Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
6. Jangan Marah [REVISED]


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Kamila untuk pertama kali duduk di helikopter untuk meninggalkan kastil.


Dirinya sedikitpun tidak berharap datang ke pernikahan Iaros.


Pernikahan yang boleh dihadiri oleh keturunan setengah Narendra hanya pernikahan pertama dan pernikahan terakhir, yaitu pernikahan Iaros. Ia rasanya ingin menangis sepanjang perjalanan, tapi diam karena takut Lily akan marah.


Terus terang Kamila tak tahu alasan apa yang membuat Lily membencinya.


Dulu, mereka dekat dan serupa saudara pada umumnya. Mereka sering minum teh bersama, belajar merajut bersama, pergi ke perpustakaan bersama, melakukan segalanya bersama.


Lalu tiba-tiba Lily membencinya.


Tepat menjelang pernikahannya, Lily memusuhi Kamila.


Pernikahan itu seharusnya pernikahan Kamila. Hak atas memiliki anak itu seharusnya milik Kamila.


Lily sendiri yang berkata bahwa dia tak masalah asal Kamila bahagia.


Tapi kemudian dia merebutnya lagi.


"Aku memperingatimu." Lily berbisik setelah mereka melepas headset helikopter, dan bersiap turun bersama. "Jika sekali lagi kulihat kamu dan Iaros bersama, akan kuadukan pada Ibu. Mengerti?!"


Kamila mengangguk dengan mata terpejam takut.


Jika sampai ia ketahuan melakukan sesuatu diluar peraturan, ibu akan mengurungnya di dalam kamar selama setahun penuh.


Satu-satunya tempat Kamila berjalan adalah kastil. Ia tak mau terkurung di dalam kamar lagi, tak bisa melakukan apa-apa selain duduk memandangi apa yang bisa ia lihat dari jendela kamarnya.


Mereka disambut oleh sejumlah Narendra dan makan bersama. Kamila gemetar sewaktu melihat Iaros juga duduk di sana, sedikitpun tidak menatap Kamila seolah ia hanya angin.


Kenapa dirinya begitu mudah terbawa rasa? Bukankah ia harusnya mengabaikan Iaros jika Iaros mengabaikannya juga?


Tapi pada akhirnya Kamila tersesat. Hanya bisa gemetaran menahan perasaannya.


"Kamila, ada apa? Wajahmu terlihat pucat."


Aether, kakak tertua sekaligus pewaris Narendra di generasi mereka menatapnya cemas.


Merasakan lirikan Lily, Kamila menggeleng. Namun ia tak bisa menyembunyikan keringat dan mata merahnya.


"S-saya mabuk perjalanan, Tuan Muda." Kamila terpaksa membuat alasan itu. "Jika tidak keberatan, bolehkan saya pamit lebih dulu?"


"Baiklah. Pergi dan beristirahat. Jika ada sesuatu, segera beritahu pelayan."


"Terima kasih."

__ADS_1


Kamila mau beranjak, Iaros langsung berdiri. "Biar kuantar, Adik Kecil."


Wajah Kamila makin pucat dan bukan karena Lily melainkan karena ia tak mau harus dipermainkan lagi.


Matanya menatap Ribia, membuat gadis itu akan beranjak jika Iaros tak menepuk kepalanya.


"Duduklah. Kamu juga baru saja kembali. Kamila datang karena pernikahanku, jadi setidaknya aku yang bertanggung jawab."


Bagi mereka itu terdengar seperti perilaku kakak yang baik, tapi Kamila pucat pasi.


Lily pasti akan langsung beranjak jika itu tak menyinggung perasaan Narendra, jadi mau tak mau dia hanya membiarkan Kamila pergi bersama Iaros.


Ia tak tahu harus ke mana. Pada pernikahan Aether dulu, Kamila memang hadir tapi itu saat masih sangat kecil.


Satu-satunya ingatan masa kecil yang bisa ia simpan hanya dengan Iaros, bukan tata letak kastil.


"Ada tempat bagus untuk kamu bisa menikmati pemandangan." Iaros tiba-tiba bersuara. Menarik tangannya untuk berjalan lebih cepat membelah koridor luar.


Tak sempat Kamila memerhatikan ukiran-ukiran mawar di pilar raksasa sekitaran. Tak juga sempat menoleh pada danau luas di depan kastil.


Ia terus terseret, menaiki tangga menuju lantai dua bangunan kecil namun terhubung dengan bangunan kastil.


Iaros mendorongnya masuk, lalu menutup pintu.


"Tuan Muda." Kamila mundur menjaga jarak. "Saya ingin tidur di dekat kamar Lily saja. Tolong jangan—"


Dia lantas memaksa tubuhnya berputar, mendekati jendela di mana mereka bisa melihat pemandangan danau yang berkilau.


"Kamu pernah berkata ingin melihat danau sungguhan." Iaros menyingkirkan rambut di telinganya. Mengecup kecil bagian itu. "Bagaimana? Kamu suka?"


Kamila meremas tangannya erat-erat. Ia tak mau lagi. "Tinggalkan saya."


"Kamila."


"Anda sudah akan menikah, bukan? Tinggalkan saya sendirian. Pergi ke kamar Anda sendiri. Terima kasih sudah mengantar dan jangan temui sa—"


Tubuhnya terdorong ke tempat tidur.


Kamila menelan ludah, langsung bisa mencium aroma Iaros dari seluruh kasur ini.


Kenapa lagi? Dia datang, dia pergi, dia tinggal, dia menghilang.


Apa dia pikir Kamila akan terus bersabar?!


"Apa mau Anda?!" Kamila benci dirinya yang sangat mudah menangis. "Apa Anda bosan lagi?! Anda sedang mencari hiburan sebelum pernikahan?! Lakukan saja dengan orang lain! Cari wanita lain karena Anda bisa meniduri seratus dua ratus wanita semau Anda!"

__ADS_1


Iaros malah tersenyum. Membungkuk mengecup bibirnya.


Satu.


Dua.


Tiga.


"Kamu ingat kode kita?" Iaros membaringkannya begitu saja. Lalu naik, ikut berbaring menyamping pada Kamila. "Jika satu kecupan, berarti 'aku merindukanmu'. Jika dua kecupan, berarti 'tolong tetap di sini sebentar lagi'. Dan jika tiga," Iaros mengecup keningnya lembut, "berarti jangan marah. Kita sepakat untuk menghargai maknanya."


Kamila menggigit bibirnya yang bergetar.


"Anda pergi begitu saja," isaknya. "Anda pergi padahal tahu saya mencari Anda."


"Gadisku yang manja. Aku harus pergi bahkan kalau aku ingin tinggal. Aku tahu kamu akan datang ke sini, jadi aku menunggu. Aku tidak meninggalkanmu. Tidak pernah."


"Anda bisa membangunkan saya dulu!"


Iaros masih saja tersenyum. "Maafkan aku, Mawarku. Haruskah aku berlutut dan mencium kakimu?"


Murahan, bisik Kamila untuk dirinya sendiri.


Meski begitu ia tak bisa menafikkan bahwa Iaros mengatakan hal manis.


Maaf adalah tabu bagi Narendra. Iaros bahkan tidak pernah mengatakan maaf pada ayahnya, atau kakeknya, atau siapa pun.


Narendra tidak boleh minta maaf. Karena maaf mengisyaratkan pengakuan kesalahan sementara Narendra harus selalu benar.


Tapi dia minta maaf pada Kamila.


Lalu dia menyebut Kamila mawarnya. Mawar adalah simbol Narendra. Pakaian mereka, polanya, warnanya, bahkan ukiran bangunannya pun semua memiliki unsur mawar.


Mawar adalah lambang keagungan mereka.


Makanya dalam pernikahan, salah satu ritual mereka adalah menyerahkan bunga mawar pada istrinya sebagai sebuah isyarat bahwa keagungan mereka telah diserahkan juga untuk wanita itu.


"Aku merindukanmu." Iaros membelai pipinya. "Aku selalu merindukanmu, Kamila. Aku memikirkanmu setiap hari."


"Bohong."


"Untuk apa berbohong? Aku tidur di kasur ini membayangkanmu." Lalu dia mendekat. Bernapas halus di telinganya. "Aku memuaskan diriku dengan memalukan karena memikirkanmu."


Pertahanan Kamila lagi-lagi roboh dengan mudah.


Semudah itu ia jatuh lagi dalam permainan Iaros. Semudah itu ia percaya lagi, berharap lagi, menerimanya lagi, memaafkannya lagi, meski tak tahu akan seperti apa ia ditipu lagi.

__ADS_1


*


__ADS_2