
"Aku tidak terlalu menikmati kunjunganku di Korea terakhir kali." Iaros bercerita mengenai pengalamannya ketika sibuk *******-***** kecil telapak kaki Kamila.
Dia duduk bersandar pada udara kosong sementara Kamila berbaring di tumpukan bantal, beristirahat karena demamnya naik.
"Aku tidak terlalu menyukai pantai. Aku lebih menikmati keheningan di bukit dan gunung-gunung. Tapi aku memilih Busan karena kamu dulu berkata ingin melihat lautan secara langsung."
Kamila hanya diam mendengarnya. Sesungguhnya ia masuh sulit untuk percaya bahwa ternyata semudah itu Iaros luluh.
Dia tak curiga pada apa pun mengenai Kamila. Bahkan seolah tidak pernah terjadi, dia bertingkah seperti hubungan mereka tidak pernah retak sejak masih sangat kecil.
Tapi sekarang Kamila mau tak mau percaya. Iaros membawa telapak kakinya ke bibir pria itu, mengecup tumit Kamila tanpa sedikitpun mempertimbangkan dia seorang Narendra.
Narendra yang haram baginya minta maaf. Narendra yang haram baginya menundukkan kepala bahkan pada sesama Narendra.
Narendra itu cium telapak kakinya seolah itu wajah Kamila.
"Apa aku bisa melihatnya secara langsung juga?" tanya Kamila sedikit berharap.
Sayangnya Iaros belum setakluk itu. "Aku akan membawamu nanti." Iaros mengusap-usap mata kakinya. Tapi kemudian beranjak, memasang kembali kaus di tubuhnya meski dipenuhi bercak darah bekas perbuatan Kamila. "Tidurlah, Kamila. Aku akan kembali dengan makanan hangat nanti."
Kamila segera menahan tangannya. "Aku tidak ingin sendirian."
Wajah Iaros begitu lembut saat dia menunduk, membenamkan kecupan di bibirnya. "Aku tidak lama. Tidurlah."
Tapi ternyata dia masih belum menuruti semua perkataan Kamila.
Aku harus bersabar. Kamila mengepal tangannya yang bergetar.
Untuk mencari celah dari Iaros, mau tak mau ia harus bersabar.
*
"Tuan Muda."
__ADS_1
Saat Iaros kecil, ibunya sudah menyiapkan seorang pelayan khusus. Seorang pelayan yang bukan setia pada Narendra secara keseluruhan, tapi patuh dan tunduk hanya pada Iaros tanpa peduli apa pun permintaan Iaros.
Iaros sendiri yang memberinya nama di usia ke sembilan. Dan orang itu satu-satunya yang bisa Iaros percaya selama ini.
"Aether sudah mulai mencari di sekitar sini?"
Maria, nama pelayan itu, datang menyerahkan sejumlah rekaman CCTV yang diprint. "Saya mengkhawatirkan orang-orang yang dikirim oleh Nyonya Hera, Tuan Muda. Mereka tampaknya mencurigai bahwa Anda bersembunyi di ruang bawah tanah."
Tentu saja begitu. Hera wanita paling cerdas di Narendra setelah ibunya Aether.
"Perintah Anda?"
"Aku belum bisa membawa Kamila pergi." Iaros berpikir sejenak. "Tetap alihkan mereka. Sebisa mungkin giring mereka ke distrik lain dan buat jejak palsu."
"Sudah saya lakukan."
Iaros menyerahkan lembaran itu untuk dibakar. Setelahnya Maria datang membantu Iaros mandi, mengobati beberapa luka akibat Kamila di tubuhnya.
Pernah sekali, mungkin. Beberapa saat sebelum dia melupakan segalanya, kebencian di hati Kamila sudah terlalu menumpuk untuk dia memanggil Iaros tuan muda.
Nyaris sama seperti kemarin, dia berteriak membenci Iaros.
"Kondisi kejiwaan Nona masih terguncang, Tuan Muda."
"Aku tahu." Iaros melirik ke arah lain saat kepalanya dipenuhi berbagai macam pikiran.
Apa pun yang Kamila pikirkan, Iaros tidak akan melepaskan dia lagi. Tidak lagi. Entah harus dengan cara apa Iaros mengikatnya, asal Iaros bisa memiliki Kamila, akan Iaros lakukan.
Kelopak mata Iaros terpejam. Melempar pikirannya pada sebuah kenangan kecil bersama Kamila.
"Apa yang membuatmu senang, Kamila?"
Iaros sudah lupa kapan itu terjadi. Tapi bunga-bunga kecil sedang bermekaran di sekitaran kastil, dan ia duduk menemani Kamila membuat mahkota. Ketika Kamila tersenyum, Iaros pun diam-diam tersenyum.
__ADS_1
"Saya bermimpi melihat laut, Tuan Muda." Pipi Kamila merona saat dia bercerita. "Apa Anda ingat cerita saya? Ibu berkata salah satu momen terbaiknya bersama Ayah adalah waktu yang dihabiskan di tepi pantai. Saya ingin tahu seperti apa pantai itu. Secara langsung."
"Hmmmmm." Iaros tak terlalu tertarik, karena baginya melihat Kamila jauh lebih menyenangkan daripada harus peduli mengenai laut. "Mengapa kamu sangat tertarik dengan dunia luar?"
"Tentu saja tertarik. Apa Anda tidak memikirkan bagaimana rasanya jika saya dan Anda bebas berjalan di tengah keramaian?"
Aku hanya ingin bersamamu, mau di tempat ramai ataupun sepi.
"Apa itu hal yang paling kamu inginkan?"
Senyum Kamila membuat Iaros berdebar ketika gadis itu memasang mahkota bunga di kepalanya. "Saya ingin tahu rasanya kebebasan."
Tapi perkataan Kamila entah kenapa mengisik Iaros.
"Kebebasan?"
"Saya ingin melihat dunia, seluruhnya dengan mata saya. Bukan dari buku, atau cerita-cerita yang Ibu dongengkan sebelum tidur. Saya ingin bebas."
Saat itu, Iaros malah memikirkan perkataan Ibu padanya.
Ketika Iaros bertanya mengapa wanita Narendra harus dikurung di dalam kastil dan tidak diperbolehkan melakukan apa pun selain menjadi tuan putri hingga mati.
"Kebebasan itu menghanyutkan." Itu yang Ibu katakan. "Iaros, dengarkan Ibu. Alasan utama mengapa para wanita Narendra tidak dibiarkan bebas mungkin karena 'kasih sayang' pemimpin keluarga. Tapi itu juga belenggu yang mutlak. Jika wanita mengecap manis kebebasan, mereka tiak lagi pingin kembali dalam kurungan mereka."
"Apa yang buruk dari itu, Ibu?"
"Putraku." Ibu menatapnya dingin seolah pemikiran Iaros begitu bodoh. "Ketika wanitamu tidak lagi terikat, tidak lagi bergantung, tidak lagi menyeret kaki mereka untukmu, maka kamu tidak lagi berharga bagi mereka. Mereka tidak akan menundukkan kepala padamu, tidak akan menghormatimu, tidak akan membiarkan diri mereka hina di depanmu. Apa nikmat bagimu jika wanitamu menganggap kamu tidak berharga?"
Iaros mengulurkan tangan pada Kamila kecil hari itu, tersenyum mengecip bibirnya.
Dalam hati ia memutuskan bahwa Kamila ... tidak boleh mengecap kebebasan.
*
__ADS_1