
"Anda—"
Benar-benar ada seseorang. Seorang wanita yang kalau Aether lihat masih berada di usia Amarilis.
Ada banyak sekali rak-rak buku di sekitaran wanita itu. Berjejer jurnal-jurnal ilmiah dan medis yang Aether bahkan tak pernah lihat di perpustakaan utama Narendra.
Wanita itu terkejut dengan keberadaan Aether, namun begitu melihat pakaiannya, dia langsung menyadari siapa penyusup hari ini.
"Tuan Muda Pertama?"
Aether mengangguk. "Aether. Namaku Aether."
"Tentu saya tahu, Tuan Muda."
"Siapa namamu?"
"Lilina." Wanita itu membungkuk, dengan gestur sempurna sebagai pelayan. "Nyonya Hilaeira memberi saya nama Lilina."
"Bibi Hilaeira sudah tiada, bertahun-tahun lalu."
"Saya mendengarnya."
"Apa kamu yang mwngasuh adikku, Demeter, dulu?"
Ada kebingungan di wajahnya meski dis mengangguk. "Ya, Tuan Muda."
"Maka ikut denganku. Demeter membutuhkanmu sekarang."
__ADS_1
"Saya tidak bisa, Tuan Muda."
Aether tersentak. Sepertinya tidak pernah ada yang berkata tidak pada Aether terutama dari kalangan pelayan.
"Aku memintamu dan kamu berkata tidak bisa?"
Wanita itu menatapnya tanpa rasa takut. "Loyalitas saya ada di tangan Nyonya Hilaeira, Tuan Muda. Beliau meminta saya berada di sini, maka saya akan selalu berada di sini sampai Nyonya meminta saya keluar."
Dengan kata lain, dia tidak akan keluar siapa pun yang memintanya? Termasuk Orion dan Tethia?
"Lilina." Aether tidak mungkin pergi tanpa wanita ini. Ia melawan rasa takut melewati buaya itu bukan untuk sebuah penolakan. "Demeter membutuhkanmu."
Lilina menunduk. "Entah apa yang terjadi di atas sana, Tuan Muda, namun Nona Demeter seharusnya bisa menghadapi masalah apa pun."
Wanita ini, meski dikurung di tempat ini, dia bahkan tak ragu memilih mematuhi Bibi Hilaeira. Ibunya Iaros memang menakutkan. Dia bahkan menciptakan pengikutnya sendiri yang menentang perintah Narendra.
"Aku tidak bisa berbuat apa pun pada Demeter." Aether mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan. Mengakui kelemahannya. "Aku sedikitpun tidak berkutik. Termasuk saat anak itu ingin membunuh semua orang kecuali aku, dan ayahku lebih mendukungnya."
Kuasa putri Narendra sudah luar biasa. Apalagi ditambah dengan sifat dan sikap yang dianggap sangat diperlukan.
Demeter adalah harta kejayaan Narendra, karena itu meski sifatnya buruk, dia akan terus dijaga sebagai senjata utama.
"Dia tahu dia sangat diperlukan bagi Narendra di masa depan, karena itulah dia memanfaatkan semua kekuasaannya."
Lilina tersenyum. "Nyonya Hilaeira memang mengharapkan itu, Tuan Muda."
"Tapi, Lilina, jika perang saudara pecah dalam Narendra, apa Demeter akan selamat?"
__ADS_1
"Saya percaya akan begitu."
"Aku percaya tidak." Aether maju, berdiri di hadapan wanita itu baik-baik. "Kekuatan Demeter berada di kepalanya. Dia kejam, licik, dan sedikitpun tidak pernah takut. Tapi, apa yang membuat itu bisa berharga, bukankah orang-orang yang menurutinya? Kami Narendra. Aku kakaknya, Dionisos saudaranya, ayahku, siapa pun itu."
Lilina terdiam, mau tak mau sadar bahwa itu benar.
"Jika perang saudara pecah, yang akan melindungi Demeter adalah ayahku. Pertanyaanku, Lilina, apakah ayah dari Zefirus, ayah dari Hefaistos, ayah dari Deimos, ayah dari saudara-saudaraku yang lain, paman-pamanku seluruhnya akan memuja Demeter? Apa ibu-ibu mereka akan tetap menjaga Demeter?"
Perpecahan anak-anak akan ikut memecah orang tua mereka. Dengan kata lain, kekuatan Demeter akan menurun pesat yang bisa juga diartikan dia tidak akan bisa melakukan apa-apa.
"Demeter menyayangimu. Jadi dengan tulus kuminta, ikut aku dan hentikan perbuatan anak itu."
"...."
"Aku tahu Demeter punya kemampuan menyokong Narendra sekalipun dia membunuhi saudara-saudaranya. Demeter tidak pernah ragu, tidak penakut dan mementingkan Narendra melebihi siapa pun."
"...."
"Tapi kurasa Narendra baik-baik saja tanpa harus ada pembunuhan."
Aether menepuk bahu Lilina yang seketika mendongak padanya.
"Ikut denganku."
Sebenarnya Aether sendiri terkejut saat Lilina menjawab, "Saya mengerti."
*
__ADS_1