
"Aku sengaja tidak bersuara agar menikmati sajian saja," Dios menyeringai dengan puntung rokok terselip di mulutnya, "nampaknya namaku terseret-seret."
"Bukankah itu salah Kakak sendiri?" balas Demeter yang mengusap kucing peliharaannya santai. "Ibu akan membunuh Kakak jika sampai hal ini terdengar ke telinganya."
Dios hanya tergelak. Beranjak dari kursi untuk menuangkan alkohol di gelasnya.
Tidak. Semua orang tahu pernikahan itu tidak akan terjadi. Lagipula belum ada izin apakah Kamila dan Lily benar akan dinikahkan dengan Narendra, juga kalau bisa, Aether jelas tidak akan menyerahkan Kamila ke tangan Dios.
Meniduri Kamila bersama Hefaistos dan Zefirus tidak membuat Aether jadi bajingan mendadak. Dia itu kakak berdedikasi yang mementingkan Narendra di atas segalanya.
"Tapi aku tahu Hera tidak akan diam saja. Dia masih bersikap jinak melihat situasi."
Demeter mendengkus. "Wanita angkuh itu berpikir mengendalikan segalanya."
"Lalu, Adik Kesayanganku, apa yang akan kamu lakukan?"
...*...
"Aku sedang tidak ingin diganggu."
Ribia tetap masuk ke kamar pribadi Iaros yang diberi pemandangan paling terbaik mengingat seharusnya ini kamar pengantin baru.
Setelah memikirkannya matang-matang, kini Ribia coba melihat segalanya dari berbagai sudut lain.
Dan setelah ia banyak berpikir, melihat dan mendengar apa yang terjadi, Ribia mulai berpikir bahwa ... ada sesuatu yang perlu ia pahami dari Iaros.
"Bisakah aku menanyakan sesuatu pada Kakak?"
__ADS_1
Iaros hanya diam menatap deburan ombak dari kejauhan. Kebanyakan Narendra tetap berlibur dan Iaros malah di sini, baru terbebas dari kurungan tapi memutuskan untuk duduk termenung saja.
"Kakak, kenapa Kamila?"
"...."
"Aku mengakui kepolosanku. Aku terkejut mendengar ternyata Kakak memiliki hubungan dengan Demeter di belakang. Tapi kalau begitu, kenapa bukan Demeter? Kenapa harus Kamila?"
Saat Ribia menarik wajahnya, Iaros hanya diam. Menatap sang adik yang kini juga terlihat sangat lelah.
"Aku sangat menyayangi Kamila, sebagai saudariku." Ribia menggigit bibirnya gemetar. "Aku sangat menyayangi dia, Kakak. Tapi sekarang aku sadar jika tidak ada yang kupahami dari Kamila. Aku tidak menyayanginya karena aku tahu siapa dia dan apa yang dia inginkan. Aku menyayanginya karena ... karena dia lemah dan menyedihkan."
"...."
"Tapi bahkan kalau begitu, aku menyayanginya. Selalu dan akan terus. Jadi tolong, biarkan aku tetap membantunya."
Iaros memejam. Menarik napas panjang sebelum meletakkan keningnya di lengan Ribia.
"Aku lelah dengan peraturan Narendra ini," gumam Iaros. "Aku lelah dengan ibuku yang berkata aku harus sempurna."
"...."
"Aku lelah dengan semua hal di sekitarku, Euribia."
Dan Kamila satu-satunya yang membuat napas Iaros bisa terhela tanpa rasa sesak. Mungkin Iaros juga tidak peduli apa yang Kamila inginkan dan seperti apa Kamila sebenarnya.
Apa yang Iaros pedulikan hanya ... Kamila menerimanya, tidak menuntutnya, tidak memaksanya jadi mahakarya sempurna.
__ADS_1
Jadi bahkan jika dia menghina, bahkan jika dia membenci Iaros, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya ... hanya terus mengejarnya.
"Lalu Kakak akan terus memaksanya?"
Iaros tertegun.
"Tidak bisakah Kakak memintanya dengan lembut?"
"Aku sudah melakukannya." Iaros beranjak tiba-tiba.
Sebuah tindakan defensif dan perasaan muak dalam jiwanya mengingat masa lalu.
"Aku bersikap baik padanya bertahun-tahun, merayu dan mendekatinya berulang kali. Dia menyukainya. Dia menerimanya. Tapi kemudian dia menikah lalu—"
"Lalu Kakak membunuh orang yang akan dia nikahi sebagai bentuk obsesi Kakak."
"Itu bukan salahku. Kamila milikku. Aku sudah memberitahu mereka bahwa dia—"
"Jika Kakak menyukai seseorang lalu orang itu dibunuh di depan Kakak oleh orang yang mungkin juga Kakak sukai, apa Kakak akan tetap menyukai dia?"
Napas Iaros serasa disekat total.
"Aku mengerti sekarang. Aku tidak akan berkata Kakak berbuat salah atau Kakak seharusnya melakukan hal lain."
Ribia berbalik. Mendekati Iaros lagi, meraih wajahnya untuk melihat jelas betapa lemah dan rapuh dia sekarang.
"Aku hanya akan bertanya. Apa jika seseorang melakukan hal sama pada Kakak, maka Kakak akan mencintainya sangat dalam dan senang?"
__ADS_1
Mata Iaros hanya bergetar tanpa bisa menjawab.
*