
"Kamila, Lily berharap bertemu denganmu."
Menggeleng atas ucapan Zefirus, Kamila tidak ingin. Sekarang ia sudah baik-baik saja di sini. Ia sudah tenang dan terjaga. Kamila tak mau lagi bertemu siapa pun yang mau melukainya.
Zefirus datang mendekat. Menuangkan anggur ke gelasnya sebelum mendekati Kamila. Disesap alkohol itu, lalu menyerahkan pada Kamila.
"Minumlah."
Kamila belum pernah minum alkohol. Tapi ia mencoba.
"Apa yang Lily lakukan padamu?"
Entah mana yang membuat Kamila terpekur. Rasa wine manis sepat atau pertanyaan Zefirus barusan.
"Adikku, apa sebenarnya yang kamu inginkan?" Zefirus menarik Kamila ke hadapannya, membelai pipi Kamila lembut. "Apa yang kamu inginkan dan bisa kamu dapatkan? Aku tidak bertanya sesuatu yang terlalu panjang, jika kamu tidak mengerti."
Dia ingin Kamila menjawab dengan ringkas.
"Aku bisa menebak apa yang kamu inginkan, Adikku, tapi akan lebih baik kamu yang mengatakannya."
Kamila menatap kosong gelas wine Zefirus. "Saya ...."
"Kamu?"
"Saya ingin kehidupan yang berbeda."
"Seperti?"
__ADS_1
"Saya tidak ingin terluka, diam saja menerima semua, atau berpura-pura seakan semuanya bisa diterima."
Sebenarnya jika Zefirus bertanya lebih jauh, Kamila bersedia menjawab. Tapi pria itu tersenyum, menunduk menjemput bibir Kamila. "Apa menurutmu Iaros akan diam saja?"
"Saya lelah dengan pria itu, Tuan Muda."
"Benarkah?"
Di mata Zefirus, nampaknya ada perasaan tertentu yang Kamila simpan untuk Iaros. Karena Zefirus tak mengerti cinta, maka ia tak tahu itu apa. Yang ia tahu, apa pun yang Kamila lakukan, sesuatu yang Iaros tanam dalam jiwa Kamila akan terus memberontak mencari Iaros.
"Aether berkata akan membiarkanmu keluar dalam pengawasan kami."
Kamila menggeleng. "Saya akan tetap di sini."
Kebebasan yang terbatas, Kamila tidak menginginkan itu sama sekali.
"Anda tidak keberatan mengetahui Tuan Muda menghabiskan waktu dengan Nona Kamila?"
Ada istri-istri senior di sana, terutama istri Aether, istri Hefaistos dan istri Zefirus. Tapi yang perlu menjawab seolah hanya Hera, dengan sikap tenangnya.
"Aku bukan anak kecil. Milikku adalah milikku, bahkan jika itu dipinjam oleh orang lain."
Rasa tenang yang membuat iri.
Helen menarik napas panjang. Menatap ke arah kamar Iaros berdiam diri, lalu pada kamar Kamila—yang sejujurnya adalah kamar Aether, namun ditempati oleh Kamila.
Setelah semua drama cinta Iaros dan Kamila, semua berjalan sesuai rencana. Helen pun menemani malam Iaros sebagai istrinya. Tapi ia bukan orang bodoh yang tidak menyadari apa isi pikiran Iaros.
__ADS_1
"Kamu mengkhawatirkan permintaan Nona Demeter disetujui?"
"Saya tidak merasa permintaan itu akan disetujui?" Walau seharusnya pernyataan, Helen lebih terkesan bertanya.
"Tuan Mudaku sepertinya mulai memikirkan. Dan Nona Demeter jauh lebih cerdas dari sekadar memberi permintaan tanpa ambisi."
Helen mengatup mulutnya. Berusaha untuk menghilangkan rasa muak di hatinya walau pada akhirnya ia beranjak, pergi mencari ketenangan di tempat lain.
Jika setelah semuanya Iaros masih bersikeras atas Kamila, maka Helen harus menanggung malu itu seumur hidup. Ia tak tahu apa dirinya bisa. Sementara malam ini, menatap langit di atas sana, Helen sudah berpikir bahwa keputusannya menikahi Iaros adalah salah.
Tidak seperti aku punya pilihan. Helen meremas rambutnya frustrasi.
"Mereka berkata sesuatu yang sempat hilang, saat kembali, tidak akan terasa sama lagi," kata suara itu tiba-tiba.
Helen menoleh atas kehadiran Dios di belakangnya.
"Kurasa aku mengerti itu sekarang."
Helen menerima uluran gelas dari pria itu. "Anda agak tenang belakangan ini. Anda tidak ingin mengganggu Tuan Muda saya lagi?"
"Untuk apa? Ini adalah masa libur. Lagipula Aether menyuruhku untuk tenang."
"Lalu Anda menurutinya? Saya tahu Anda menunggu sesuatu."
Dios menyeringai sangat jelas. "Aku menunggu Iaros."
Tidak ada satupun yang tidak tahu Iaros merencanakan sesuatu. Tapi, tidak ada satupun yang tahu apa.
__ADS_1
*