
Dalam berlembar-lembar buku harian Kamila, ada sebuah halaman yang tiba-tiba Kamila ingat. Itu tertulis :
...Aku tidak akan pernah bisa menang dari Lissa....
...Dia cacat, kakinya lumpuh, dan bisa mati hanya karena berlari. Tapi seluruh Narendra tunduk dan bersujud di kakinya....
...Sejak Nyonya mati, kupikir Adrestia, istri kakak pertama yang akan menguasai segalanya. Bagaimanapun, dia itu ular. Ternyata Lissa tetap yang terbaik....
...Dia menakutkan dengan senyumnya yang melampui bidadari surga....
...Tubuhnya dipenuhi kelemahan, tapi Lissa tidak pernah memandang itu kelemahan. Aku tidak pernah lupa bagaimana Lissa melompat ke danau, nyaris mati dengan tubuhnya yang lemah itu hanya untuk membuatku terpuruk....
...Semua orang tahu bahwa Lissa melukai dirinya sendiri, tapi semua orang berpura-pura itu tidak terjadi, berpura-pura sesuai apa yang Lissa inginkan, berpura-pura mempercayai apa yang Lissa buat untuk mereka....
...Aku bukan dia....
...Iaros menyukai dia, bukan aku....
Lissa Makaria Narendra dikatakan sebagai sosok yang manipulatif hingga Narendra tunduk di bawah kakinya. Dia wanita, dia lemah, dia cacat, dia terbelenggu, tapi dia penguasa Narendra.
Jika Kamila meniru dia, maka ia pun akan mendapatkan apa yang dia dapatkan.
"Semua baik-baik saja, Kamila." Aether masih mengusap punggungnya. "Semua baik-baik saja."
Kamila melirik diam-diam ke tempat Lily menyaksikannya. Tidak bisa melakukan apa-apa jika Lily ada di sana.
__ADS_1
"Tuan Muda." Jika soal menunjukkan kelemahan, Kamila sedari kecil melakukanya secara alami.
Wajahnya dipenuhi keringat dan air matanya mulai kembali mengalir.
"Ji-jika tidak kurang ajar, bisakah Anda menemani saya? Saya tidak bisa memejamkan mata."
"Kamila, aku menemanimu. Jangan menyusahkan Tuan Muda."
Aether tersenyum kecil. "Tidak apa, Lily. Pergilah beristirahat juga. Aku akan menemani Kamila sebentar."
"Tapi, Tuan Muda—"
"Lily, aku berkata baik-baik saja. Pergilah. Jangan khawatirkan aku."
Melihat Lily tidak berdaya, Kamila hanya diam. Sejujurnya ia tersadar kalau punggung Aether bukan cuma tameng yang bisa ia gunakan pada Iaros, tapi juga pada semua orang di rumah ini.
Kamila tersenyum lemah. Bersikap seolah ia sangat tidak berdaya ketika Aether menyeka air matanya.
Kakak pertama Narendra selalu memiliki dua ciri khas mutlak.
Satu, mereka paling kuat. Namun dua, mereka paling lembut.
"Tetap bersama saya." Kamila memberanikan diri menarik tangan Aether di atas dadanya. "Tetap bersama saya hingga saya bangun."
...*...
__ADS_1
Aether terusik oleh pergerakan di ruangan itu. Spontan ia terbangun, menemukan Hera baru saja meletakkan makanan di atas meja tak jauh dari tempat tidur.
"Anda tidak kembali ke kamar hingga saya mengkhawatirkan Anda." Wanita itu berbisik halus dari tempatnya berdiri. "Anda bekerja keras hari ini, Tuan Muda."
"Itu tugasku." Aether tersenyum samar. Duduk merapikan dirinya, lalu menoleh pada Kamila. Dia tertidur pulas memegang tangan Aether.
Tadinya Aether bermaksud untuk menghukum Kamila juga karena melibatkan diri dalam perasaan Iaros sampai terjadi insiden memalukan seperti ini, tapi niat Aether putus melihat Kamila menggigil di pelukannya.
Sepertinya dia benar hanya korban Iaros.
"Temani Kamila di sini, Hera. Kurasa dia masih ketakutan."
"Sesuai keinginan Anda."
Aether beranjak, bermaksud untuk pergi ke kamarnya sewaktu tangan yang Kamila pegang tak mau dilepaskan.
Gadis itu justru menggeliat, mendekatkan tangan Aether ke wajahnya. "Jangan tinggalkan saya, Tuan Muda," gumam Kamila di antara tidurnya.
Dengan sedikit usaha, Aether menarik tangannya lagi. Tapi Kamila tetap memegang itu dan semakin terlihat gelisah.
"Sepertinya Nona sangat ketakutan." Hera mendekat untuk melihatnya. "Tidak apa jika Anda menemani Nona sementara, Tuan Muda. Anggap saja Anda beristirahat. Sisanya tinggalkan pada saya."
Aether cuma bisa menghela napas. Kembali duduk di tempat tidur, mengusap-usap kepala Kamila.
Yang tidak Aether sadari adalah Hera menatap Kamila dengan mata berpendar misterius.
__ADS_1
...*...