
Deimos tidak mengira bahwa kejadian seperti ini bisa terjadi dalam keluarga Narendra yang menganggap diri mereka sangat terhormat. Bahkan kalau mulai ada pembicaraan soal Kamila dan Lily bukan lagi Narendra, itu tetap sulit diterima seorang gadis yang dibesarkan sebagai Narendra malah bunuh diri.
Setelah Iaros menghina Aether, sekarang Kamila yang mau menghina Narendra?
"Aku muak dengan ini." Deimos mendatangi Lily saat wanita itu meringkuk sendirian, menunggu kepastian dokter yang tengah melakukan penanganan di dalam sana.
Tapi sebelum bisa sampai padanya, Hefaistos mencegah. "Hentikan. Hargai keturunan Narendra yang sedang sekarat di dalam."
"Aku tidak bermaksud membuat masalah." Deimos menepis kakaknya. "Aku ingin menyelesaikannya."
"Bukan dengan Lily."
"Lalu?" Deimos membalas tajam. "Dengan siapa? Denganmu? Dengan Aether? Kalian membiarkan penghinaan Iaros terus berlarut-larut dan sekarang seseorang dari Narendra terjun atas keinginannya sendiri. Bagaimana kamu menyelesaikan hal ini sementara hal kemarin belum?"
"Bocah—"
"Deimos tidak mengatakan hal salah, kan?" Dios menyela, tersenyum dengan tangan di sebelah pinggangnya. "Mau apa yang terjadi, apa yang kalian inginkan, pada akhirnya kalian gagal."
Zefirus langsung mendekat melihat Deimos dan Hefaistos berkonfrontasi. "Dionisos, berhenti memanasi keadaan."
"Itu sulit." Dios tersenyum. "Kudengar kalian memanggil Demeter untuk mendiskusikan masakah Kamila dan Iaros."
Wajah mereka langsung kesal mendengar itu.
Tidak butuh Demeter untuk menyelesaikan persoalan Narendra. Sama sekali tidak butuh. Tapi, butuh Demeter jika ingin menyelesaikan tanpa kekerasan.
Demeter satu-satunya yang menguasai Iaros di keluarga ini. Anak tiri kesayangan Hilaeira, dan orang yang kemungkinan juga bisa mengatur Orion semaunya.
"Kesalahanmu adalah mengabaikan ucapan Demeter hanya karena Demeter adalah pisau bermata dua." Dios tersenyum mengejek. "Aku sudah tahu kalian mempertimbangkan saran adikku. Dan aku lihat ekspresinya jadi sangat kesal. Sudah jelas dia tidak suka. Sekarang, bagaimana para kakak memperbaiki keadaan? Demeter tidak akan membantu."
Mempertimbangkan itu berarti mempertanyakan. Meski itu normal, kesombongan Demeter menolak jika sarannya malah dipertimbangkan alih-alih langsung diterima.
Demeter selalu yakin dia benar.
"Lily bertanggung jawab." Deimos menatap lurus mata kakak keduanya yang kini ditelan oleh ucapan Dios barusan. "Dia mengetahui perasaan Iaros pada Kamila dan menyembunyikannya bertahun-tahun. Sekarang semuanya kacau karena hal itu jadi paling tidak lakukan sesuatu sebelum aku malu menanggung namaku sendiri!"
"Aku jadi ingat sesuatu." Ares yang melihat mereka memutuskan ikut berbicara.
Masih ada Demeter di sisinya, dan gadis itu hanya tersenyum melihat semua orang berdebat.
"Jika pemberontakan sudah dimulai," ucap Ares merangkul pinggang Demeter, "biasanya akan ada pemberontakan susulan."
Hefaistos dan Zefirus menatap mereka murka, tapi juga merasakan kecemasan pada tekanan di sekitar Ares.
__ADS_1
Sial, jangan bilang—
"Aku mengajukan permintaan sama seperti Iaros." Ares mengatakan hal yang mereka takutkan. "Aether tidak layak jadi pewaris setelah penghinaan besar yang dia terima."
"Ares."
Sebelum Hefaistos bereaksi lebih, Demeter menoleh pada kakak kesayangannya, tersenyum samar. "Aku tidak pernah mendengar itu."
Ares menyeringai. "Aku memang baru memikirkannya. Baru saja."
"Apa Kakak coba membuatku kesal?"
"Aku mencegahmu memberi Aether kesempatan."
Ekspresi Demeter berubah.
"Penghinaan yang dia terima tidak akan bisa dibersihkan sekarang. Bahkan kalau Kamila selamat." Ares membelai pipi Demeter meski gadis itu terlihat tidak senang. "Ada apa, Adikku? Kamu tidak ingin aku memimpin?"
Demeter mengepal tangannya.
Tidak. Demeter tidak mau dipimpin oleh siapa pun kecuali Aether. Karena mengganti pewaris sudah cukup menodai kehormatan namanya.
Tatapan Demeter bergeser pada Lily, menemukan wanita itu menyimak dengan ekspresi kosong.
"Bagaimana jika kamu mengajukan idemu, Lily? Kurasa itu akan sangat menyenangkan didengarkan."
Tidak ada satu orang pun yang Demeter pihak. Mau Iaros menyembahnya, mau Aether mengemis padanya, mau Orion sekalipun, Demeter melakukan apa yang mau ia lakukan.
Karena itu, Demeter juga tak menolak siapa pun. Mau Lily, mau Kamila, mau Ribia. Siapa saja, Demeter tidak merasa ia terganggu apa pun yang mereka katakan.
Ibu Hilaeira, ibunya Iaros, mengajari Demeter memanfaatkan apa pun, termasuk hal yang tidak ia sukai.
Lily bangkit dari posisi meringkuknya. Dia berjalan mendekat meski terhuyung. Menepis tangan yang coba membantunya.
"Anda benar, Nona." Wanita itu menatap Demeter terang-terangan. Tanpa kesopanan, tanpa penghormatan. "Saya rasa itu harus dilakukan."
Seolah mereka sepakat padahal Demeter tidak tahu.
Yah, bukan berarti tidak menduga. Ia menduga. Apa yang Lily pikirkan mengenai keluarga ini, mengenai jalan keluar menurut sudut pandangnya sendiri.
"Nona." Alih-alih menatap Hefaistos yang merupakan pengganti Aether atau Ares yang merupakan adik kandung Aether, Lily bicara pada Demeter.
Sebuah pengakuan bahwa kuasa Demeter di atas mereka bahkan jika ia tak punya hak waris.
__ADS_1
"Saya tahu apa yang Anda pikirkan."
Demeter menahan seringai. "Aku akan mendengarnya."
"Ekspresi tidak senang Anda ketika Tuan Muda Ares ingin mengambil alih, membuat saya mengerti. Anda sedang mencoba memanipulasi semuanya."
Lebih tepatnya nyaris sudah. "Hmmm, menurutmu begitu?"
"Anda tidak senang Tuan Muda Iaros terobsesi pada Kamila alih-alih Anda, seperti yang dilakukan Tuan Muda Ares dan Tuan Muda Dionisos. Karena itu Anda ingin membunuh Kamila."
Demeter tersenyum manis saat mereka yang mendengar terkejut.
Sekarang Demeter bisa melihat siapa yang dapat menduga rencananya. Sudah ia duga Hefaistos tidak. Karena dia sama seperti Aether, lurus berpikir pada kedamaian saja.
"Tapi jika Anda melakukannya, bahkan jika Kamila dan saya tidak lagi terhitung sebagai Narendra, kami dibesarkan sebagai Narendra. Yang berarti, bahkan sedikit, kami sama seperti Anda."
Lily menatapnya dingin.
"Anda tidak ingin sesuatu tentang Anda tercoreng bahkan hanya sedikit. Bahkan jika itu hanya saya dan Kamila."
Senyum Demeter bertahan. Dari dulu ia tahu Lily memang pintar.
"Maka Anda mempermainkan mereka. Mendorong Tuan Muda Iaros pada Kamila, lalu mendorong Tuan Muda Aether menarik Tuan Muda Iaros dari Kamila. Hanya untuk melihat keputusan apa yang sebenarnya Anda inginkan. Sesuatu yang menurut Anda paling menyenangkan."
Tangan Lily mengambil tangan Demeter, menggenggamnya lembut seraya ikut tersenyum meski pucat.
"Sekarang Anda sudah memutuskan. Sepertinya baru saja tepat saat Anda melihat saya. Anda memutuskan sesuatu yang sama seperti saya."
Demeter mengubah ekspresinya menjadi dingin. Bukan karena terkejut, namun karena suka bahwa dia benar.
Baru saja, Demeter memutuskan bahwa ....
"Kehormatan Tuan Muda Aether tidak akan kembali bahkan jika Kamila selamat. Membunuh Kamila akan mencoreng nama Anda sebagai wanita Narendra. Mempercayai Tuan Muda Iaros, Tuan Muda Hefaistos ataupun Tuan Muda Ares juga akan mengganggu kebersihan sejarah Narendra. Itu memalukan mengganti pewaris, terutama karena masalah ini."
"...."
"Maka Anda—"
Demeter memejam tulus.
"—memutuskan membunuh semua generasi Narendra sekarang kecuali satu orang sebagai pewaris."
*
__ADS_1