
Saat Kamila mempelajari apa itu agama dan bagaimana agama itu sebenarnya, dari berbagai ajaran ditekankan bahwa manusia harus selalu bersyukur pada garis takdir Tuhan.
Kamila tak pernah benar-benar memahaminya, terutama dalam kurungan sampai hari ini datang.
Ia terbangun dengan tubuh panas tinggi, demam sampai seluruh tubuhnya sakit dan lemah. Tapi ketika Kamila menoleh, ia mendapati Aether, Hefaistos, dan Zefirus mengelilingi tempat tidurnya.
Mereka pasti berkumpul agar bisa mengintrogasi Kamila. Meski begitu, Kamila malah tersenyum senang dengan air mata bercucuran akibat demam.
Apa yang ia syukuri?
Adalah pelecehan Iaros padaku. Kamila memejam nyaman saat Aether mengusap air matanya. Orang itu melecehkan seluruh sudut tubuhku. Dia melecehkan semuanya sampai aku tahu mana saja titik yang dia sukai.
Apa yang dia sukai adalah apa yang pria sukai.
Hubungan 'inses' tidak dilarang dalam Narendra. Walau jatuhnya tidak inses, namun orang-orang ini sedang menganggap Kamila adik mereka.
"Tuan Muda."
"Semua baik-baik saja, Kamila. Kami bertiga menjagamu—"
Ucapan Aether tak selesai karena Kamila duduk hanya untuk menjatuhkan diri di pelukannya.
Hefaistos melirik wajah saudara tertuanya, lalu pada Zefirus yang jelas juga menyadari gelagat Kamila.
__ADS_1
Aether punya lima istri sekarang, Zefirus tiga, sementara Hefaistos juga lima. Mereka terbiasa akan wanita sampai jelas sangat memahami apa sedang coba Kamila lakukan.
Mengapa? Itu yang mereka pikirkan.
Apa otaknya dicuci oleh Iaros sampai hasrat seksualnya meningkat? Atau tubuhnya diberi zat afrodisiak? Dugaan-dugaan itu datang, tapi mereka diam.
"Tuan Muda." Kamila mendongak dengan kondisinya yang menyedihkan itu.
Satu hal yang paling ia ketahui.
Pria adalah makhluk sesat yang sangat menyukai ketidakberdayaan wanita.
Aether memicing saat mau tak mau menerima hal itu. Otaknya sejenak berpikir apa tindakan paling tepat dalam situasi ini.
"Ada apa?" bisiknya halus.
Zefirus mengalihkan pandangan saat berpikir bahwa Kamila masih terlalu anak-anak untuk menggoda mereka.
Melihat situasi dan tanggapan Aether, Hefaistos bangkit. Pikir Zefirus, dia memutuskan untuk keluar, karena sungguh bagi mereka Kamila itu cuma anak gadis perawan yang tidak tahu cara menggunakan tubuhnya.
Tapi Zefirus terkejut sewaktu Hefaistos mengunci pintu, berbalik dengan senyum kecil di wajahnya.
Otakmu sudah tidak waras, kira-kira begitu makna tatapan Zefirus.
__ADS_1
Tapi kakaknya itu menyeringai, seolah berbisik 'biarkan adikmu menggeliat dalam perjuangannya'.
...*...
Ribia terpaku di depan pintu kamar tempat Kamila diletakkan. Wajahnya kosong, tak dapat percaya akan suara-suara tak asing dari dalam sana yang didominasi oleh suara perempuan.
"Itu ... Kakak Pertama dan Kedua?" Ribia menggumam. "Lalu, suara Kakak keempat juga. Apa maksudnya? Mereka berbuat apa?"
Bahu Ribia ditarik oleh Agav agar mundur. "Ayo, Nona. Bukan waktunya mengganggu Nona Kamila sekarang."
Ribia terlalu tercengang untuk melawan. Ia hanya berjalan mengikuti arah Agav membawanya, berhenti setelah cukup jauh dari ruangan tadi.
Tidak mungkin, pikir Ribia. Aether, Hefaistos dan Zefirus adalah orang paling waras di generasi mereka. Di antara semua saudaranya, Ribia memastikan bahwa cuma mereka bertiga yang tidak pernah menyentuh pelayan mereka, dan hanya bercinta bersama istri mereka masing-masing.
Dada Ribia naik-turun akibat napasnya yang memberat. Kepalanya mulai pening memikirkan kenapa kejadian-kejadian aneh terus bermunculan sejak pernikahan Iaros terjadi.
Kamila adalah Narendra. Selama dia Narendra, terhitung hubungan inses jika menggaulinya dalam status Narendra.
Bagaimana bisa ....
"Nona." Agav menarik wajah Ribia agar mendongak. Lantas menunduk, mengecup bibirnya lembut. "Saya menepati janji saya tentang Nona Kamila. Jadi bolehkan saya meminta hadiah?"
"Hadiah?"
__ADS_1
"Ayo diam dan saksikan pemberontakan Nona Kamila selanjutnya."
*