Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
39. Aku Bebas


__ADS_3

"Tuan Muda."


Iaros melirik Maria yang mengikuti langkahnya. "Ada masalah?"


"Sepertinya beberapa pengawal pribadi Nona dan tangan kanan Tuan Muda mulai menyebar di sekitaran distrik ini. Jika terus dibiarkan, saya khawatir mereka menemukan tempat ini."


Iaros langsung terdiam, memutar otaknya untuk mencari solusi.


Kakak-kakak dan iparnya memang tidak bisa diremehkan. Bahkan pengawal adik dan kakak perempuannya pun sulit untuk dikelabui.


Iaros merasa butuh waktu lebih lama lagi, tapi jika terus diam, hanya perlu menghitung mundur sampai mereka menemukan tempatnya.


"Tetap abaikan dulu. Merespons mereka akan mencurigakan. Aku akan bergerak jika benar-benar sudah terkepung."


"Baik. Saya akan terus memantau."


...*...


Kamila hanya bisa menatap kosong kedua tangan dan kakinya yang kini tak lagi bisa meninggalkan tempat tidur. Ia terbangun dari mimpi mengerikan hanya untuk menatap sebuah kenyataan mengerikan.


"Bukankah Tuan Muda menjadi lebih sensitif dari terakhir kali?" Halusinasi itu selalu datang kapan pun Kamila terdiam. "Dia melarangmu tidur dengan Ibu karena teman tidurmu hanyalah dia. Lalu sekarang kamu menolak pemberiannya dan dia memendekkan jangkauan rantaimu."


Tatapan Kamila bergeser pada bunga-bunga di bawah sana. Begitu dekat dari tempat tidur, tapi begitu jauh dari tempatnya bisa menjangkau.


"Apa yang akan kamu lakukan?"


Kamila menunduk. Terus berdiam diri dengan tangan terkepal kuat.


Apa yang salah dari hidupnya? Apa Kamila harus mengalami ini dari sejak ia lahir sampai nanti ia mati?


Aku muak.


Aku muak menjadi diriku.


Aku muak menjadi boneka.

__ADS_1


"Kamila."


Aku muak mendengar suara Iaros.


Kamila mendongak. Memejamkan mata saat Iaros duduk di depannya, langsung membelai wajah Kamila penuh kelembutan.


"Ada apa?"


Gadis itu menggeleng. "Aku merindukanmu."


Iaros tersenyum. "Tentu saja. Aku juga."


"Peluk aku."


Tubuhnya langsung terkubur dalam dekapan Iaros, membuat rantainya berbunyi samar karena tertarik.


"Kurasa sudah waktunya makan. Kamu lapar? Aku sudah mendinginkan bubur untukmu di sini."


Tidak banyak suara yang Kamila keluarkan. Ia duduk patuh di tempat yang Iaros mau, menerima suapan bubur darinya sambil dia mulai bercerita tentang hal-hal selanjutnya akan ditunjukkan pada Kamila.


Kemudian berbaring lagi, tidur lagi, dan terbangun sendirian lagi.


Tapi kali ini Kamila tak membuka mata. Hanya berpura-pura tidur meski pikirannya tetap sadar.


Aku akan keluar dari sini. Hanya pemikiran itu yang menghibur sekaligus menyakitinya.


"Nona."


Kamila tersentak. Membuka matanya dan terkejut menemukan Maria, pelayan Iaros, muncul dari pintu baja di sudut ruangan. "Kamu—"


"Sshhh." Maria mendekatinya. Tanpa basa-basi melepaskan belenggu dari tangan dan kaki Kamila. "Mari, Nona. Saya akan mengantar Nona pergi."


Kebingungan menguasai Kamila. Tapi Maria tak membiarkan itu, terus menariknya hingga Kamila terseok-seok.


Kenapa? Kenapa Maria yang bersama Iaros sejak kecil membantunya kabur?

__ADS_1


"Iaros akan membunuhmu." Kamila berusaha keras tetap berlari karena tangannya ditarik. "Iaros akan memastikan kematianmu sangat menyakitkan, Maria. Kenapa kamu melakukan ini?"


Maria terus berlari. "Nyonya Hera yang memerintahkan saya."


Hera? Istri Aether? Kenapa?


Tentu saja dia mencari Iaros tapi jika dia sudah tahu di sini tempatnya, kenapa hanya Kamila yang dibawa lari?


"Ayo, Nona. Tolong berlari lebih cepat."


Kamila sudah terengah-engah dan rasanya ingin pingsan. Tapi ia terus memaksakan kakinya berlari menyusuri lorong panjang ini. "Di mana Iaros?"


"Pengawal para Nona Muda dan tangan kanan Tuan Muda berkeliaran di sekitar sini. Karena itu Tuan Muda Iaros mau tidak mau harus pergi mengamankan sekitaran."


Jadi karena itu mereka bisa berlari.


Meski ada banyak hal yang mau Kamila katakan, ia memutuskan untuk mengatupkan bibir. Napasnya sudah sangat berat ketika sebuah cahaya semakin terlihat dekat, dekat dan semakin dekat.


Aku bebas?


Jantung Kamila berdebar semakin keras. Mungkin itu karena ia berlari sangat kencang memaksakan kapasitas tubuhnya. Tapi itu juga karena rasa antusias dan keinginan kecil mengetahui bagaimana dunia luar terlihat.


Seperti apa langit di luar tembok kastil? Apa benar-benar berbeda dari langit di atas kastil? Bagiamana jika itu berbeda? Bagaimana jika udara berbeda? Bagaimana jika suhu berbeda?


Kamila tak tahu. Rasanya ia menjadi semakin bodoh dan bodoh.


Tapi Kamila tersenyum semakin lebar.


Dan ketika ia berdiri di tengah kerumunan manusia entah di mana ini, Kamila termagu.


Aku bebas.


Tanpa Iaros, tanpa siapa pun.


...*...

__ADS_1


__ADS_2