
Ribia meninggalkan kamar Kamila dan berdiri di tepi tebing menghadap lautan dekat vila mereka. Napasnya sesak meski Ribia masih terlihat baik-baik saja.
Tidak pernah ia sangka Kamila memikirkan itu.
Bukan. Bukan karena pemikiran itu salah. Ribia hanya terkejut karena selama ini ia tak pernah memikirkannya.
"Apa Anda tahu mengapa keturunan setengah Narendra dibatasi keberadaannya?" tanya Agav tiba-tiba.
"Agar tidak terpecah dua kubu." Hanya itu yang Ribia pikirkan.
Tapi pria itu tersenyum. Membelai rambut Ribia. "Agar tidak muncul diskriminasi semacam ini."
"...."
"Sejujurnya, jika saja dulu Nona Muda Kamila yang pertama tidak meminta diizinkan memiliki anak, sesuatu seperti ini tidak akan terjadi. Demi kehormatan Narendra, harus ada perbedaan antara keturunan asli dan campuran."
Mungkin itu benar.
"Tapi ketika manusia sudah berkembang dan meluas, ketidakpuasan akan muncul. Karena itulah sebisa mungkin tidak boleh keturunan setengah Narendra diperbanyak."
Ribia berjongkok. Mengubur wajah di antara lututnya.
Ia tak tahu. Atau mungkin ia tak pernah peduli. Sudah enam generasi semua ini berlangsung, jadi apa yang bisa ia pikirkan?
Semua adalah normal, itu yang selalu Ribia pikirkan.
"Jika begitu, maka sebaiknya tidak ada lagi generasi selanjutnya setengah Narendra."
__ADS_1
Agav ikut berjongkok. "Lalu, bagaimana Nona akan menangani rasa kesepian Nona Kamila dan Nona Lily? Mereka juga manusia."
"...."
"Mereka tidak seperti Nona Narendra seperti Anda, yang bebas ikut campur dalam pekerjaan kakak Anda, melihat lebih banyak hal. Nona Kamila dan Nona Lily hanya diizinkan melihat langit dan tanah di sayu tempat yang pasti."
Lalu apa yang harus ia lakukan?
...*...
Waktu terasa cepat berlalu ketika memikirkan Iaros akan kembali dibebaskan. Tapi itu menjadi lambat ketika Helen memikirkan Iaros akan mendapat hukuman berat atas perbuatannya.
Saat Helen hanya diam menunggu kepastian, Dios mendatanginya untuk membicarakan hal paling penting.
"Ribia tiba-tiba mengajukan hal aneh saat makan malam kemarin."
Makan malam antara Narendra dan istrinya akan dipisah, jadi Helen tidak akan tahu apa yang Ribia katakan pada kakaknya jika tak diberitahu.
"Aku ingin mengajukan permintaan." Ribia menarik atensi seluruh Narendra di meja makan. Yang tidak hadir di sana hanya Kamila dan Iaros. "Pada generasi ini, hilangkan keturunan campuran."
Tentu saja yang paling beraksi adalah Lily. Karena dalam kalimat itu ada banyak makna. Bisa saja dia berkata 'ayo bunuh Kamila, Lily dan Amarilis'.
Tapi, orang yang paling pertama menentang adalah adik kesayangan Dionisos.
"Aku menentang." Demeter bahkan tersenyum cantik seolah mereka tak sedang membicarakan nyawa orang.
"Aku menganggap kejadian Iaros dan Kamila terjadi karena perbedaan itu," balas Ribia kokoh.
__ADS_1
"Apa maksudmu menghilangkan, Adikku?" Aether merespons sebagai kakak pertama.
"Masukkan Kamila dan Lily juga Bibi Amarilis sebagai keturunan Narendra, bukan campuran. Mereka tidak perlu memanggil kita Tuan dan Nona, dan mereka memiliki hak sebagaimana aku dan kalian miliki."
"Apa kamu sedang meminta perubahan pada peraturan dasar keluarga kita?" Demeter tidak gentar. "Kakakku ini sepertinya sedang mabuk."
"Kakak, sebenarnya apa perbedaan kita?" Ribia menatap para kakak tertuanya. "Apa yang membuat Kamila dan Lily disebut campuran? Mereka jugalah keturunan Narendra. Kamila terdahulu anak Luka Narendra, itu sudah jelas dan sangat transparan. Lalu apa perbedaannya jika ibu Kamila dulu berbeda?"
"...."
"Trika Narendra bukanlah Narendra. Jika dulu ibunya Kamila diberi nama Narendra juga, maka Kamila pun akan mendapat nama Narendra. Itu bukan perbedaan darah. Itu hanya nama. Sama seperti nama Trika tidak dihiasi Narendra, maka anak-anaknya hanya setengah Narendra."
"Aku tidak bisa mendengar ini." Demeter memicing. "Apa kamu sedang berkata bahwa istri Narendra adalah sama dengan wanita di luar sana?"
Ribia langsung tersentak. "Aku tidak—"
"Kamu mengatakannya. Kamu berkata tidak ada perbedaan karena ibunya Kamila terdahulu tidak diberi nama Narendra sementara Ibu semua Narendra adalah Trika Narendra, wanita yang diberi nama Narendra."
"Aku hanya mencoba berkata kita berasal dari ayah yang sama."
"Maka berarti ibu kita berbeda. Kakak Euribia, apa kamu sedang berkata bahwa wanita yang dididik di peternakan kita, dengan kualitas terbaik mereka adalah sama dengan wanita rendahan yang tidak mendapat pendidikan kita? Apa kamu sedang berkata, bahwa kita Narendra, jugalah sama dengan para manusia rendahan di luar sana?"
Pada kenyataannya sama. Namun bagi Narendra, manusia selain mereka adalah sampah. Karena itu di meja makan orang yang terpojok bukanlah Demeter, melainkan Ribia.
Tidak ada Narendra yang dibesarkan dengan hati suci sampai mau menerima penyamaan posisi.
Mereka dan orang lain berbeda. Narendra berbeda.
__ADS_1
Itu adalah doktrin mereka.
...*...