
Hera memang menunggu sesuatu terjadi sesuai keinginan Demeter, tapi sepertinya ia terlalu fokus pada Aether dan Iaros sampai lupa, kalau sebenarnya Kamila adalah pusat pertarungan ini.
Waktu Demeter tertawa di bawah sana, Hera langsung berbalik.
"Tuan Muda!" Hera meneriakkan panggilan pada Deimos yang paling dekat dengannya.
Dia langsung berlari ke sumber suara, disusul yang lain bergerak.
Zefirus yang berada di dekat arena ikut mendongak. Pria itu melihat Aether tertegun, dan nyaris semua dari mereka dibuat merinding okeh tawa manis Demeter.
Anak itu senang.
Sesuatu yang bisa membuat Demeter senang di situasi ini hanya hal mengerikan.
"Aether! Hefais!"
Keduanya tersentak akan panggilan Zadirus, tapi ikut bergerak ke lantai atas.
Satu-satunya yang terdiam adalah Iaros. Aliran darah Iaros sekarang terasa deras. Seluruh tubuhnya panas dan tulang rusuknya retak. Genggaman Iaros pada pedangnya juga masih kuat.
Iaros masih percaya diri mengalahkan Aether.
Tapi ....
__ADS_1
"Kakak menyentuh sesuatu yang berbahaya, Kakak tahu aku tidak akan pernah membantu Kakak."
Demeter! Iaros pikir dia akan bertindak setelah Iaros menurunkan Aether yang Demeter tolak kekuasaannya, tapi dia memilih Aether daripada Iaros?!
Otak Iaros bergerak cepat. Semua orang ke atas dan Demeter tertawa. Kalau begitu ... Kamila di bawah!
Iaros berlari keluar alih-alih menaiki tangga. Pikirannya memang dipenuhi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Akan tetapi saat Iaros berjalan mendekati Kamila yang bersimbah darah, Iaros merasa waktu telah berhenti berputar.
"Kamila?" Pria itu berlutut. Meraih wajah Kamila meski seketika itu tangannya dikotori oleh cairan berbau anyir. "Kamila? Apa yang kamu lakukan? Hei, berhenti bercanda. Aku sedang memukul Aether agar kita bersama. Kamila."
Sebuah kaki berbalut heels mawar berhenti di dekat tubuh Kamila. Iaros mendongak, mendapati Demeter tersenyum.
"Padahal akan kubantu jika mengemis. Kakak ternyata lebih suka seperti ini."
"Apa yang kamu lakukan pada putri Narendra, bocah sialan?"
Raungan Iaros memenuhi tempat itu segera. Deimos dan Hefaistos melompat turun dari jendela tanpa berpikir. Namun mereka mendarat mulus, segera mengambil tubuh Kamila.
"Dia masih bernapas. Siapkan medis segera. Medea, pastikan stok kantong darah cukup. Hera, panggil Dokter Yuda sekarang juga!"
Demeter melihat semua orang kacau, dan tetap tersenyum menikmati.
Pada wajah Aether yang pucat pasi, pada Iaros yang meraung tanpa henti, pada Kamila yang dibawa oleh petugas medis keluarga mereka.
__ADS_1
Tidak. Demeter bukan tertawa karena semua berjalan sesuai rencana. Ini bukan rencana Demeter. Sama sekali bukan.
Apa pernah Demeter menyuruh Kamila lompat? Tidak. Tapi ia tahu Kamila akan melakukannya.
Apa Demeter tidak memperingati Iaros? Demeter memperingatinya. Iaros yang tidak tahu diri.
Apa Demeter tidak memberitahu Aether? Tidak. Karena segala kekacauan ini sedikitpun bukan tanggung jawab Demeter.
"Ini gila." Ares memutuskan ikut tertawa di sampingnya. "Kamu seharusnya memberitahuku ini lebih awal, adikku."
"Aku tidak suka berbagi komedi, Kakak."
Lucu, kan? Semua orang sibuk melakukan ini dan itu, padahal yang diperebutkan cuma mau satu hal.
Dia cuma mau mati karena sudah lelah hidup.
"Padahal sudah aku bilang berulang kali dan terus-menerus tanpa bosan." Demeter memiringkan wajah dengan dagu terangkat. "Aku tidak suka namaku tercoreng, tidak juga suka Kakak Aether memimpin, dan sama sekali tidak senang dengan kisah cinta Kakak Iaros. Kenapa tidak ada satupun yang memikirkannya? Sangat menyedihkan."
Ares membungkuk, mengecup bibir Demeter. "Tapi nampaknya kamu tidak benar-benar mengusir Aether. Kenapa? Kamu memberinya kesempatan kedua karena dia memohon?"
Demeter terkekeh. "Aku hanya merasa belum waktunya sejarah berubah."
*
__ADS_1