
"Kamila."
Mengangkat wajahnya dari bantal yang baru diganti, Kamila terduduk ketika Iaros mendekat. Pergelangan tangan dan kakinya sudah sakit akibat belenggu besi, tapi tidak lebih sakit dari perasaannya setiap kali Iaros muncul tanpa ada niatan melepaskan Kamila.
Saking frustasinya bahkan Kamila mulai tidak tahu ini sudah hari ke berapa. Mungkin masih tiga, mungkin malah sudah seminggu. Ia hanya duduk di sini, berbaring dan termenung di sini, lalu menangis di sini.
"Aku membawakan sesuatu untukmu." Iaros meletakkan kotak besar di atas lantai sebelum dia duduk di kasur empuk Kamila.
Kotak itu terbuka, lalu Iaros mengambil sebuket bunga mawar putih dan merah yang disatukan.
Tak hanya itu, dia mengeluarkan kotak perhiasan yang bukan ditempa oleh Narendra. Juga baju yang tidak memiliki pola mawar milik Narendra. Sepatu yang tidak diberi hiasan mawar milik Narendra. Sampai makanan manis yang diletakkan di dalam kotak transparan mirip piring, yang biasanya tidak boleh disajikan untuk Narendra karena tidak sehat
Kamila hanya memandangi semuanya getir. Apa sebenarnya ia di mata Iaros? Benar-benar sebuah boneka?
"Kamu berkata kamu ingin sekali mencoba permen kristal." Iaros menyerahkan gelas emas berisi bongkahan kecil permen bak berlian. "Ini, makanlah."
Kamila mengepal tangannya kuat-kuat. Perasaan marah justru menggunung di hatinya. Kenapa Iaros berubah? Dulu dia tidak seperti ini. Dulu dia sangat memahami Kamila dan tahu apa saja yang bisa menyakiti Kamila.
Sekarang dia justru menghina Kamila sambil tersenyum seolah dia tidak berbuat apa-apa!"
"Aku tidak lapar."
"Begitukah? Lalu bagaimana dengan ini? Ini mahkota bunga mawar langka yang kamu suka. Kita tidak sempat membuatnya ketika di kastel mawar, tapi di sini ada banyak yang bisa digunakan. Atau kamu ingin—"
"AKU TIDAK MAU!" Kamila melempar buket bunga mawar bersama gelas emas berisi permen kristal itu. "AKU TIDAK BUTUH APA PUN DARI TANGANMU JADI MENJAUH DARIKU!"
Iaros menatapnya tanpa ekspresi. "Aku membawakan apa yang kamu sukai. Semuanya."
__ADS_1
"Lalu aku harus berterima kasih pada perlakuanmu?!" Kamila terlalu marah untuk peduli ia melempar perhiasan di tangan Iaros.
Saking kerasnya terlepar, itu justru mengenai wajah Iaros hingga goresan di pipinya tercipta.
"Keluarkan aku dari sini!" teriaknya frustrasi. "Kembalikah aku pada Ibu! Aku tidak sudi tinggal denganmu atau melihatmu lagi! Menjauh dariku, dasar menjijikan!"
Iaros mengusap darah di pipinya tenang. "Istirahatlah. Kurasa kamu lelah."
Ketika dia beranjak begitu saja seakan Kamila hanya harus tidur agar kembali senang, kemarahan Kamila justru makin meluap. Ia bangkit mengejar Iaros, tapi tersandung oleh rasa sakit di kakinya saat Iaros mulai menaiki tangga yang diturunkan untuknya bisa naik.
"Dasar iblis!" Kamila meraung-raung di lantai meski kedua tangannya sakit memukuli permukaan keramik. "Pembohong! Kamu dari awal tidak mencintaiku! Kamu cuma menjadikanku pelampiasan! Aku membencimu, Iaros! Aaaaaaaakkkkhhh!"
Iaros hanya berdiri di tepi lantai atas, menyaksikan raungan Kamila yang menggegelar.
Diam-diam, tangan Iaros terkepal. Perasaannya juga sakit melihat Kamila begitu tersiksa. Tapi jika membebaskan dia adalah kehilangan dia, benci Iaros dalam kurungan yang Iaros buat.
Aku mencintaimu. Iaros berbalik, meninggalkannya bersama lantai yang tertutup menyembunyikan Kamila. Aku mencintaimu, karena itulah aku berakhir seperti ini.
"Kamu ingin hidup seperti itu selamanya?"
Kamila mengerjap pada sebuah bayangan yang muncul di depan matanya. Ia terlalu lelah menangis dan terus menangis. Kepalanya sakit. Sakit luar biasa dan Kamila berharap ia mati saja daripada harus terus merasakan ini.
Bayangan dirinya itu duduk di tepi kasur, menatapnya seolah Kamila sangat menjijikan bahkan untuk dikasihani.
"Takdirmu, apa itu bermain di tangan Iaros?"
Apa?
__ADS_1
"Tanyakan pada hatimu, Kamila. Apa kamu ingin hidup selamanya seperti ini? Menangis saat terluka. Merintih saat terpuruk. Berharap mati, berharap dunia berakhir, berharap ... seseorang membantumu."
Kemarahan Kamila kembali membumbung tinggi.
Seenaknya bicara.
Apa dia pikir Kamila tidak berusaha?! Selama dua puluh satu tahun ia hidup dalam kurungan, apa dia pikir tidak pernah sekalipun Kamila mau melawan takdirnya?
Tapi apa yang ia miliki? Ia tinggal di sebuah gunung bersuhu rendah yang dapat membunuh di malam hari. Terkurung dalam kamarnya di lantai tiga sebuah kastil di mana kastil itu dikelilingi oleh tembok tinggi sepuluh meter menjulang.
Kakaknya terus memarahi Kamila dan ibunya bersikap dingin saat Kamila tak tahu kesalahan apa yang ia perbuat. Jangankan melawan, menginjak tanah di luar gerbang pun belum pernah ia lakukan.
Jika ada tanah lain yang bisa ia pijak, itu adalah tanah dalam tembok Kastil Mawar.
Dia pikir apa yang bisa Kamila lakukan?!
Tapi meski begitu Kamila tetap berusaha. Berusaha dengan apa yang ia dibolehkan lalu Kamila berakhir di sini karena sedikit perasaan yang tidak dibolehkan!
"Iaros ... berkata dia tunduk padamu."
Kamila tertegun.
"Iaros berkata dia mencintaimu dan dia hanya milikmu."
Bayangan itu menunduk, menatapnya lekat-lekat.
"Mengapa kamu yang terbelenggu saat monster itu yang tidak bisa hidup tanpamu?"
__ADS_1
Dalam sekejap bayangan itu hilang bersamaan dengan Kamila merasakan lonjakan detak jantungnya.
...*...