
Saat Iaros datang ke kamar Kamila esok harinya, dia masih dalam pengaruh obat tidur. Dosis yang diberikan memang rendah tapi tubuh Kamila tidak terbiasa dengan obat hingga tidak memiliki resistensi.
Ketika dia tidur, Iaros melihat ada kegelisahan di wajahnya. Ia mendekat, menyeka air di dekat pelipisnya.
"Padahal sudah kubilang jangan menangis." Iaros mengecup bibirnya sebelum beranjak ke lemari.
Di sana sudah tersusun serentetan pakaian untuk Kamila tiga minggu kedepan. Sejumlah pakaian dalam, sepatu dan mantel dingin, lalu ... buku harian.
Benda ini, kalau tidak salah Iaros lihat saat mereka bertemu di ruang lukisan.
Iaros saat itu tidak punya waktu membukanya. Jadi sekarang ia mengintip, agak terkejut mengetahui ini buku harian Kamila leluhur mereka.
...Aku mencintai Iaros. ...
Iaros mengerjap.
Mendadak, kepalanya memutar percakapan antara ia dan ibunya dulu.
"Iaros adalah nama anak haram Trika Narendra dahulu."
"Kenapa namaku harus nama anak haram, Ibu?"
Wanita yang melahirkan Iaros itu menatapnya tanpa ekspresinya ketika berbisik, "Trika Narendra adalah wanita luar biasa yang berjasa membangun Narendra bersama Lio Narendra. Dia juga wanita kesayangan Lio Narendra. Mahakarya terbaiknya bukanlah Al Areza atau Kaisar Erebus. Mahakarya terbaiknya adalah Iaros."
Mahakarya.
Ibunya Iaros hanya memandang ia sebagai sebentuk 'mahakarya'. Tapi saat itu Iaros hanya diam, karena sudah terbiasa dengan ibu.
Apa yang ibunya mau adalah ia menjadi mahakarya hebat bernama Iaros. Meski bukan pewaris, ia harus melampui semua kakak-kakaknya. Sama seperti Iaros yang melampaui semua Narendra karena dia anaknya Trika.
__ADS_1
Wanita luar Narendra yang dianggap sebagai seorang Narendra murni.
Iaros membaca kilat buku harian itu, sebelum mengalihkan mata pada Kamila.
Jadi begitu.
Di buku harian ini, Kamila mencintai Iaros namun tidak berakhir dengannya karena Iaros lebih memilih Lissa Makaria Narendra.
Apa dia terpengaruh dengan buku ini? Iaros menimbang-nimbang haruskah ia buang saja, tapi batal setelah memikirkannya lagi.
"Tidak penting." Iaros meletakkannya kembali. Duduk di tepi kasur, menatap lembut pada gadisnya. "Jika Iaros dulu tidak memilih Kamila, maka Iaros sekarang memilih Kamila. Lagipula, Iaros-mu ini tidak memiliki Lissa."
*
Ribia tak menyangka kalau ia benar-benar akan mendengar ini.
Dan apa yang ia dengar membuatnya tidak dapat bernapas.
Karena di tempat Kamila, setelah sekian lama ia terpengaruh obat tidur, Kamila terbangun. Terkejut menemukan Iaros berbaring di sebelahnya tak mengenakan atasan saat memeluk Kamila.
"Tuan Muda!"
Iaros tersenyum kecil. "Kamu sudah bangun?"
"Kenapa Anda berada di sini?"
"Lalu aku harus berada di mana?" Iaros datang mengecup keningnya. "Aku memang meminta liburan ini agar bisa berbulan madu. Denganmu."
Kamila tertegun. Bagaimana bisa dia sedikitpun tidak memikirkan posisi Helen?
__ADS_1
"Saya tidak mau. Tolong kembali ke kamar Anda."
"Ayolah. Kenapa juga aku harus ke kamarku saat gadisku berbaring manis di sini?"
Semudah itu bagi dia.
Semudah dan sesepele itu bagi dia, segala hal yang Kamila tangisi.
Rasanya Kamila terbakar di atas bara api menyala-nyala. Ia menatap Iaros penuh kebencian. Benci padanya karena mencintai dia begitu dalam dan ia tak bisa berbuat sesuka hati seperti Iaros, ketika Iaros mempermainkannya dan bebas berbuat sesuka hati padanya.
"Anda menjijikan."
Iaros membeku.
Perkataan itu mau tak mau membawanya pada masa lalu.
"Kamila, ingatanmu—"
"Bagi Anda mudah!" Kamila tersekat dan nyaris tercekik oleh suaranya.
Tapi ia terlalu marah untuk peduli.
"Bagi Anda mudah datang ke sana datang ke sini sesuka hati! Anda memaksa saya datang! Saya bilang saya ingin pulang, tapi bagi Anda mudah! Tinggal perintahkan saja dan saya harus patuh karena saya hanya setengah Narendra!"
"Kamila, aku minta maaf—"
"Saya tidak mau memaafkan Anda!" Kamila menjerit. "Saya tidak pernah mau memaafkan pria menjijikan seperti Anda!"
*
__ADS_1