
"Menjadi orang terlemah dalam keadaan apa pun memang menyebalkan, kan?" ucap halusinasinya lagi.
Kamila menutup matanya dan berusaha keras tidak berteriak. Tak ada satupun yang berhasil, tak ada satupun yang bisa ia lakukan.
Meski sudah meniduri Aether, meski sudah membuat Hefaistos kasihan, meski sudah menarik perhatian Zefirus, Kamila masih terseok-seok seperti yang dulu.
Ia menyesal. Seharusnya saat itu Kamila berlari saja. Bahkan kalau mustahil bagi kakinya lari dari kejaran Narendra, setidaknya Kamila punya satu persen kemungkinan bisa bebas daripada harus terjebak.
"Hei, Kamila. Apa yang membuatmu ragu?"
Kamila terus berusaha tidak menangis.
"Apa yang membuatmu tidak melakukannya? Apa? Kamu berpikir situasi sekarang masih terkendali? Atau kamu berharap keajaiban terjadi?"
Tidak, jawab Kamila dalam dirinya sendiri. Pada akhirnya tak bisa menahan tangis. Aku tidak menunggu keajaiban.
Seolah dapat mengerti dan memang karena dia hanya halusinasi, kembaran Kamila itu berkata, "Kalau begitu lakukan. Lakukan tanpa ragu. Dengan begitu, semua hal terbayarkan, dan kamu membungkam Iaros."
"...."
"Pengawal Ribia mungkin terluka parah. Kamu yang bertanggung jawab untuk hal itu, kan?"
Aku tahu. Kamila beranjak, mengusap air matanya saat ia meninggalkan tempat tidur, berdiri di dekat jendela.
Pertandingan di dalam, entah Aether yang menang atau Iaros yang menang, semuanya tidak membuat Kamila bahagia.
Persetan dengan bagimana nasib Narendra. Persetan dengan bagaimana Iaros menginginkannya atau bagaimana Aether akan melindunginya.
Dada Kamila sesak. Itu yang lebih pasti baginya.
Maka dari itu Kamila ....
__ADS_1
"Kamila?" Suara Lily terdengar di belakang, mengejutkan Kamila.
Namun saat ia berbalik, Kamila tersenyum, karena ia telah berdiri di atas pembatas balkon.
"Apa yang kamu lakukan?" Lily berbisik kosong. "Kenapa kamu berdiri di sana? Turun dari sana, Kamila."
"Kakak."
"Turun!"
"Aku lelah." Kamila sedikit merasa bersalah, meski tak lagi mau mundur. "Jaga diri Kakak dan Ibu."
Sebelum Lily sempat berlari menariknya, tubuh Kamila terhuyung ke belakang, dan pijakannya pun menghilang. Meski takut akan rasa sakit yang beberapa detik lagi akan ia rasakan, Kamila tetap tersenyum.
Akhirnya ada sesuatu yang cukup berguna ia lakukan.
Dan ... dengan begini Kamila juga membantu Iaros.
Karena dia ... memang pembunuh.
...*...
"Siapa yang mengawasi Kamila?"
Ares menoleh pada pertanyaan adiknya itu ketika Iaros dan Aether saling menghindari tebasan sekaligus saling berharap bisa menebas di sana. Berbeda dari semua orang yang teganh, Demeter tidak terlalu peduli bagaimana pertarungan itu berlangsung.
Dalam kepala Demeter mungkin siapa pun pemenangnya tidak penting. Karena dia akan selalu menyusun rencana sesuai keadaan, bukan sesuai harapan.
"Untuk apa mengawasi dia?"
Demeter tersenyum kecil, merasa pertanyaan itu agak kurang tepat.
__ADS_1
Bahkan Demeter sudah mengawasi Kamila sejak awal.
Sejak Demeter melihat bekas Iaros dalam jiwa Kamila, Demeter sudah memperkirakan segalanya. Dan di situasi ini—tidak, sejak mendengar ada situasi semacam ini, kemungkinan gadis itu sudah memikirkannya.
Cara menampar Iaros.
Cara mengakhiri penderitaannya.
Cara untuk membungkam semua orang tanpa mengotori sejarah Narendra.
Ah, Demeter sangat menunggunya. Bukankah sudah ia bilang, ia tahu bagaimana cara menghentikan Iaros? Demeter sangat ingin mengakhirinya dengan dua hal itu.
Iaros membunuh Kamila atau Kamila membunuh dirinya sendiri karena Iaros.
Mana saja, Demeter akan puas.
"Melihatmu terangs*ng pada pikiranmu sendiri, kurasa itu jauh lebih menyenangkan daripada pertarungan mereka." Ares menyeringai. "Kamu tidak ingin memberitahuku, Adik Manis?"
Demeter mendongak. Dalam hati ia menghitung.
Darah Iaros terbuang, darah Aether terbuang, ketegangan meningkat, semua orang bertanya-tanya siapa yang akan berhasil melumpuhkan siapa.
Tapi ....
"AAAAAKKKKKHHHHH!"
Tepat saat jeritan Lily terdengar, Demeter tertawa terbahak-bahak.
Dia benar-benar melakukannya.
...*...
__ADS_1