Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
50. Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

Kamila tersekat menyaksikan pemandangan dirinya dan Iaros duduk bersama di bawah pohon tempat mereka biasa duduk bersama. Ia merasa seperti sedang bermimpi, tapi mimpi ini juga terasa sangat nyata.


"Apa sekarang kamu ingat?" Sosok halusinasi berdiri di sampingnya.


Segala informasi mengalir di kepala Kamila. Dan pemandangan itu, pemandangan Iaros tiba-tiba mencium bibirnya dan Kamila terdorong ke pohon, seolah membuktikan segalanya.


"Kamu gelisah ketika Iaros semakin hari semakin suka menyentuhmu." Halusinasinya berbicara. "Tapi kamu tidak menolak karena Iaros adalah Tuan Muda. Kamu pun tertarik dengan interaksi lawan jenis. Meski begitu ... kalian saudara, itu yang kamu pikirkan."


Kamila mematung. Tak dapat bersuara saat seluruhnya berganti menjadi malam yang ia habiskan bersama Iaros.


Wajah Kamila kecil menghadap langsung padanya. Iaros memeluk Kamila dari belakang hingga mungkin dia tak tahu bahwa gadis itu ... tampak tidak nyaman.


"Kamu terus menahannya karena Iaros. Kalian teman, kalian sahabat, kalian saudara, kalian Narendra. Kamu mencari alasan untuk dirimu sendiri demi membela Iaros. Kenapa? Dirimu pun pasti tidak tahu kenapa."


Saat seluruh dunia itu berganti dan Kamila mematung, halusinasinya menghilang.


Apa yang ada di depan mata Kamila hanya seorang gadis terduduk kosong, menatap seeonggok mayat pria tampan yang jantungnya berlubang.


Kamila bergerak kaku menggeser pandangannya ke sudut ruangan. Pada Iaros yang berjalan memegang jantung seseorang, lalu berjongkok meletakkannya di tangan Lily.


"Jangan menyentuh milikku," kata Iaros pada Lily.


"Dia seenaknya berkata kamu miliknya tanpa bertanya kamu ingin atau tidak."

__ADS_1


Suara di benak Kamila terasa bergema.


"Dia membunuh satu-satunya harapanmu karena dia merasa miliknya direbut. Setelah itu dia pergi, memaksamu melupakan semuanya sendirian, lalu kembali dengan skenario baru di tangannya."


Perlahan, Kamila merasa seluruh informasi itu rampung di kepalanya. Segalanya mulai jelas dan ia dapat mencerna.


Hal selanjutnya yang terjadi ... hanya gema teriakan Kamila di kepalanya sendiri.


...*...


"Kamu sepertinya tidak terkejut dengan ini." Zefirus membaringkan tubuh Kamila baik-baik ketika mendadak kesadarannya hilang. "Apa yang akan kamu lakukan?"


Aether sejenak diam memandangi Kamila. "Saran Demeter bukan hal buruk."


Meski pada dasarnya istri Narendra adalah budak dan tidak ada kewajiban menjaga perasaan mereka, tetap saja, kehormatan mereka adalah kehormatan Narendra.


Ini bukan soal mereka akan sedih atau tidak. Ini soal kedudukan istri Narendra akan mulai tercoreng.


Narendra tidak perlu menghormati istri mereka, tapi menghina di depan seluruh orang sama saja dengan menghina Narendra.


"Dan, apa menurutmu Paman akan terima begitu saja? Akan lebih sederhana jika Paman membunuh Iaros dan Kamila."


Aether mengerutkan kening semakin dalam.

__ADS_1


"Jika ada perubahan, maka ... mungkin harga diri Helen tidak akan dihinakan jika kamu yang menikahi Kamila."


Sudut mata Aether langsung bergerak merespons.


Ini masalah besar, pikirnya.


Zefirus benar. Jika pernikahan itu bisa dilakukan, satu-satunya yang bisa menikahi Kamila dan Lily hanya Aether.


Ia bisa menjadikan posisinya sebagai 'pewaris' utama sebagai dalih menikahi keturunan campuran demi mengakhiri perbedaan posisi mereka pada generasi selanjutnya.


Jika Aether yang menikahi Kamila dan Lily, Helen tidak akan terhinakan. Itu juga tidak akan menghina istri-istri Aether yang lain karena sekali lagi, ia menggunakan haknya sebagai tuan muda pertama.


Tapi ....


"Itu akan membentuk tradisi baru." Hera langsung memahaminya begitu Aether berdiskusi dengan mereka. "Selama enam generasi, istri setiap Narendra dididik dalam peternakan dan diasuh oleh nyonya besar. Jika Anda, dalam posisi Tuan Muda Pertama, menikahi dua wanita yang tidak dididik sebagai istri Anda, maka kedepannya akan ada tradisi boleh menikahi wanita mana pun."


"Saya berpikir Tuan Muda Iaros juga tidak akan tinggal diam." Moirae, istri Aether yang lain menambahkan. "Masalah akan jadi semakin panjang jika Tuan Muda Iaros menolak."


"Apa usulan kalian?"


Hera tersenyum penuh arti. "Mari bicarakan ini saat ada Tuan Muda Iaros di antara kita, Tuan Muda."


...*...

__ADS_1


__ADS_2