
Seminggu kemudian, mereka benar-benar terbang ke Korea dengan jet pribadi Narendra.
Kamila duduk di pesawat bersebelahan dengan Ribia, mau tak mau melihat Iaros dan Helen duduk berdampingan meski hanya dari punggung mereka.
Ia memutuskan untuk tidak peduli. Memaksakan diri berpaling pada hal lain karena ia sungguh-sungguh tidak mau merebut kebahagiaan kecil Helen.
Semua berlangsung dengan tenang. Kamila tak banyak mengobrol juga karena Ribia beranjak untuk duduk di kursi lebih besar.
Tapi tiba-tiba ....
"Kamila."
Dios mengambil tempat di sampingnya, membuat Kamila langsung tersentak panik.
"Tenanglah. Aku mungkin orang jahat tapi tidak akan melukai wanita. Apalagi kakakku." Dios mengibaskan tangan seolah berkata tidak usah takut terluka.
Tapi dia lantas mengedik pada Iaros.
"Apa kamu tahu? Iaros dan Helen belum berhubungan seksual."
Kamila khawatir seseorang mendengar dia. Ia mengintip ekspresi orang-orang di kursi sekitaran mereka, bersyukur kebanyakan bersandar tidur dengan headphone di telinga masing-masing.
"Kenapa Anda bicara tentang itu?"
Dios mengangkat alis. Tentu saja karena itu menyenangkan mengganggu Iaros, pikirnya.
"Bukankah sudah kubilang akan kutunjukkan wajah asli cab*lnya?"
"Tuan Muda—"
__ADS_1
"Aku dengar kalian para wanita sebenarnya tidak suka berbagi pria." Dios menyeringai. "Mau aku beritahu satu hal? Pria jauh lebih tidak suka berbagi wanita."
Sungguh sekarang Kamila tidak ingin diganggu. Ia berharap Dios menyingkir saja dan Ribia kembali, tapi sewaktu ia membuka mata setelah terpejam cemas, ternyata Iaros tengah melihat ke arahnya.
Entah kenapa, spontan Kamila memegang ujung pakaian Dios.
Jelas saja Dios terkejut. Tapi dia mudah mengetahui arah mata Kamila dan tersenyum.
"Aku mengatakannya bukan untukku, sih." Pria itu memegang tangan Kamila. "Aku juga tidak akan menolak."
Kamila tersentak. Tidak memahami maksud Dios yang tiba-tiba mendekat.
Ia berjengit mengira Dios akan menciumnya di sini, di tempat seluruh Narendra generasi mereka berkumpul.
Ternyata salah. Dios hanya mendekat, meniup telinganya bersama sebaris bisikan, "Satu-satunya cara agar pria berhenti mencintaimu adalah melukainya. Dan cara terbaik melukai pria adalah mengkhianatinya."
"Pria tidak tahu cara memaafkan pengkhianatan. Ingat baik-baik."
Kamila menelan ludah. Matanya melirik Dios ragu-ragu, tapi ketika ia ingat bagaimana Helen jika Iaros sungguhan tidak mengakhiri permainan ini, Kamila akhirnya mengangguk.
"Ta-tapi ...." Ia menarik tangannya dan mengepalkan itu defensif. "Bi-bisakah ... bisakah Anda berjanji tidak menyentuh saya? Maksud saya—"
"Baiklah, baiklah. Aku menghormatimu, Kamila. Tenang saja."
Dios menepuk kepalanya dan tertawa kecil.
Diam-diam ia menatap Iaros, menahan sebuah seringai yang mungkin hanya diketahui oleh Iaros di sana.
Pria itu memang tidak mudah memaafkan. Pria juga akan melepaskan jika sudah terlukai oleh pengkhianatan. Tapi pria adalah makhluk ... yang lebih memilih mengoyak sebelum miliknya direbut.
__ADS_1
Dengan begini Iaros sendiri yang akan menunjukkan sisi aslinya pasa Kamila.
Karena jika dia terang-terangan menyerang Dios yang hanya bicara dengan Kamila, maka Iaros akan mengumumkan hubungan terlarang itu, dan dia akan berpisah seumur hidupnya dari Kamila.
Permainan emosi memang selalu menyenangkan. Dios tergelak di hatinya.
*
Helen adalah istri Narendra. Untuk menjadi istri Narendra, seorang wanita harus sempurna baik fisik, kecerdasan, psikologis, dan apa pun yang melampui wanita biasa.
Jadi ketika Iaros duduk di sebelahnya, mengeluarkan perasaan membunuh hanya karena Dios dan Kamila duduk berdampingan, Helen dapat mengetahui situasi.
Ternyata Kamila memakan umpannya lebih cepat dari harapan. Meski ia dengar Iaros dan dia masih bertemu, tapi Kamila nampaknya berusaha menjauh perlahan.
Maka sekarang waktunya Helen bergerak.
"Orang akan tahu perasaan Anda jika bersikap demikian."
Iaros menoleh. "Apa yang coba kamu katakan?"
"Tolong tidak perlu bersikap terlalu halus. Saya mengetahui apa maksud tatapan Anda pada Nona Muda Kamila." Helen bahkan langsung merinding karena Iaros terlihat ingin mencekiknya. "Jadi tidak perlu khawatir. Anda punya waktu bebas selama di Korea."
Karena Narendra tidak pernah berlibur secara khusus, liburan mereka selalu diadakan sangat panjang. Tiga minggu, lebih tepatnya, mereka akan menetap di Korea.
Tidak ada jawaban dari mulut Iaros, tapi dia cukup puas karena Helen tidak berkata terlalu banyak.
Helen pun puas karena mungkin di Korea akan terjadi banyak perubahan.
*
__ADS_1