Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
67. Rasanya Tidak Bisa


__ADS_3

“Ibu.”


Amarilis hanya bisa menangis menatap Kamila. “Maafkan Ibu,” bisiknya samar. “Jika saja Ibu tidak egois.”


Namun segera Kamila menggeleng. Membiarkan tubuhnya tenggelam dalam pelukan Lily.


Semua ini membuat Kamila yakin, bahwa Ibu dan Lily tidak sekalipun membencinya. Semua hanya karena Iaros.


Tapi justru karena itu. Justru karena Iaros melakukan banyak hal, dan Kamila menjadi penyebabnya, ialah yang harus bertanggung jawab.


Ia yang harus menghentikan Iaros.


*


Demeter itu anak yang menyukai masalah, tapi Demeter bukan pembenci. Karena itulah Demeter tidak pernah menganggap Ribia sebagai musuh sekalipun Ribia mengharapkan sesuatu yang berkebalikan dari kemauan Demeter.


Bagi Demeter, Ribia adalah bagian dari kekacauan menarik ini.


“Itu mengejutkanku.” Demeter mengulas senyum tanpa sedikitpun ada jejak terkejut. “Sekarang kamu mendukung Kakak Iaros bersama Kamila?”


Euribia menatap gadis itu, kemudian menggeleng samar. Bukan untuk menyangkal apa yang dikatakan Demeter, namun memikirkan apa yang kemungkinan dipikirkan oleh Demeter.


“Aku tidak bisa mendukungmu.” Ribia mencengkram erat gaunnya. “Demeter, sekali saja pikirkan sesuatu selain kesenanganmu sendiri.”

__ADS_1


Sulit bagi Demeter tidak tertawa.


Ribia sangat lucu. Semua wanita Narendra dibesarkan dengan prinsip yang sama. Jangan pikirkan hal lain kecuali diri sendiri. Bahkan mereka diajari, jika suatu saat terjadi tragedi yang menewaskan semua orang dalam Narendra, jangan pernah sekalipun berpikir menyelamatkan orang lain selain diri sendiri.


Wanita Narendra jauh lebih penting daripada pria Narendra dan harta Narendra. Itu adalah dasar.


Tapi Ribia mengatakan jangan pikirkan diri sendiri? Itu nyaris sama seperti dia berkata jangan hidup.


“Menurutmu aku tidak tahu apa yang membuatmu ikut campur?” Ribia menggeram. “Kamu bukan tidak ingin Kakak Iaros diambil darimu. Kamu hanya tidak menyukai Kakak Iaros tergila-gila pada orang lain selain dirimu.”


Demeter terkekeh. “Ribia, kamu baru mengetahuinya?”


“Kamu kalah.”


“Tidak, kamu kalah. Jelas begitu.” Ribia berucap yakin. “Kamu panik dengan kekalahanmu.”


Demeter diam. Lalu beranjak, merasa Ribia tidak bisa diajak bicara. “Aku hanya datang untuk berkata bahwa aku berharap kamu membujuk Kamila. Kamu ingin atau tidak, itu terserahmu. Tapi jika permintaan Kakak Iaros diterima, pembantaian besar-besaran akan terjadi. Kamu menginginkan itu?”


Napas Ribia tertahan sampai Demeter pergi. Agav yang sejak tadi berada di depan pintu langsung menghampiri, memberi Ribia air untuk menenangkan diri.


“Aku tidak pernah mengerti mengapa adikku begitu menakutkan.” Ribia mengusap wajahnya yang pucat. “Aku berusaha memprovokasinya, tapi dia hanya balas menekanku.”


Agav terkekeh. “Nona sudah berubah. Saya melihat Nona Demeter sedikit kesal baru saja.”

__ADS_1


Perkataan Ribia tidak bohong. Alasan mengapa Demeter mengganggu Iaros sekarang adalah, karena dia tidak senang seseorang lepas dari tangannya.


Demeter itu terbiasa menggenggam sesuatu sampai dia bosan. Aturan dalam hidupnya adalah egosentris. Tidak boleh dia yang dibuang, harus dia yang membuang.


Karena itu begitu Ribia tahu hubungan Demeter dan Iaros di belakang, ia langsung menemukan perbedaannya dengan hubungan Demeter dan Dionisos.


Dionisos bisa membunuh semua istrinya demi Demeter, dan istri Dionisos sanggat amat memahami kedudukan Demeter di atas mereka. Tapi Iaros berbeda.


Iaros akan mencekik Demeter demi Kamila.


Karena itulah Demeter merasa kesal.


Tapi mengetahui itu tidak membuat Ribia menang. Karena ia tetap harus menuruti perkataan Demeter.


“Dia bermaksud memisahkan Kakak Iaros dan Kamila dengan mendekatkan mereka lagi.” Ribia mencengkram rambutnya frustrasi. “Aku tahu dia pasti berhasil jika Kamila sudah kembali pada Kakak Iaros. Tapi aku bahkan tidak bisa mengelak.”


Jika tidak, jika permintaan Iaros diterima, jika Demeter tak berhasil memisahkan mereka, Ribia harus melihat kedamaian kakak-kakaknya runtuh.


Ia akan melihat satu per satu kakaknya yang dulu duduk minum teh bersama suatu saat akan saling menebas leher satu sama lain.


“Aku harus berbuat apa?” Ribia merintih. “Aku hanya ingin Kamila tidak terluka, Kakak Iaros bahagia dan kami semua kembali seoerti semula. Kenapa rasanya tidak bisa?"


*

__ADS_1


__ADS_2