
Kamila menatap tangannya yang berada dalam genggaman Iaros. Mereka melewati keramaian Narendra begitu saja yang seluruhnya duduk menikmati malam santai bersama sejumlah panggangan.
Tapi Iaros tidak mengajaknya ke sana, melainkan pergi berjalan semakin jauh hingga mereka tiba di tepi bukit.
Pemandangan laut ketinggian memang cantik. Terlebih lampu-lampu di pesisir pantai menyala dengan indahnya.
Meski begitu Kamila merasa kosong.
"Kamila, ada banyak hal yang bisa dilihat di sana." Iaros menunjuk ke arah pantai. "Besok kita akan menyebar. Aku akan mengajakmu ke sana dulu bersama. Kita bisa membeli jajanan sepuas hati. Ketika liburan, larangan makanan tidak berlaku."
Kamila hanya diam.
Hal itu membuat Iaros menoleh padanya. "Ada apa? Kamu tidak ingin pantai? Haruskah kita ke tempat lain? Atau kamu ingin ke kota?"
Aku seperti hewan. Kamila menunduk pada tangannya yang digenggam oleh Iaros.
Entah kenapa, ia merasa benar-benar seperti binatang yang sedang diajak berjalan-jalan ke arah mana pemiliknya mau berjalan.
"Saya—"
"Tuan Muda, Nona Muda."
Kamila tersentak. Meski baru sekali ia mendengar suara Helen, dirinya hafal hingga langsung menegang.
Aku berjanji. Kamila menarik keras tangannya dari Iaros. Memeluk tangan itu karena takut Helen akan salah paham dan terluka.
Sementara Iaros terang-terangan memicing tak senang. "Ada apa?"
"Tuan Muda Pertama berkata saya harus mengajak Anda bersama. Jika tidak keberatan—"
"Aku keberatan. Ada sesuatu yang ingin kubahas dengan Kamila, jadi pergilah berbicara dengan istri lainnya."
Helen melirik Kamila. Membuatnya menunduk bersalah karena sekarang ia di posisi perebut milik orang.
__ADS_1
"Apa Anda harus melakukannya di depan semua orang?"
Tubuh Kamila menegang.
Kerutan di kening Iaros semakin terlihat jelas. "Bukankah sudah kubilang pergilah?"
"Saya tidak ingin mengganggu Anda, tapi apa yang sedang Anda lakukan adalah penghinaan bagi diri Anda lewat saya, istri Anda. Semua orang menyaksikan Anda, Tuan Muda. Semua orang bukan anak-anak yang akan berpikir Anda sedang menggandeng adik Anda—"
"Lalu?"
Kamila menelan ludah. Wajahnya pucat dan berkeringat dingin.
Ia dapat merasakan jelas hawa keberadaan Iaros memberat. Itu membuatnya takut seakan Iaros bisa membunuh seseorang tanpa berpikir.
"Lalu apa, Istriku?" Iaros maju mendekati Helen. Tubuhnya membungkuk menyesuaikan tinggi mereka, berbisik di telinga wanita itu. "Lalu aku harus takut karena mereka akan mengadukanku, begitu?"
Helen melirik Kamila.
"Saya hanya tidak tahu harus berbuat apa, Tuan Muda."
Sesuai dugaan Helen, Kamila mulai akan menangis.
"Saya tidak ingin mengusik Anda, tapi Tuan Muda Aether juga tidak akan diam melihat Anda. Saya hanya diperintah. Apa yang bisa saya lakukan?"
Kamila tak bisa melihatnya.
"T-Tuan Muda." Ia mendorong samar Iaros mundur dari Helen karena rasanya jarak itu malah mengintimidasi Helen. "Saya bisa berjalan-jalan dengan orang lain. Terima kasih sudah menemani saya. Pergilah dengan istri Anda."
Kamila tidak tahu bahwa kalimat itu tidak akan lagi mempengaruhi Iaros.
Bukankah Iaros sudah bilang bahwa dia akan berhenti bersikap menjijikan?
Iaros akan berterus terang, di depan siapa pun yang ada di sini.
__ADS_1
*
Dios menyaksikan semua itu sambil sesekali tertawa.
Lihat mereka. Lucu sekali.
Tidak ia sangka Iaros suka mempermalukan diri sendiri. Padahal bisa sedikit berpura-pura tidak melakukannya, namun sekarang ia bahkan menatap Helen sebagai pengganggu seolah Helen bukan alasan dia meminta bulan madu.
"Tapi sepertinya Kamila terlalu pasif." Dios bergumam samar dan hanya terdengar oleh telinga istrinya.
"Anda tinggal memicunya," balas wanita itu.
"Aku memang bermaksud begitu." Dios lantas beranjak. "Waktunya jadi pahlawan kemalaman untuk kakak perempuan lemahku."
Dari semua orang yang menyaksikan, Dios mendekat. Ia tak takut, karena dirinya hanya akan dianggap datang melerai sekaligus mengingatkan betapa memalukan tingkah Iaros sekarang.
"Iaros." Dios mendatangi kakak beda ibunya itu dan menepuk bahu dia. "Kamu bisa berpura-pura di depan semua wanita tentang cinta omong kosong, tapi tidak di depan kami."
Iaros menatapnya dingin.
"Lebih baik akhiri ini sebelum Aether turun tangan. Dia sudah terlihat sangat kesal sekarang."
"Jangan ikut campur."
"Ikut campur?" Dios tersenyum licik. "Aku sedang memperkeruh suasana. Dan kamulah yang menentukan ke mana keruhnya berputar."
Dia pasti sangat mengerti apa maksud Dios.
Mata Iaros menatap Kamila, lalu meraih tangannya. Pikir Dios dia akan tetap keras kepala, tapi ternyata Iaros hanya mengecup tangannya, lalu pergi bersama Helen.
Yah, meski dia mengecupnya di depan Helen dan semua orang.
*
__ADS_1