Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
65. Frustrasi


__ADS_3

Sulit mengatakan apakah itu kesalahan atau bukan. Karena rencana Amarilis memang tidak salah. Tapi Aether juga tidak mengatakan itu benar, sebab kenyataannya semua menjadi masalah.


"Aku mengerti, Bibi." Aether menarik napas, menghembuskannya tenang. "Kalau begitu, aku akan mengatakannya. Aku berencana menikahkan Kamila dan Lily dengan kami."


Tentu saja Amarilis tertegun. "Apa itu keputusan Tuan Besar?"


"Tidak, bukan. Aku dan saudaraku mendiskusikannya. Aku baru saja ingin mengajukan hal itu ketika Iaros berbuat ulah."


Namun, berganti Aether yang tercengang ketika Amarilis menggeleng. "Tolong jangan lakukan itu, Tuan Muda."


"Ada apa? Apa keputusan itu salah bagi Bibi?"


"Tuan Muda." Amarilis menatapnya tak berdaya. "Jika Anda melakukannya, maka peluang Tuan Muda Iaros menikahi Kamila akan terbuka."


Aether terperangah.


"Anda boleh memotong lidah saya jika menganggap perkataan saya lancang, tapi sudah cukup, Tuan Muda. Pria itu sudah terlalu banyak menyakiti kedua putri saya untuk keserakahannya sendiri."


Segala sesuatu mendadak berputar di kepala Aether. Tanggung jawabnya sebagai pewaris memaksa Aether harus mengurusi segala hal tentang rumah ini. Segalanya.


Karena itu Aether harus menjaga Iaros, disamping menjaga Kamila, disamping menjaga Lily, dan menjaga segalanya yang harus ia jaga.


Tapi ketika melihat mata Amarilis menginginkan kematian Iaros, Aether merasakan lonjakan stresnya berada di puncak.

__ADS_1


Pria itu tiba-tiba beranjak, tidak bisa melanjutkan diskusi.


"Aku akan menghubungi Bibi lain kali. Bicaralah pada Kamila dan Lily untuk sekarang."


Napas Aether memburu. Langkahnya terburu-buru menuju satu tempat yang ia rasa harus didatangi meski hanya untuk melepas stres.


Ruangan Hefaistos.


...*...


"Bagaimana aku harus melakukan ini?" Aether jarang mengeluh tentang tanggung jawabnya. Sejak lahir dia telah dipersiapkan, dan tumbuh dalam keyakinan bahwa dia memang lahir untuk hal ini.


Jika kalian terlahir dalam keyakinan kalian orang hebat, nyaris mustahil ada perasaan ragu dalam diri kalian.


Segala sesuatu berputar di kepalanya. Segala yang harus ia tanggung sebagai seorang pewaris.


"Aku menyarankan kematian Iaros." Hefaistos meletakkan dua botol wiski di atas meja. Minum dari seloki ketika Aether sudah terlalu stres untuk peduli dia minum dari botolnya langsung. Padahal Aether itu tidak terlalu suka alkohol. "Bunuh dia."


Aether mengerang. "Jika ada seseorang yang harus kubunuh maka itu kamu, Bocah!" Pria itu menutup wajahnya dan terus berkerut sakit kepala.


Jika segala masalah dalam rumah ini harus diselesaikan dengan satu kematian, maka Aether tidak akan pernah layak menjadi kepala keluarga.


Iaros tetaplah adiknya.

__ADS_1


Adiknya yang sedang tidak waras.


"Aku hanya menyarankan. Sebuah jalan pintas."


"Hefaistos."


"Bodoh, apa kamu sebenarnya memikirkan dampak dari perbuatan Iaros ini?" kata Hefaistos, mulai agak kesal. "Saat permintaan anak itu disetujui, konflik antar saudara akan pecah. Dia pasti mati, aku bisa menjamin hal itu. Entah di tanganmu, di tanganku, atau di tangan yang lain. Tidak peduli jika dia bisa membunuh satu atau dua orang, dia pasti mati. Pertanyaannya, apa itu selesai?"


Tidak.


"Sesuatu yang sudah pecah tidak akan utuh kembali. Saudara-saudara kita yang lain, bahkan adik termuda seperti Dionisos dan Deimos, mereka bisa saja ikut dalam konflik itu. Karena peraturan mengatakan pewaris harus anak tertua. Harus anak tertua. Karena itulah Lio Narendra membuat peraturan jika anak kedua ingin menjadi pewaris, dia harus membunuh anak pertama. Jika Deimos ingin mengambil alih posisimu, maka dia harus membunuh kita semua. Semuanya. Dan Iaros yang mati tidak bisa bertanggung jawab atas hal itu."


"Aku tahu." Aether mengerang kencang. "Aku tahu."


"Tapi yah, membunuh Iaros mungkin bukan solusi tepat. Itu solusi tercepat." Maka dari itu Hefaistos beranjak, menuju mejanya untuk menghubungi sang istri. "Medea, panggil Zefirus, Deimos dan Demeter ke ruanganku. Sekarang juga."


Aether meliriknya. "Demeter?"


"Kamu tidak lupa siapa anak kesayangan Bibi Hilaeira?"


"Demeter menyukai kekacauan."


"Karena itulah dia memahami bagaimana menyulut dan memadamkan."

__ADS_1


...*...


__ADS_2