
“Aku ingin bertemu pemimpin keluarga.”
Itu adalah kalimat pertama yang Iaros katakan begitu mereka mendarat di Indonesia. Dan secara sengaja, Iaros mengatakannya saat berdekatan dengan Narendra lain hingga semua orang, terutama Aether mengalihkan pandangan.
Pemimpin keluarga ibarat raja dalam Narendra. Tidak bisa sembarangan menemuinya bahkan jika dia paman Iaros, atau ayahnya Aether. Karena itu, Hera sebagai istri Aether langsung maju.
“Saya akan menyampaikan pesan Anda secara langsung, Tuan Muda.” Hera mengisyaratkan pelayannya mengambil alat komunikasi. “Apa yang perlu saya sampaikan untuk Anda?”
“Aku ingin pertemuan terbuka.”
Yang artinya bukan hanya pemimpin keluarga, tapi semua terhitung paman dan bibi Iaros lainnya harus hadir.
Itu bukan permintaan biasa. Tidak pernah ada Narendra yang meminta pertemuan terbuka bahkan jika alasannya untuk makan malam. Jika ada, itu hanya dilakukan orang pemimpin keluarga saat ingin membicarakan sesuatu.
Tapi tidak ada larangan, karena itu tidak ada yang menghentikan Iaros.
Dios berusaha keras tidak tertawa merasakan sebentar lagi Iaros akan berulah. Baiklah, apa sekarang? Dia mau minta menikahi Kamila?
Tidak. Kurasa ini sesuatu yang cukup serius.
“Demeter.”
“Aku tidak tahu.” Demeter menggeleng. “Tapi aku tahu Kakak Iaros akan melakukan sesuatu yang besar. Dan gila.”
“Cukup gila?”
“Sangat gila.”
__ADS_1
Dan itu benar, sebab ketika pertemuan terbuka diadakan sesuai keinginan Iaros pada malam harinya, Iaros berdiri, memakai pakaian megah lengkap dengan bros berlian biru, tegas mengajukan kegilaannya.
“Aku ingin mengajukan perebutan hak waris.”
Tidak ada satupun wajah yang tidak tercengang. Bahkan pemimpin keluarga.
Demeter bahkan mematung, lalu menutup wajahnya agar tidak terbahak keras.
Kakakku memang terbaik.
Tahu maksud Iaros?
Tidak ada pereburan hak waris dalam Narendra. Karena Aether dilahirkan untuk jadi pemimpin keluarga tunggal. Hefaistos dilahirkan untuk menggantikan Aether sewaktu-waktu jika ternyata Aether mati terlalu cepat. Mereka berdua pewarisnya. Yang lain bukan.
Tapi ada satu cara yang dituliskan dan tidak pernah dilakukan.
Bunuh Aether, Hefaistos, dan orang-orang di bawah mereka, di atas Iaros, agar dirinya jadi kakak tertua yang otomatis mengemban tugas pewaris. Itu diperobolehkan oleh Narendra. Tapi tidak pernah ada yang melakukan, sebab sekali lagi, yang dididik sebagai pewaris hanya Hafaistos dan Aether.
Kemampuan mereka di aras semua Narendra.
Meja hening. Semua mata tertuju pada Iaros.
“Paman,” panggil pria itu. “Aku ingin mengajukan pertarungan sehat. Aku ingin jadi pewaris.”
Orang gila, tawa Dios dalam hati.
Iaros adalah anak kesepuluh jika seluruh Narendra disatukan, jadi dia harus membunuh sembilan orang agar meraih posisinya itu. Atau dia mati.
__ADS_1
Ini lebih gila dari permintaan menyatukan setengah Narendra dan Narendra murni.
“Apa yang terjadi?” Orion, ayahnya Aether alias kepala keluarga saat ini bertanya pada semua orang selain Iaros. “Deimos?”
Orang yang namanya disebut melirik Iaros. “Entahlah, Paman. Aku juga baru mendengarnya.”
“Haruskah saya bertanya lagi, Aether?”
Aether menatap datar ayahnya. “Apa itu penting sekarang? Anda harus memutuskan menerima atau menolaknya dengan alasan.”
Tidak. Alasan tidak boleh membunuh itu sendiri tidak bisa diterima, jadi jika permintaan Iaros ditolak, Orion harus memberi alasan yang benar-benar setimpal. Karena peraturan mengatakan bunuh pewaris mutlak jika ingin naik ke posisi pewaris.
Ini mulai diluar kontrol. Mau tak mau Aether berpikir demikian.
“Iaros.” Ainias, ayahnya Iaros, kini buka suara. “Berikan alasanmu mengajukan permintaan membunuh saudaramu terang-terangan.”
“Apa alasan 'aku hanya ingin' tidak bisa disebut alasan?”
“Tuan Muda.” Hera turut berbicara. “Saya mohon maaf berbicara, tapi jika Anda mengatakan Anda hanya ingin, kami pun bisa mengatakan bahwa alasan Anda tidak cukup kuat. Posisi yang Anda inginkan membutuhkan kekuatan mental dan alasan Anda mencerminkan hal itu.”
Perkataan Hera jelas adalah tantangan terselubung. Dia agak agresif karena sasaran paling utama permintaaan Iaros adalah suaminya, Aether.
Tapi itu mudah diduga, jadi Iaros sudah menyiapkan jawaban.
“Untuk memiliki apa yang aku inginkan.” Iaros menjawabnya tanpa ragu. “Hal yang kuinginkan tidak bisa kudapatkan kecuali aku menduduki posisi itu.”
...*...
__ADS_1