Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
30. Adalah Miliknya [REVISED]


__ADS_3

Beberapa tahun silam, di usia Kamila yang ke lima belas.


Seorang gadis cantik berambut hitam panjang tersenyum lebar memandangi henna di tangannya. Di dekat gadis itu ada Amarilis yang sedang menyulam dan Lily membaca buku tebal berbahasa Inggris.


"Kakak, apa baik-baik saja jika aku yang menikah?" tanya Kamila seolah tak puas jika tak menanyakannya berulang-ulang.


Lily mendengkus geli. Mengalihkan sejenak matanya dari buku pada sang adik kecil. "Ya, menikahlah. Lagipula aku lebih suka menemani Ibu. Lebih menyenangkan membesarkan Tuan Muda daripada anakku."


"Kakak memang aneh."


"Tidak perlu terlalu cepat memikirkan anak." Amarilis ikut tersenyum mendengar keduanya. "Tunggulah empat atau lima anak dari Narendra lahir, baru setelah itu kamu hamil dan punya anak."


Anak pertama yang lahir bahkan jika bukan dari istri pewaris akan otomatis diangkat jadi pewaris setelahnya. Karena itu setengah Narendra akan menunggu beberapa keturunan Narendra lahir sebelum mereka bisa punya anak.


Agar anak laki-laki pertama tak sampai lahir dari keturunan setengah Narendra dan terjadi tumpang tindih.


Meski begitu, Kamila tidak sabar. Ia terus tersenyum lebar sampai mendengar suara lonceng berbunyi, pertanda sudah masuk pukul enam.


Segera, Kamila meloncat. "Ibu, Kakak, aku akan mendatangi Tuan Muda Iaros. Aku ingin memberitahunya pertama kali tentang ini."


Ekspresi keduanya agak berubah, tapi Kamila terlalu semangat hingga ia berlari pergi. Amarilis menghentikan tangannya, memandangi kosong jejak Kamila sebelum terpejam.


"Ibu harap Tuan Muda juga menerimanya."


Lily menepuk-nepuk bahu ibunya. "Ayolah, Ibu. Tuan Muda Iaros anak yang cerdas. Jika Kamila menikah, maka Tuan Muda juga akan segera mengalihkan perasaannya dan menikah."


Itulah pikiran naif Lily dan Amarilis ketika mengetahui perasaan Iaros.


Meski alasan utama Lily membiarkan Kamila menikah adalah agar adiknya bahagia dan ia bisa mengalah, tapi itu juga karena mereka tahu perasaan Iaros pada Kamila.


Sudah ada tawaran pernikahan untuk Iaros tapi dia menolaknya dan mereka tahu itu karena perasaan Iaros pada adiknya sendiri.


Sementara itu Kamila berlari menaiki tangga kastil menuju lantai dua, tempat di mana kamar Iaros berada.

__ADS_1


"Tuan Muda!"


Iaros tampak sangat lelah dengan tubuh basah oleh keringat. Tapi menemukan Kamila datang ke kamarnya bahkan tanpa mengetuk, Iaros tersenyum kecil. "Apa yang membuatmu lari, Kamila?"


Kamila dengan semangat memamerkan tangannya. "Lihat, Tuan Muda. Saya menghias tangan dan kaki saya."


"Itu cantik." Iaros duduk di jendela yang terbuka, membiarkan Kamila ikut duduk di sebelahnya meski ia bertelanjang dada.


Suhu semakin turun karena malam hari, tapi Iaros yang baru kembali dari tempat pelatihan merasa sejuk dibelai oleh angin.


"Apa yang membuat kamu menghiasnya?"


Kamila tersenyum sangat antuasis. "Anda pasti terkejut. Saya akan menikah juga!"


Rasa antuasis Kamila membuatnya tak mengindahkan ekspresi kosong Iaros.


"Ibu berkata bahwa pria itu akan datang beberapa hari kedepan. Ibu berkata meskipun usia saya baru lima belas tahun, saya boleh membentuk hubungan dengan pria itu asal tidak memiliki anak sebelum Anda. Rasanya seperti mimpi!"


Mata Iaros mendadak mati.


Menikah? Kenapa?


Iaros tidak menikah sebab ia tak ingin.


Iaros tidak menginginkan wanita lain dan hanya menginginkan Kamila.


Mereka tidak bisa bersama karena peraturan dan garis keturunan, kalau begitu tidak usah menikah agar selamanya mereka bersama, kan?


Kenapa Kamila malah datang mengatakan dia akan menikah seolah-olah dia sangat menantikan itu?


Tidak. Pasti dia bohong.


Kamila memang kadang sangat usil.

__ADS_1


"Hei." Iaros memegang tangan gadis itu. Membelai kecil jari-jemarinya yang dihias oleh pewarna merah cantik di kulit putihnya. "Kamu tidak membutuhkan pernikahan. Untuk apa? Kamu memiliki aku."


Senyum Iaros mengembang lembut dan mengecup jemari Kamila.


"Kamu sangat suka memancingku agar memerhatikanmu, Kamila. Baiklah." Iaros mendekat. "Aku akan diam-diam datang ke kamarmu malam ini. Ayo tidur bersama dan bicara banyak hal lagi."


Tapi senyum Iaros luntur ketika Kamila menarik tangannya seolah dia risi.


"Apa yang Anda katakan?" ucap dia, tak mengerti. "Daripada itu, Tuan Muda, bagaimana dengan pasangan Anda? Anda harus cepat memilihnya juga, kan? Anda lebih baik menikah sebelum memasuki usia delapan belas tahun."


"Kamila." Iaros kembali menarik tangannya. "Pernikahan bukan sesuatu yang menyenangkan. Kamu hanya merasa itu menyenangkan. Lily pasti berbohong padamu mengatakan kamulah yang menikah. Itu tidak mungkin."


Lagi, Kamila menarik tangannya dan Iaros jelas melihat dia risi. "Apa Anda tidak senang?" tanya dia gelisah. "Anda sahabat saya. Bukankah seharusnya Anda senang?"


"Senang? Pada apa? Senang bersamamu? Tentu saja aku senang. Aku merasa—"


"Saya ingin Anda senang dengan pernikahan saya." Kamila tersenyum. "Jika saya menikah lalu Anda pun menikah maka saya benar-benar akan senang menunggu anak Anda terlahir. Saya pun tak sabar menunggu kelahiran anak saya. Mungkin akan memakan waktu satu atau dua tahun, tapi saya akan bersabar menunggu."


Tangan Iaros terkepal. Bisakah dia berhenti mengatakan sesuatu tentang pernikahan dan anak atau apa pun itu?


"Aku tidak senang." Iaros menatap dingin. "Umurmu bahkan baru lima belas tahun. Bagaimana kamu ingin menikah?"


Kamila tersentak. "Bagaimana Anda mengatakan hal semacam itu?!"


"Memang aku mengatakan hal salah?" Iaros memalingkan wajah kesal. "Sudahlah. Aku ingin mandi. Pergilah ke kamarmu dan beristirahat."


Kamila adalah miliknya. Itu yang terpatri di benak Iaros sejak masih sangat kecil.


Karena itu meski ucapan Kamila membuat kesal, otak Iaros tak dapat mengerti.


Rasanya seperti ia diberitahu satu tambah satu adalah tiga. Tentu saja respons Iaros 'hah, tentu saja itu dua' alias menyangkal dan tidak percaya juga tidak menganggap penting.


Tapi ketika pria itu, orang yang katakan akan jadi suami Kamila sungguhan muncul di kastil Bintang, mencium tangan Kamila hingga Kamila tersipu, darah Iaros menggelegak.

__ADS_1


*


__ADS_2