
“Tuan Muda.”
Aether melempar kasar luaran pakaiannya begitu memasuki kamar. Jelas saja kemarahan membara di wajah Aether, berusaha dia tutupi selama pertemuan sebab dalam peraturan Narendra, tindakan Iaros adalah sah.
Tapi anak itu, dia menantang Aether hanya untuk menguasai wanita yang tidak mau menerima obsesinya.
“Tuan Muda.”
“Jika aku mengajukan permintaan menikahkan Kamila dengan Narendra sekarang, maka Ayah akan tahu.” Aether menenggak kasar segelas wine yang ia tuangkan terburu-buru. “Tapi jika aku diam saja, permintaan itu akan disetujui dan pertikaian bodoh akan terjadi.”
Tidak. Sulit membayangkan Aether mati di tangan bocah ingusan yang saking cintanya malah kabur penuh kekonyolan.
Yang bahaya adalah masalah akibat permintaan itu. Belum pernah ada yang berani menyentuh ketentuan tersebut. Jika sekarang terjadi, keturunan setelah mereka juga akan mengalami hal sama.
Aether tidak akan pernah membiarkan keturunannya saling membunuh hanya untuk sebuah posisi. Tidak akan. Jadi Ayah harus menolak permintaan tolol itu.
“Hera.”
“Ssshhh.” Hera meraih wajah Aether ke dadanya, mengusap-usap halus punggung sang tuan muda tercinta. “Itu tidak akan terjadi. Anda adalah orang terbaik pada generasi Anda. Anda yang terbaik, Tuanku. Mencegah hal semacam itu terjadi mudah bagi Anda. Tenanglah.”
Jika Aether adalah manusia spesial, maka Hera adalah hal istimewa yang menyempurnakan itu. Ia merasa tenang hanya dengan bisikannya.
__ADS_1
“Jika saya boleh berbicara, Tuan Muda, mungkin Anda perlu memikirkan tindakan Nona Kamila kedepannya? Kita semua tahu pendorong Tuan Muda Iaros adalah Nona Kamila.”
Aether kembali berdiri tegak. Duduk di kursinya dan mulai memikirkan apa yang harus dia pikirkan.
“Sejujurnya aku sudah berbicara dengan suadaraku yang lain. Itu mengejutkan, mereka sepakat bahwa keturunan setengah tidak lagi bisa disebut Narendra.”
Hera datang membawakannya segelas wine lagi. “Maksud Anda, saudara Anda yang lain menyetujui pernikahan antar setengah Narendra dan Anda?”
“Ada beberapa saran. Beberapa merasa akulah yang menikahi Kamila. Beberapa berpikir aku dan Hefaistos. Beberapa lagi berpikir justru anak terakhir, termasuk Dionisos.”
Itu memang bisa dicerna. Jika Aether yang menikahi Kamila dan Lily, mungkin tidak akan ada pertentangan dari istri Narendra, namun akan muncul tradisi baru. Mengingat Aether adalah pewaris, calon pemimpin. Beda jika anak termuda. Itu tidak akan menciptakan tradisi, namun itu berarti peluang Iaros menikahi Kamila terbuka.
“Menurutmu, apa yang bisa membuat Ayah menolak permintaan bodoh itu?”
“Cara tercepat adalah memberitahu beliau perbuatan Tuan Muda.” Hera menggeleng. “Tapi saya tahu Anda tidak ingin.”
Aether tidak dibesarkan membuat keputusan yang mengorbankan orang lain. Karena ia calon pemimpin, artinya Aether harus membuat keputusan yang bisa diterima oleh semua pihak dan paling penting, tidak secara sengaja merugikan.
Iaros tetap adiknya. Adiknya yang sedang tidak waras.
“Saya rasa keputusan Tuan Besar tidak akan keluar pada minggu ini. Bagaimanapun, permintaan Tuan Muda Iaros terlalu berat.”
__ADS_1
Membunuh sembilan kakaknya secara resmi. Itu yang Iaros minta. Kemungkinan butuh sangat panjang pertimbangan.
“Tuan Muda, apa Anda keberatan jika saya melobi Tuan Besar?”
“Ayah? Kamu ingin mengambil alih masalah ini?”
“Saya hanya tidak ingin Anda terlalu lelah.” Hera mendudukan dirinya di atas pangkuan Aether. Mengusap sayang wajahnya hingga Aether terpejam. “Anda ingat bukan ini sudah bukan masa steril?”
Aether terheyak. Ia lupa.
Pernikahan Iaros adalah pembuka untuk keturunan mulai dilahirkan. Artinya Aether sebentar lagi ... juga akan punya anak.
“Aku tidak bisa memelihara masalah ini terlalu lama.” Aether semakin ditekan.
“Saya akan coba melobi Tuan Besar Utama agar meragukan Tuan Muda Iaros. Anda tolong tenangkan adik Anda. Jika Anda mengizinkan.”
Aether menghela napas. Mau tak mau tersenyum, mencium bibir Hera lembut. “Aku menyayangimu.”
“Terima kasih.”
*
__ADS_1