Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
44. Kurungan Iaros


__ADS_3

"Apa Iaros memaksamu?"


Kamila membuat senyum kecil saat tangannya terulur pada Zefirus. Demamnya masih cukup parah terasa, tapi Kamila juga merasa sehat ketika tidak ada dari mereka bertiga yang meninggalkannya.


Jika Kamila memiliki mereka bertiga, tidak ada satu tangan pun yang akan menyentuhnya lagi.


"Ya." Kamila menjawab pertanyaan Hefaistos seraya menikmati usapan Aether di kepalanya. "Orang itu menjijikan."


"Menjijikan?" Zefirus menyeringai. Dia menyambar pergelangan tangan Kamila, membuatnya langsung meringis sakit. "Bekas apa di tangan dan kakimu ini, Adik Kecil?"


Kamila kembali tersenyum. "Dia mengurung saya dengan rantai. Tidak membiarkan saya pergi ke mana pun tanpa izin."


"Lalu?" Hefaistos membelai bibirnya. "Apa karena dia menjijikan, jadi sekarang kamu menggoda kakakmu?"


Kepalanya bersandar semakin nyaman pada Aether ketika Kamila tertawa tanpa suara. "Bisakah Anda memaafkan perbuatan saya, Tuan Muda? Saya hanya menyadari bahwa Anda jauh lebih baik daripada pria menjijikan itu."


"Apa yang membuatmu berpikir kami lebih baik?" Aether berbisik di puncak kepalanya. "Aku bisa mengurungmu lebih dalam dari yang Iaros lakukan."


"Maka kurung saya." Kamila menjawab ceria. "Jadikan saya boneka cantik Anda yang hanya tahu merangkak untuk Anda."


Zefirus terkekeh. "Anak kecil ini memikirkan hal berbahaya."


"Apa Anda tidak menyukai rasa saya, Tuan Muda?"


"Hm? Aku cukup menyukainya. Permainan yang polos dan pasif."


Dengan sengaja Kamila membuat ekspresi murung, tapi Hefaistos datang menjemput bibirnya lembut.


Satu per satu dari mereka beranjak, memasang pakaian mereka sementara Kamila hanya berbaring sakit.


"Apa Anda akan pergi?"

__ADS_1


Aether menepuk keningnya lembut. "Tidurlah sekarang. Aku akan kembali nanti."


Di luar kamar setelah mereka mengunci pintu ruangan, Hefaistos langsung berkata, "Aku tidak mengerti mengapa kamu mengikuti permainan Kamila yang begitu jelas."


Jelas mereka bodoh jika tidak menyadari Kamila sedang ingin memegang tali mereka. Dengan kata lain, Kamila ingin berpegang pada tuan muda yang kekuasaannya lebih kuat dari Iaros untuk membalas perbuatan Iaros.


"Bukannya Zefirus berkata biarkan Kamila yang membenci Iaros?" Aether mengacak rambutnya tanpa ekspresi. "Maka biarkan dia membenci Iaros dengan cara ini."


"Aku cukup menyukai tubuh Kamila." Zefirus lebih dulu berlalu. "Kurasa ini lebih menyenangkan dari dugaan awalku."


Hefaistos mendengkus.


...*...


Suara langkah kaki yang tenang dan anggun. Iaros menghafal suara langkah ini.


Meski sedang tak ingin bertemu siapa-siapa, Iaros mendongak, memandangi Demeter, adik kandung Dionisos, adik beda ibu Iaros.


Wajah cantiknya sekilas tampak sangat mirip dengan Dionisos. Tapi berbeda dari Dionisos yang memiliki wajah sinis, Demeter memiliki garis wajah lembut yang menipu.


"Apa Kakak menikmati penghinaan ini?"


Iaros hanya diam.


Sikap yang membuat Demeter membuka kunci jeruji, masuk mendekati Iaros.


Wajahnya langsung berpaling ketika Demeter mengulurkan tangan. Iaros tak bisa menepis sebab terbelenggu rantai.


"Kakak masih saja bersikap dingin." Demeter meraih paksa wajahnya. Berlutut saat kini wajahnya dan Iaros tak dipisahkan oleh apa pun selain jarak dua senti meter. "Jika Ibu Hilaeira masih hidup, Kakak mungkin akan dicambuk siang malam tanpa henti."


Iaros tetap berusaha menjauh.

__ADS_1


"Aku bisa membebaskan Kakak jika aku mau."


"...."


Demeter merampas rahang Iaros kasar, menatapnya dengan mata berkobar. "Selagi aku masih bersikap baik, bukankah Kakak harus sedikit memahami apa yang harus Kakak lakukan?"


Rahang Iaros mengetat. Tapi dari semua orang yang ia tahu, Demeter memang wanita paling buruk.


"Aku tidak butuh," balasnya dingin. "Pergilah."


"Kakakku yang malang. Masih saja bersikap setia pada satu wanita. Apa Kakak tahu apa yang wanita Kakak lakukan?"


Tubuh Iaros menegang. "Kamila!"


Demeter tersenyum licik. "Entah mengapa Kakak Aether, Kakak Hefaistos dan Kakak Zefirus berdiam 'sangaaaat' lama di kamar Kamila berada."


Reaksi Iaros seolah sudah diperkirakan oleh Demeter. Pria itu memberontak, ditelan oleh kemarahan dan kegelisahan tak tertahankan.


"Sshhh. Kakak, tenanglah. Percuma memberontak. Besi ini bahkan tidak bisa dihancurkan oleh Kakak Aether sendiri." Demeter menarik kasar rambut Iaros padanya. "Karena itu kuminta pada Kakak Pertama, mulai sekarang, akulah yang akan bertanggung jawab atas hukumanmu."


Pikiran Iaros lebih tertuju pada Kamila.


Tidak mungkin terjadi sesuatu.


Tidak mungkin Kamila—


Tidak.


Bahkan jika tidak mungkin, Aether, Hefaistos dan Zefirus memasuki kamar wanitanya saat Iaros tidak ada.


Jika mereka menyentuh Kamila, akan Iaros habisi bahkan jika harus melawan seluruh Narendra.

__ADS_1


...*...


__ADS_2