Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
69. Niat Iaros Sesungguhnya


__ADS_3

Kamila menutup mulutnya agar tak bersuara dalam tangis. Ribia bergegas naik memeluknya, berbisik untuk menanyakan apa yang terjadi. Tapi Kamila tidak bisa menjawab.


Bagaimana ia harus menjawab ketika semua ingatan itu terus bermunculan?


Iaros tidak pernah berbohong. Kamila sudah mengetahui itu sekarang. Jika dia berkata dia akan melakukannya, dia benar-benar akan melakukannya.


Seperti saat dia mencabut jantung pria itu.


"Iaros." Kamila terlalu takut. Luar biasa takut sampai ia berusaha membuka kamar Iaros, namun tak bisa karena terkunci. "Iaros, kumohon. Iaros."


"Kamila."


"Saya baik-baik saja, Nona Muda." Kamila terus berusaha. "Tolong jangan pedulikan saya."


"Tapi, Kamila—"


"Saya baik-baik saja!" Kamila berteriak, bukan karena ia marah, namun ia panik.


Sulit untuk menjaga perasaan Ribia sekarang ketika perasaannya pun terguncang. Yang Kamila pedulikan hanya Iaros menerimanya, bagaimanapun caranya, agar mimpi buruk itu tak terulang lagi.


"Iaros!" Kamila menggedor-gedor pintu tersebut. "Iaros! Aku berjanji akan patuh! Aku berjanji! Iaros!"


...*...


"Kamu terlihat sedikit kesal, Adik Kecil."


Demeter menyaksikan Kamila berusaha keras membuka pintu ruangan Iaros bersama Ribia. Mengingat bangunan itu sebenarnya bukan kamar utama Iaros, jadi Demeter bisa menyaksikannya dari jendela.


Sepasang lengan memeluk Demeter erat. Disusul kecupan kecil bertubi-tubi di bahunya yang terbuka dari kimono tidur.


"Drama itu lagi," bisik seseorang yang memeluknya. "Iaros membuatku malu hanya dengan memikirkan dia."


Demeter mengulurkan tangannya. Mendongak hingga kepalanya bersandar pada dada sang kakak sepupu.

__ADS_1


Ares, saudara beda ibu Aether, anak kedua Paman Orion, anak ketiga dari keseluruhan Narendra. Di antara semua Narendra, dia adalah mainan kesayangan Demeter, dan yang paling mencintainya melebihi Dionisos.


"Apa Kakak tahu apa yang Euribia katakan padaku?"


"Apa itu?"


"Dia berkata aku kesal Kakak Iaros direbut dari tanganku dan aku kalah dari Kamila."


Ares mengangkat alis. "Dan kamu kesal karena itu benar?"


"Setelah kupikir lagi, ternyata iya." Demeter memiringkan wajah, polos. "Aku sangat jengkel mengetahui kisah cinta Kakak Iaros. Maka dari itu aku ...."


Demeter tersenyum manis.


"Akan kubuat Euribia menelan ucapannya."


"Dengan kata lain," Ares langsung memahaminya, "kamu ingin membuat Iaros mengakhiri hidup cintanya itu. Adikku punya selera menakutkan."


Asal bukan garis keturunan mereka yang ternoda, Demeter tidak peduli bahkan kalau dunia ini runtuh.


...*...


"Anda jadi sangat baik memedulikan saya."


Dionisos tertawa kecil menikmati sajian paginya yang dihidangkan oleh sang istri. Pagi ini, Helen duduk di dalam labirin mawar menerima undangan sarapan bersama dari Dionisos.


Tidak mengherankan memang. Dionisos itu tipe yang terlihat menggebu-gebu, tapi sebenarnya dia sangat perhitungan. Ketika dia tahu Aether dan Hefaistos sudah marah pada Iaros, Dios tak lagi mau mengurusi Iaros.


Atau lebih tepatnya, dia menikmati pemandangan penderitaan Iaros dari jauh. Sama seperti Demeter, dia bukan tersulut oleh dendam kesumat, tapi memang hanya menikmati kerusuhan.


"Aku penasaran denganmu." Dios menopang dagu. "Apa persiapanmu menghadapi situasi ini?"


Helen menghela napas. Tentu ia tahu pasti topiknya itu. "Saya hanya berharap permintaan itu ditolak."

__ADS_1


"Sudah beberapa hari berlalu," timpal istri pertama Dios, Siren. "Melihat dari rentang waktu yang diambil Tuan Besar, cukup besar kemungkinan permintaan itu dipertimbangkan untuk disetujui."


Dios tersenyum. "Benar. Paman tentu menganalisis kedua pilihannya, tapi sudah beberapa hari berlalu. Sebaiknya kamu tidak berharap seratus persen permintaan itu ditolak. Bagaimanapun, Iaros punya potensi."


Perkataan Dios menyentak Helen. "Potensi?"


"Ah, kamu tidak mengetahuinya? Wajar saja, mungkin." Pria itu meraih rambut Siren, bermain-main dengannya dengan wajah seperti tengah membayangkan sesuatu. "Aku pun baru mengetahuinya dari Demeter. Situasi ini sedikit berbahaya, bagian Aether, terutama."


"Apa maksud Anda?" Helen tahu banyak mengenai Narendra karena itu merupakan dasar dari pendidikannya. Tapi ia tak mengerti apa maksud Dios ketika Iaros masuk kategori anak nakal dalam Narendra yang mustahil jadi kepala keluarga.


Peluang kegagalan Iaros menurut Helen tinggi, karena kelakuan dia meragukan. Seorang pemimpin sejati Narendra harus seperti Aether yang punya sisi kejam dan tegas, tapi mendahulukan ketenangan dan pertimbangan.


"Ada cukup banyak rahasia yang disimpan leluhur kita dan hanya ditulis dalam buku jilid rahasia." Dios menyeringai. "Demeter menganalisis sejarah kepemimpinan di tiap generasi dan alasan pembantaian Lio Narendra pada Yasa dulu. Aku akan memberimu pertanyaan sederhana. Siapa yang menciptakan Narendra dan membuatnya jadi seperti sekarang?"


Kenapa dia menanyakan hal jelas? Tentu saja Lio Narendra—


Helen melebarkan mata ketika menyadari maksud Dios.


"Tuan Muda, apa Anda bertanggung jawab atas ucapan Anda barusan?"


Dios malah semakin menyeringai. "Lio Narendra membantai keluarganya dan mengubah nama menjadi Narendra dengan kekejaman dan keegoisan. Setelah itu, baik Luka Narendra, baik Al Areza Narendra dan siapa pun pemimpin setelahnya, secara tidak langsung digiring menjadi pemimpin bijaksana. Menurutmu apa yang terjadi jika keluarga ini sekali lagi dipimpin oleh orang egois?"


Perut Helen mendadak mulas. Wajahnya pucat membayangkan perkataan Dios.


Jika keberadaan keturunan Narendra berkurang, alias pembantaian Narendra terjadi, maka bisa saja keluarga mereka akan berubah total dalam aturan Iaros. Itu berarti Iaros bukan mau jadi pewaris, namun mau menjadi Lio Narendra kedua yang menciptakan sebuah aturan abadi yang berlangsung enam generasi.


"Posisi Anda juga tidak aman, dengan kata lain."


Dios memiringkan wajah. "Aku menantikan hari di mana aku bisa memegang pedangku secara bebas, Helen. Maka dari itu aku menyukai Iaros yang sekarang."


Posisi itu ... tidak boleh sampai jatuh ke tangan Iaros.


...*...

__ADS_1


__ADS_2