
Heh. Demeter agak menyeringai melihat gangguan tiba-tiba ini. Walau sudah menduga Euribia pasti kesal dengan situasi mereka, tak ia sangka dia akan langsung berteriak di sini.
Tindakan memalukan yang tidak mencerminkan keanggunan Narendra. Tapi sepertinya dia memang tidak bertindak agar terlihat anggun.
Sementara itu, Iaros hanya menatap datar. Iaros sudah memikirkan balasan jika Orion atau siapa pun membantahnya, jadi Iaros tak merasa terintimidasi hanya karena Ribia datang.
“Aku menolak hal ini, Paman, Ayah, Bibi.” Ribia berdiri kokoh, mengucap sama lantangnya. “Aku tidak ingin sesuatu yang konyol semacam itu terjadi.”
Iaros akan meladeninya sedikit. “Itu adalah peraturan, Euribia.”
“Aku tahu dan aku menolak.”
“Baiklah.” Orion beranjak. “Tenangkan diri kalian dulu. Jangan meninggikan suara karena kami mendengar. Pertama, Euribia, katakan alasanmu.”
“Aku tidak ingin.”
“Itu alasanmu?”
“Ya, Paman. Aku tidak ingin. Itu alasanku menolak.”
Iaros melirik Demeter. Di saat seperti ini, adiknya yang satu ini lebih pandai mengendalikan situasi.
Mau Demeter memihaknya tidak memihaknya, menanggapi Ribia tidak akan mengubah banyak situasi jadi seharusnya tidak masalah.
Paham akan hal itu, Demeter mengangkat dagu. “Ribia, kamu menolak permintaan sah dengan alasan tidak ingin?”
“Bukankah kamu yang mengajariku bahwa wanita Narendra hanya harus memikirkan diri sendiri? Aku tidak ingin. Aku menolak. Aku kesal jika keinginanku tidak terwujud. Apa itu bukan sikap wanita Narendra?” balas Ribia.
Nampaknya dia jadi lebih yakin dari terakhir kali. Agav pasti mendorongnya.
“Kamu benar. Memang seperti itu.” Namun, Demeter tidak mungkin tersudut hanya karena hal sepele. “Lalu Kakak Iaros pun sedang meminta sesuatu yang Kakak Iaros inginkan sebagai seorang Narendra. Bagaimana menurutmu?”
__ADS_1
Ribia menatap Orion, Tethia dan Ainias bergantian. Lalu tampak dia mengepalkan tangan, menarik napas beberapa kali. “Maka aku akan meminta Paman memilih. Jika permintaanku tidak dituruti, aku lebih suka mati. Bunuh Kakak atau aku.”
Sedikit saja, Iaros terkejut.
Permintaan gila dan nekat.
Bukan. Bukan karena Ribia menawarkan nyawa secara cuma-cuma. Tidak akan pernah ada opsi wanita Narendra menjad tumbal. Jadi maksud perkataan tadi bukan benar-benar mengatakan pilih dia atau Iaros, namun turuti dia dan tolak permintaan Iaros.
Dengan kata lain ... dia merendahkan Iaros.
“Adikku.” Iaros akan membalasnya, memperingati Ribia untuk jangan terlalu nekat atau Iaros berbuat kasar.
Namun sebelum itu, Demeter mencegah.
Nampaknya Ribia memancing dia.
“Aku tidak menyukai permintaan Kakak Iaros, Euribia. Sedikitpun tidak. Hanya,” Demeter tersenyum menakutkan, “aku pun tidak menyukai penghinaanmu pada Narendra.”
“Aku Narendra.”
Cuma Demeter yang berani mengatakan hal semacam itu ketika ayah mereka ada di depan mereka.
“Kamu bertanggung jawab dengan ucapanmu, Demeter?” Orion langsung menanggapi.
“Ya, Paman.” Demeter menjadi liar. “Bagiku, Narendra bukan hanya mengenai garis keturunan, atau persoalan darah, atau dari air siapa kami terlahir. Tidak sesederhana itu. Euribia tidak diragukan lagi adalah Narendra, namun sikapnya, karakternya, pola perilakunya, tidak mencerminkan Narendra. Tidak sedikitpun, bagiku.”
Yang dia katakan benar.
Narendra penuh dengan aturan. Sikap lemah akan melemahkan posisi. Maka dari itu, semakin dingin dan kejam orang di kediaman ini, maka semakin besar pula kekuasaan di tangannya.
“Kalau permainannya menjadi sekasar itu, maka aku pun akan mengajukan.” Demeter tersenyum licik. “Ayah, aku ingin Ayah memilih antara kami berdua.”
__ADS_1
Ainias menghela napas penat. Jelas nampak dia frustrasi dengan ulah putra-putrinya.
“Hentikan, kalian berdua. Ini bukan permainan.”
“Aku tidak bermain. Ribia-lah yang bermain.”
“Aku tidak.” Ribia nyaris berteriak. “Intinya, aku tidak bisa menerima ini. Aku ingin permintaan itu ditolak.”
Sepertinya Iaros sudah terlalu lama diam.
“Euribia.” Iaros hanya berbisik halus. Namun rasa haus darahnya bahkan membuat Ainias tersentak. “Apa kamu benar-benar mencoba menghinaku?”
Gadis itu terkesiap. Wajahnya mendadak pucat pasi.
Bahkan sekuat apa pun Agav mendorong mentalnya, keinginan Iaros masih jauh lebih besar.
Jika untuk itu ia harus membunuh Ribia juga, Iaros akan melakukannya tanpa berkedip.
“Bisakah saya berbicara, Tuan?” Tethia akhirnya membuka suara setelah lama terdiam.
“Katakan.” Orion mempersiapkan.
“Tentu tidak akan menentukan hasil akhir, tapi saya rasa itu akan menjadi pertimbangan yang bagus dalam memutuskan hasil akhir.” Tethia menatap anak-anak itu dengan senyum misterius. “Saya mengusulkan pertandingan terbuka. Tuan Muda Iaros dan pengawal Nona Muda Euribia.”
Ribia mematung. “Apa?”
“Maksudmu membagi kubu antara anak yang menolak dan menyetujui?” Ainitas menangkap maksudnya.
“Bagaimana menurut Anda? Bukankah itu cara yang efektif untuk menilai secara keseluruhan kemampuan mereka? Terutama, Tuan Muda Iaros.”
Iaros tahu pertandingan itu menguntungkannya mengalahkan Ribia, tapi ....
__ADS_1
Menyulitkannya mengalahkan orang setelah itu.
...*...