
Perkataan itu membuat Kamila bernapas lebih lega dalam demamnya.
Ya. Ia tak mau bertemu siapa pun lagi yang menyakitinya.
Orang-orang yang mau mengurungnya tanpa memberi kesempatan Kamila bergerak, ia tak mau melihat mereka.
Kamila merasakan tenggorokannya sakit dan bernapas semakin sulit. Terlalu lemah rasanya untuk melihat di mana Hefaistos meletakkannya.
Tapi, ketika dia bermaksud menjauh, Kamila langsung menariknya.
"Jangan." Kamila membuka kelopak matanya sayu. "Tetap di sini, Kakak."
Anak yang menarik, adalah isi pikiran Hefaistos.
Tentu saja itu menarik melihat Kamila yang tidak pernah menatap mata mereka lebih dari dua detik kini memohon agar tidak ditinggalkan, dipeluk dan dijaga dalam tidurnya.
"Aku di sini." Hefaistos menuruti kemauan itu. "Cepatlah sembuh, Adik Kecil. Aku yang lelah melihatmu terus sakit."
...*...
"Nona."
Demeter hanya tersenyum ketika pelayan pribadinya membisiki kejadian bahwa Kamila berlari tidak waras dari kamar, lalu pergi bersama Hefaistos.
Hanya orang bodoh yang tidak sadar bahwa Kamila memang sedang merayu kakak tertua mereka. Itu menarik, tapi yang lebih menarik ....
"Aku belakangan sering menghabiskan waktu dengan Kakak Dios." Demeter menghampiri Iaros yang punggungnya tengah dibersihkan oleh dua orang pelayan.
Bekas cambukan di sana meninggalkan sayatan dalam, jadi mungkin akan butuh waktu untuk sembuh.
"Karena itu perhatianku pada Kakak agak berkurang." Demeter mengangkat dagu Iaros dengan telunjuknya. "Sebenarnya apa yang Kakak lakukan pada Kamila?"
Lima tahun, mungkin? Entahlah, karena Demeter juga tak peduli. Tapi waktu itu, usia Demeter masih sangat belia dan ia sibuk mengurusi pendidikan wajibnya daripada mengurusi Iaros.
Tiap bertemu pun Iaros tak banyak memperlihatkan ekspresi, jadi sulit menebak.
Sekarang Demeter punya waktu untuk melihat segalanya.
__ADS_1
"Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Gadis itu mengalami trauma berat karena sesuatu." Demeter menyeringai. "Apa yang Kakak lakukan?"
"...."
"Ah, benar juga. Pelayanku berkata bahwa Kamila dibawa menuju lantai kakak tertua. Sepertinya dia akan 'menghabiskan malam' di sana sampai kembali."
Iaros tidak tol*l. Sekali dia berkata dia akan mendengar Demeter, maka dia harus menyembunyikan segalanya agar Demeter tak tahu.
Itulah salah satu sisi favorit Demeter dari Iaros.
Menahan emosi dalam dadanya tidak bisa dilakukan sembarangan.
"Kakak sepertinya sudah lelah." Demeter beranjak. "Haruskah kutemui Kamila langsung untuk bertanya?"
Iaros mendongak. "Jika kamu meninggalkan tempat ini, Dios akan langsung datang merebut tempatmu."
"Benarkah? Kalau begitu aku hanya perlu menemui Kamila bersama Kakak Dios."
Melihat Iaros berjuang keras menahannya justru sangat menyenangkan di mata Demeter.
Ia kembali berjongkok. Mendekatkan wajah mereka hanya untuk melihat jelas seberapa besar kemarahan yang Iaros coba bendung.
...*...
Kamila hanya diam melihat Aether berjalan bolak-balik di kamar. Nampaknya dia tengah menyeduh sesuatu, sementara Hefaistos sedang tidur di sisi kasur lain.
"Ada apa?" tanya Aether menyadari Kamila terbangun. Dia datang membawa gelas dan mengulurkannya. "Bangun dan minumlah ini."
Gadis itu menggeleng. "Saya merasa ingin muntah, Tuan Muda."
Aether menarik kembali tangannya. "Baiklah." Meletakkan gelas itu di atas meja, sebelum dia mengulurkan tangan ke wajah Kamila.
Karena peralatan lengkap untuk pemeriksaan berada di ruang bawah tanah mansion, kondisi Kamila sementara hanya bisa dipastikan dengan diangonis alat sederhana.
Aether sudah membawa laporan kesehatan Kamila hingga ia tahu penyebab Kamila seperti ini nampaknya bukan karena kelemahan fisik biasa, namun kondisi kejiwaan tak stabil.
Iaros nampaknya melakukan sesuatu yang cukup ekstrem.
__ADS_1
"Tuan Muda."
"Katakan."
"Tolong jaga saya." Kamila menggosok wajahnya di tangan Aether. "Saya akan mematuhi Anda apa pun perkataan Anda. Sebagai gantinya, tolong jaga saya."
"Aku tidak memerlukan balasan dari menjaga adikku, Kamila."
Kamila hanya bernapas berat. Meletakkan kepalanya di dekat paha Aether seolah tak bisa jika dia tak bernapas kecuali di dekatnya.
"Tuan Muda."
"Tidurlah."
Untuk sekarang, memang hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Saya ingin tahu tentang sesuatu."
"Katakan."
"Nona Lissa Makaria, leluhur kita." Kamila membuka matanya. "Bisakah Anda menceritakan sesuatu tentang beliau?"
Lissa adalah orang yang mendapatkan Iaros, bukan Kamila.
Tapi alasan terbesar kenapa Kamila ingin tahu tentang dia bukan itu. Mungkin selama ini Kamila terlalu fokus menceritakan kisah Lissa dan Iaros sampai ia tidak menyebutkan bahwa Lissa dicintai oleh kakak juga adik kembarnya.
Kaisar Erebus Narendra dan Killua Orion Narendra. Hal itu merupakan cerita umum bahwa Lissa menjalin hubungan kekasih dengan kedua saudara kandungnya terlepas dari Iaros saudara seibunya.
Kata Iaros, Trika Narendra yang memulai hubungan inses dalam keluarga Narendra. Tapi Trika Narendra itu bukan Narendra dan saudaranya dia bukan Narendra. Jadi yang pertama kali memulai hubungan inses bukanlah Trika, melainkan Lissa.
Jika Kamila menirunya, maka ia tak akan berakhir jadi Kamila terdahulu.
"Dia wanita terbaik," jawab Aether meski masih mencerna apa maksud Kamila bertanya. "Merupakan anak perempuan bungsu yang memiliki dua kakak perempuan jauh lebih tua, tapi diberi tugas sangat besar mengembangkan Narendra di kastel Bintang."
"Apa Anda menyukai wanita seperti Nona Lissa Makaria?"
"Hmmm, entahlah. Tapi aku mengaguminya." Aether menunduk. Berbisik di wajah Kamila, "Terutama bagaimana dia menguasai Narendra dengan sifat manipulatifnya."
__ADS_1
*