
Menjijikan?
Siapa?
Aku?
Iaros tersenyum miris. Susah payah ia bersikap baik, ternyata bahkan dengan begini pun ia menjijikan?
"*Apa maksudmu dengan menikah?!"
Mau Iaros tunjukan apa yang lebih menjijikan baginya?
"Kamila, aku tidak mengerti. Lily-lah yang menikah, kenapa harus kamu yang melakukan itu? Kamu ingin meninggalkan aku*?"
Bukankah yang menjijikan adalah ekspresi Kamila saat itu? Saat dia menancapkan pisau di dada Iaros lewat kalimatnya bersama ekspresi tenang dan santai.
"Apa maksud Anda? Bukankah Anda juga meninggalkan saya?"
Lalu dia dengan sangat ceria terus berbicara.
"Tidak apa, Tuan Muda. Saya akan tetap jadi sahabat Anda bahkan jika saya menikah. Jika nanti saya punya anak, saya juga akan meminta Anda memberinya nama secara langsung."
Sekarang dia mengatakan Iaros menjijikan?
"Baiklah." Iaros menarik Kamila meski dia memberontak menghindarinya. "Jangan maafkan aku. Aku memang menjijikan."
Iaros berusaha menahan napasnya agar tak memburu oleh perasaan sesak, sakit dan kemarahan.
Didorong Kamila berbaring, menatapnya tanpa ekspresi ketika Kamila tampak berusaha bernapas di antara sesak.
__ADS_1
Kebiasaan itu, berarti traumanya masih ada.
Setiap kali merasa terancam, secara alami Kamila akan sesak napas. Bahkan kalau dia tidak langsung menyadari itu ancaman, tubuhnya akan bergerak lebih dulu agar defensif.
"Kamu takut padaku?" Iaros sedikitpun tak berekspresi meski Kamila menangis. "Apa yang kamu takutkan, Kamila? Bukankah aku tidak berdaya di hadapanmu?"
"...."
"Aku memang menjijikan, sejak dulu. Kamu menghinaku, membuangku, menganggapku hanya gangguan bagimu, tapi aku masih dengan menjijikan mencintaimu. Ya. Itu menjijikan."
Kamila menggigil. "Tuan Muda, tolong minggir—"
"Aku akan berhenti bersikap menjijikan sekarang." Iaros menarik paksa pakaian Kamila tak peduli dia terpekik. "Aku akan bersikap apa adanya dan murni."
*
Ribia nyaris berlari menghentikan Iaros di kamar Kamila jika Agav tak menahannya. Bagaimana bisa dia memperkosa adiknya sendiri?!
Agav tersenyum penuh arti. "Apa Nona bisa menangani kemarahan Tuan Muda setelah itu?"
"Dialah yang tidak akan bisa menangani kemarahan Kakak Aether!"
"Lalu setelah Tuan Muda Pertama memarahi Tuan Muda Iaros karena memperkosa Nona Muda Kamila, apa Tuan Muda Iaros akan minta maaf dan semuanya membaik?"
"Tapi—"
"Nona tersayang, selalu ada arti dalam setiap tindakan. Tuan Muda sempat panik saat mengatakan ingatan, lalu reaksinya terhadap reaksi Nona Kamila juga ganjil. Saya dan Nona tidak bisa melakukan apa-apa bahkan jika Tuan Muda memperkosa Nona Muda Kamila, jadi sebaiknya Nona dan saya menyelidiki soal hal itu saja."
Tapi ....
__ADS_1
"Jika terjadi sesuatu, jangan pernah menempatkan satu orang sebagai korban dan pelaku. Tempatkan keduanya sebagai korban juga sebagai pelaku. Dua-duanya."
Ribia tak dapat membalas. Karena ia mengenal Agav dan tahu Agav tidak akan melakukan sesuatu kecuali itu menguntungkan.
Tapi Kamila ....
*
Kamila ketakutan pada sosok Iaros sekarang.
Tidak pernah sekalipun ia melihat Iaros semenakutkan ini. Dia tak tersenyum, tapi terus meletakkan kecupan di tubuh Kamila.
Seluruh pakaiannya dibuang, lalu menunduk memaksa Kamila melakukannya.
Ia takut.
Ia takut sampai memilih untuk minta maaf.
"Tuan Muda, saya bersalah." Kamila menangis pada pelecehan itu. "Saya bersalah. Maafkan saya. Saya bersalah."
Tapi Iaros tak berhenti. Dia justru menatap Kamila dari atas, membelai pipinya dan berbisik, "Kamu milikku."
Kepalanya terasa akan pecah. Kamila membasahi wajahnya sendiri dengan tangisan, merasa sakit luar biasa.
Iaros tidak memukuli atau berbuat kasar tapi ketakutan Kamila membuatnya merasa semua itu menyakitkan.
"Kamila." Iaros berbisik halus di telinganya. "Aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup tanpa mencintaiku."
Sesuatu dalam diri Kamila bergejolak. Ia mendadak merasa seluruh tubuhnya dirayapi oleh binatang menjijikan.
__ADS_1
Kamila terus memohon agar Iaros berhenti dan membiarkannya bernapas, tapi Iaros sedikitpun tak mendengar, tak peduli apa yang Kamila katakan.
*