Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
74. Aku Menolak


__ADS_3

“Nona ingin melakukan sesuatu?”


Ribia terdiam murung oleh pertanyaan Agav itu.


“Aku ingin melakukan sesuatu,” gumamnya lemah. “Aku merasa seperti perlahan-lahan semuanya hancur dan aku hanya diam menunggu kapan itu hancur total.”


“Maka lakukan yang ingin Nona lakukan.”


“Apa? Aku bahkan kebingungan memikirkan kenapa Kakak Iaros melakukannya. Aku tidak tahu bagaimana aku harus mendorongnya.” Ribia menunduk. “Aku merasa apa pun yang aku lakukan, itu tidak ada artinya.”


Agav menghela napas. “Bagaimana jika saya berkata itu karena Nona terlalu mencemaskan hal yang sejujurnya tidak perlu Nona cemaskan?”


“Apa?”


“Seorang Narendra adalah Narendra, Nona.”


Ribia terpaku saat Agav berlutut di samping sofanya, meraih lembut tangan Ribia dan mengecupnya halus.


Dia tersenyum manis. Senyum yang selalu Ribia sukai dan selalu jadi hal favorit baginya ketika gelisah.


“Nona mungkin membenci pola pikir Nona Demeter, namun apa yang Nona Demeter lakukan, bagi saya, adalah yang terbaik. Sebab beliau melakukannya untuk diri beliau sendiri.”


Tangan Ribia terasa hangat ketika Agav membungkusnya.


“Tentu Nona Kamila penting bagi Nona, namun ayo berhenti memikirkan demi siapa pun kecuali diri Nona. Lakukan yang Nona mau, yang mencegah Nona terluka, yang nyaman untuk kehidupan Nona, kemudian baru Nona meluangkan waktu jika memang Nona memikirkan Nona Kamila.”


Sesuatu ... yang dirinya inginkan?


Ribia menatap jemari tangannya yang bergetar. Memutar otaknya untuk berpikir apa itu sesuatu yang benar-benar ia inginkan di situasi sekarang.

__ADS_1


“Aku tidak ingin melihat saudaraku terluka, siapa pun itu.”


“Maka lakukan yang Nona ingin lakukan.”


Tangan Ribia terkepal, mendadak bisa memikirkan hal.


Baiklah. Ia bukan Demeter, juga bukan Aether, bukan Hera atau siapa pun.


Ribia ... hanya tidak ingin kedamaian keluarga mereka terguncang oleh keegoisan semua orang.


Tidak. Ribia juga egois dan keegoisannya adalah semua orang berhenti egois.


...*...


“Paman.” Demeter tersenyum kecil ketika Orion melihatnya berdiri di sisi Iaros.


Biarpun Iaros yakin tak mungkin begitu saja Demeter mengikuti langkahnya, pertemuan ini akan menentukan hal utama dalam rencana Iaros.


“Demeter.”


“Ya, Paman?”


“Apa kedatanganmu bersama Iaros adalahh penegasan kamu mendukung permintaannya?”


Demeter tersenyum halus. Dan Iaros melihatnya.


Jika Demeter tersenyum, mau senyum apa pun, yang membuat dagunya terangkat, maka dia hanya sedang bermain-main. Meremehkan, meyakini kemenangannya secara absolut, menikmati waktu terbuang-buang percuma.


Tapi jika dagunya turun, Demeter dalam mode serius. Apa pun yang dia katakan, yang paling harus dipercaya adalah apa yang ada di kepalanya.

__ADS_1


“Tidak, Paman.” Demeter menjawab manis. “Aku datang menemani sekaligus mendengar. Paman harus percaya bahwa aku tidak menginginkan pembunuhan terjadi dalam keturunan Narendra yang aku cintai.”


Mata Orion langsung bergeser pada Iaros. Ketika keheningan menguasai mereka, pintu ruangan tiba-tiba diketuk, dan muncul Tethia bersama Ainias, ayah Iaros.


Begitu mereka bertiga duduk bersama, Orion mengambil postur. “Kalau begitu, mulailah, Iaros.”


Iaros memutuskan berdiri. Berjalan mendekati jendela untuk menutupnya, hanya agar tercipta suasana yang lebih tenang dari suramnya cahaya.


“Namaku Iaros,” ucapnya lantang. “Nama yang sama dengan nama anak haram Trika Narendra, yang tidak tercatat dalam sejarah kita.”


Tethia langsung tersenyum.


“Dikatakan bahwa Iaros dibawa memasuki Narendra saat berusia sembilan belas tahun. Kepribadiannya pemberontak, dan menentang Trika Narendra sampai kematian Trika datang. Trika Narendra memutuskan mati karena Iaros dan Lissa Makaria Narendra.”


“....”


“Dia hidup dalam belenggu Trika, lalu berpindah menjadi peliharaan Lissa, seumur hidupnya tidak memiliki kebebasan selain menjadi bagian dari Narendra yang dia benci. Tapi, dalam buku harian Lissa Makaria, terdapat tulisan tangan Iaros. Dia berkata dia akan tetap memilih Lissa bahkan jika ada kesempatan waktu berputar.”


Iaros menarik napas, selesai dengan pembukaannya. Maka setelah itu, yang perlu ia katakan adalah intinya.


“Aku bukanlah Iaros di masa lalu.” Ada perasaan dendam dalam diri Iaros saat mengatakannya. “Aku bukanlah anjing peliharaan Lissa Makaria, atau anak hasil inses yang tidak memiliki hak namun diperjuangkan hidup oleh Trika. Aku Iaros dan nama belakangku Narendra.”


Iaros menatap mata ayahnya lurus-lurus.


“Aku ingin menciptakan sejarahku sendiri. Bukan mengikuti sejarah para leluhur yang sudah mati.”


Nyaris bersamaan dengan Orion akan membuka suara, pintu ruangan yang seharusnya tidak boleh dimasuki tiba-tiba terbuka, disusul sebuah suara manis yang tegas.


“Aku menolak!”

__ADS_1


Ribia berdiri di sana.


...*...


__ADS_2