Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
66. Cara Agar Iaros Menyerah


__ADS_3

"Aku tidak menyangka akan dipanggil." Demeter tersenyum lebar menjatuhkan dirinya ke pangkuan Zefirus begitu datang.


Dalam ruangan ini sekarang, Zefirus adalah kakaknya yang paling suka berbuat masalah, dan Demeter selalu menyukai seseorang yang bermasalah.


Aether menghela napas sebelum duduk tegak. Mau tak mau harus bertahan karena persoalan ini butuh diselesaikan olehnya.


"Aku hanya bisa menebak ini pasti soal Kamila dan Iaros," ucap Deimos. Ikut mengambil wiski di meja setelah mendudukan dirinya di sisi Aether. "Lalu, kenapa anak nakal itu dipanggil?"


Demeter yang ditunjuk pura-pura cemberut. "Kapan aku berbuat nakal?"


"Lebih tepatnya kapan kamu tidak berbuat nakal?" Zefirus mau mengarahkan seloki wiski ke bibir Demeter, tapi Aether langsung mengambilnya. Pria itu terkekeh. "Aku tahu kamu berbuat nakal dengan masuk ke kamar Kamila tanpa izin."


"Jadi, apa aku akan dihukum, Kakak?"


"Sudahi itu dulu." Aether menyela. "Ayo bicarakan hal penting dulu."


Karena Hefaistos yang memutuskan Deimos dan Demeter hadir, maka Aether mempercayakan pembukaan padanya.

__ADS_1


Hefaistos yang tahu langsung tersenyum penuh arti.


"Mengenai Iaros dan Kamila, kurasa aku ingin langsung mendengar pendapat Mawar Merah kita tersayang."


Jelas tidak ada orang lain kecuali Demeter di sana. Gadis itu memeluk leher Zefirus, duduk seperti anak kecil sambil tersenyum polos.


"Hm, apa yang Kakak katakan?"


"Demeter, tolonglah."


Perkataan Aether membuat anak itu terkekeh. Beranjak dari pangkuan Zefirus, menuju kursi Hefaistos yang bahkan tidak boleh diduduki oleh istri Hefaistos sendiri.


"Aku bisa membuat Kakak Iaros mencabut pengajuannya," ujar dia lantang. "Atau lebih seperti, aku bisa membuat Paman menolak permintaan Kakak Iaros dan Kakak Iaros berhenti bersikeras pada keinginannya."


"Caranya?" Zefirus terlihat menikmati.


"Kurasa Kakak Hefaistos sudah memikirkannya juga. Bukankah karena itu Kakak memanggil Deimos?"

__ADS_1


Semua mata sempat tertuju pada Deimos. Jelas pria muda itu kebingungan. "Aku? Kenapa aku?"


"Aku menganggap rencana itu tidak berjalan tanpamu. Aku tidak bisa, kamu bisa." Hefaistos menimpali. "Jadi lebih baik kamu yang melakukanya."


"Lalu katakan," balas Aether segera. "Adik Kecil, kamu bermaksud menikahkan Deimos dengan Kamila?"


"Ya." Demeter menopang dagu. Hanya tersenyum kecil memainkan pajangan di atas meja Hefaistos. "Jika Kakak Aether menikahi Kamila dan Lily, maka akan muncul sebuah tradisi baru pernikahan diluar anak lulusan peternakan. Tentu saja itu keputusan buruk, jadi Kakak tidak boleh melakukannya. Tapi, Kakak Hefaistos bisa melakukannya."


Otak Aether bergerak keras mencerna perkataan adiknya.


"Jika Kakak menaiki kursi Paman tanpa ada masalah, maka tidak akan terjadi pergantian pemimpin dan Kakak Hefaistos akan tetap pada posisinya sekarang. Kakak Hefaistos memiliki keistimewaan dalam posisinya sebagai 'pengganti Kakak Pertama', tapi tindakannya tidak akan menjadi masalah sebesar tindakan Kakak Pertama, yaitu Kakak. Jika Kamila dan Lily menikahi Kakak Hefaistos dan Deimos, maka tidak akan muncul tradisi, tidak juga muncul sebuah penolakan."


"Iaros masih menjadi masalah."


Demeter menyeringai. "Bukankah tidak lagi menjadi masalah jika Kakak Iaros menyerah?"


Sudah kuduga ini menarik, pikir Zefirus menangkap sedikit demi sedikit isi pikiran adiknya. "Bagaimana caramu membuat Iaros menyerah? Kamu tahu betul, kan, nama Narendra di belakang Iaros mencegahnya tersentuh dari rasa terhina ataupun secara fisik. Bagaimana kamu membuatnya menyerah tanpa menghinakannya atau membunuhnya?"

__ADS_1


"Bukankah sudah kubilang di awal?" Demeter tersenyum manis. "Aku bisa membuat Kakak Iaros menyerah."


*


__ADS_2