Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
20. Ingatan Yang Terkubur [REVISED]


__ADS_3

Kamila bersyukur setelah itu bisa terlelap sendirian di kamarnya. Ia tak punya waktu mengomentari pemandangan kamar yang berbeda dari kamarnya di kastil.


Terlelap di atas ranjang, berusaha menghilangkan sisa-sisa mabuk ketika Ribia datang.


"Minum ini." Gadis itu mengulurkan sebutir obat dan segelas air. "Ini obat tidur dosis rendah. Aku tahu kamu justru sulit tidur ketika sakit, jadi kuminta pada istri kakak memberikannya."


Obat kimia bukan obat sehat, tapi Kamila sedikit bersyukur bisa minum obat agar cepat bisa tidur.


Setelah meminumnya, Kamila berbaring. Masih bernapas terputus-putus.


"Kalau dipikir ulang," ucap Ribia yang menemaninya, "kamu jadi mudah sakit beberapa tahun terakhir, bukan begitu? Maksudku, dulu sepertinya tidak."


Kamila berusaha membuka matanya.


Benar juga. Dulu meski lemah, ia tak sampai selalu terbaring di kasur begini.


"Boleh aku menanyakan sesuatu, Kamila?"


"Tentu saja, Nona."


"Apa ada pria yang kamu cintai?"


Mata Ribia memandangi Kamila saat bertanya.


Tadi Agav menyuruhnya untuk mengetes Kamila. Setelah Ribia pikir-pikir, memang ada keanehan antara Iaros dan Kamila. Meski ia tetap tidak mau berprasangka buruk, Ribia harus mengakui ada kemungkinan untuk itu.


Kamila jadi begini, bukankah setelah Iaros pindah ke Kastil Mawar?

__ADS_1


Saat itu Ribia sedang sibuk melakukan pendidikan wajibnya, jadi ia tak punya waktu memerhatikan hubungan Iaros dan Kamila.


Sedangkan Kamila yang ditanyai pertanyaan demikian langsung memejamkan mata. Mulutnya mau menjawab iya, tapi takut jika Ribia bertanya siapa, Kamila malah tidak bisa menjawab.


Pada akhirnya ia menggeleng. "Saya memilih tidak melakukannya, Nona."


Ribia mengerjap. "Kalau dipikir-pikir, kenapa pengawalanmu ditarik?"


Apa yang dia katakan? "Pengawalan? Saya?"


"Maksudku, pengawalmu waktu itu. Hei, aku jadi ingat, bukankah seharusnya kamu yang—" kamu yang menikah adalah apa yang mau Ribia katakan.


Gadis itu jadi ingat ada sebuah pembicaraan bahwa yang akan menikah dan memiliki anak adalah Kamila, tapi tiba-tiba menjadi Lily. Mereka tak terlalu menganggapnya sesuatu karena memang sejak awal Lily yang harus menikah sebab dialah yang lebih tua dan dewasa.


Sayangnya Ribia tak bisa mengatakan itu karena pintu diketuk.


Tok-tok-tok.


"Nona, ada panggilan untuk Anda," kata Agav dari luar sana.


Tiba-tiba? Ribia bergegas pamit, keluar karena pikir ada masalah sampai ia dipanggil, tapi ternyata Agav berbohong.


Pria itu tersenyum saat meletakkan telunjuk di depan bibirnya. "Nona selalu berterus terang. Tolong lebih perhatikan sesuatu kedepannya."


Ribia mengerut tak paham. Apa sih maksudnya? Bukankah bertanya lebih jelas kalau ingin tahu sesuatu?


"Insting Nona jadi tumpul karena terbiasa dengan situasi keluarga ini." Agav menariknya pergi. "Meski Nona merasa sudah tinggal di sudut tergelap keluarga Narendra, bisa jadi masih ada sudut yang lebih gelap dan tidak Nona kenali. Karena itu ayo hentikan ini dulu."

__ADS_1


*


Kamila merasa akan tidur ketika kepalanya memikirkan perkataan Ribia.


Pengawal? Dirinya? Kenapa dia bertanya seakan-akan Kamila pernah punya pengawal juga? Kalau dirinya punya pengawal, mungkin Kamila akan lebih mudah melupakan Iaros. Tapi ia tak punya pengawal, karena yang menikah adalah Lily.


Mata Kamila digelayuti kantuk ketika samar-samar ia mengingat sesuatu.


Sesuatu yang gelap dan telah terkubur lama dalam ingatannya.


"Saya merasa beruntung melayani Nona."


Suara siapa di kepalanya itu?


"Nona tidak bersalah jika menolak perasaan Tuan Muda Iaros. Itu baik-baik saja jika Nona merasa tidak nyaman. Saya akan bersama Nona, kapan pun Nona butuhkan."


Hangat.


Tapi menyakitkan.


Kamila semakin larut dalam pengaruh obat tidur. Bermimpi buruk tentang hari di mana seseorang terbunuh dan Kamila merasa orang itu terbunuh karena dirinya.


"Apa boleh saya mencintai Nona?"


"Apa yang bagus dicintai diriku?"


"Hm? Tentu saja, kelembutan dan senyum manis Nona."

__ADS_1


Siapa ... itu?


*


__ADS_2