.


"Berlebihan?" Dia bergumam sangat rendah. "Apa berlebihan jika semalaman aku ingin melihatmu, ingin mendengar suaramu, ingin mendekapmu, tapi kamu memilih tidur dengan orang lain?"


Mulut Kamila terkatup.

__ADS_1


"Mengapa begitu mudah, Kamila?" Iaros makin menguatkan cengkramannya. "Bukankah aku teman tidurmu? Mengapa bukan mencariku? Kenapa harus ibumu?"


"...."


Mata Iaros seolah nengulitinya. Dia melepaskan tangan Kamila tepat sebelum ia meringis. Berpindah menyentuh lengan dan lehernya dengan kesan dia memeriksa sesuatu.


Sungguh itu menakutkan ketika Iaros mencium kulit lehernya sebelum berbisik, "Ini bukan aromamu."


"...."


"Berjanji padaku, Kamila. Jangan pernah tidur dengan siapa pun selain aku. Tidak dengan Lily, tidak juga dengan ibumu."


"...."


"Bisakah kamu berjanji?"


Semudah itu Iaros tersenyum, menghilangkan seluruh kebekuan yang sempat menyelimutinya. "Maka pergilah mandi. Aku akan minta mereka menyiapkan sarapan."


Kamila hanya memandangi punggung Iaros yang pergi. Dalam benaknya, muncul pertanyaan demi pertanyaan.


Mengapa dia begitu berlebihan? Mengapa Kamila tidak boleh tidur dengan kakak juga ibunya? Mengapa Iaros bereaksi seakan Kamila melakukan kesalahan fatal yang sulit dimaafkan?


Walau begitu, mulut Kamila bungkam. Seakan jika ia mengakuinya, bahkan dalam pikiran, maka sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Iaros menganggapmu bonekanya." Mungkin hal itu telah terbisik dalam jiwa Kamila setelahnya. "Iaros menganggapmu pajangan yang hanya boleh dilihat matanya. Sebuah benda yang hanya boleh dipegang dan dipermainkan olehnya."


Bisikan itu Kamila tepis dan ia gantikan dengan gumamannya sendiri.

__ADS_1


"Tuan Muda masih kekanakan." Kamila membohongi dirinya. "Aku akan memberitahu Kakak dan Ibu agar lebih sensitif padanya nanti."


Lalu ia berbalik, hidup dalam kebohongan yang ia ciptakan sendiri.


...*...


Ribia membenamkan diri dalam pelukan Agav di malam yang dingin itu.


"Sebentar lagi Kakak akan menemukan mereka." Ribia mendongak pada pengawal sekaligus kekasihnya itu. "Aku berusaha tidak berterus terang karenamu, tapi sekarang apa?"


Kadang-kadang Ribia sangat tidak menyukai cara Agav tersenyum. Bukan karena dia tersenyum menertawakan atau sinis, namun senyum misterius yang Ribia pun sulit untuk pahami.


"Tidak apa, Nonaku. Itu sudah lebih baik." Agav meletakkan bibirnya di sudut bibir Ribia. "Sekarang, bagaimana jika kita menyelamatkan Nona Kamila?"


"Menyelamatkan? Dengan cara?"


Agav bukan menjawab, tapi bangkit dari tempat tidur sebelum mulai memunguti satu per satu pakaian yang berserakan di dekatnya. Dia berdiri membelakangi kasur, mendongak pada rembulan di atas sana.


"Saya akan berjanji satu hal pada Anda, Nona." Agav berbalik. "Nona Kamila akan kembali sebelum bulan madu ini berakhir. Tapi ...."


"Jangan menakutiku."


"Baiklah."


Tapi mungkin ketika Kamila dan Iaros kembali, Ribia akan jadi salah satu yang berharap mereka tidak pernah kembali.


Itu yang mau Agav sampaikan.

__ADS_1


...*...


__ADS_2