
Kamila bertahan. Di depan pintu Iaros, ia meringkuk menunggu. Bahkan jika sekarang seharusnya ia kembali sebelum Aether sadar, Kamila tak bisa berpikir tenang.
Ia takut. Ia takut harus bermimpi buruk lagi.
Jika itu yang Iaros suka, maka Kamila rela menundukkan kepalanya ke tanah.
"Nona."
Kamila mengangkat wajahnya pada Ana. Pelayan itu datang menjemputnya karena Kamila tak kunjung kembali ke kamar.
"Tuan Muda Pertama akan memarahi Anda jika beliau tahu." Ana mengulurkan tangan. "Ayo, Nona. Nona bisa kembali nanti malam. Nona juga harus makan dan beristirahat."
Bagaimana caranya? Ketika detik demi detik ini berharga, semakin mendekati masa keputusan pemimpin keluarga keluar. Jika Kamila tak menghentikan Iaros, tidak ada lagi ketenangan.
"Aku akan tetap di sini." Kamila bergumam. "Pergilah. Aku baik-baik saja."
"Tapi, Nona—"
"Ana." Kamila berusaha tak menangis. "Tolong."
Ini bukan tentang ia lelah, tidak makan atau tidak tidur. Ini tentang nyawa Ibu dan Lily. Kamila tak bisa makan apa pun sebelum ia berhasil membujuk Iaros.
Mengerti dengan tatapan Kamila, Ana pun terpaksa undur diri. Kamila terus di sana, terus duduk meringkuk sampai akhirnya bosan.
Lagi, untuk kesekian kali Kamila berdiri, mengetuk pintu kamar Iaros.
"Iaros." Ia tak lagi menggunakan formalitasnya. "Iaros, kumohon. Beri aku satu kesempatan lagi."
__ADS_1
Pintu tetap tidak terbuka.
Kamila menekan keningnya pada daun pintu, meringis saat memaksa otaknya berputar. Apa saja. Apa saja yang bisa membuat Iaros keluar.
Pikirkan sesuatu.
"Kamu berkata aku segalanya." Kamila mengepalkan tangan kuat-kuat. "Kamu yang berkata kamu bahagia jika aku bahagia."
Kini, itu bukan lagi bujukan, melainkan sebuah sindiran. Kamila bergumam rendah, dan sadar betul bahwa sekarang ia menghina Iaros.
"Menurutmu berapa kali aku merasa terhina karenamu?"
Meski hening, Kamila yakin Iaros mendengar.
"Aku menahan rasa hina dalam diriku karena mencintai kamu meskipun telah menikah. Aku menahan rasa hina bersamamu sampai sekarang dan sekarang kamu marah sampai mengancamku?"
Kamila tersenyum miris.
"...."
"Dasar penipu."
Pintu tiba-tiba terbuka, dan tubuh Kamila tertarik ke dalam.
Sebelum ia sempat bernapas, Iaros sudah mencengkram kedua bahunya, menekan Kamila ke lantai.
"Aku yang hina menyukaimu sejak awal!" teriak dia marah. "Aku yang mengemis padamu sejak awal, Kamila! Kamulah yang bermain dan membuatku seperti ini!"
__ADS_1
"Aku sudah bilang aku tidak meminta!"
"Lalu apa?!" Suara Iaros menggema di dada Kamila, hingga ia terkesiap. "Lalu apa, hah?! Aku mencintaimu, kamu mencintaiku, tapi setelah dewasa kamu bermaksud menikah agar tidak lagi mencintaiku, lalu aku pun menikah dan semuanya terlupakan?! Jika semudah itu, kenapa aku harus gila memikirkanmu?!"
...*...
Iaros tak dapat mengendalikan pikirannya. Ketika mendengar Kamila berkata dia terhina, justru kemarahan Iaros membumbung tinggi.
Jika dia terhina, maka Iaros apa?
"Aku sudah tahu," gumam Iaros kemudian, menatap titik-titik air mata yang jatuh ke wajah Kamila. "Aku sudah tahu sejak lama kamu wanita berbahaya."
Ekspresi dia sekarang, wajah ketakutan dan raut terluka, semua itu membuktikan segalanya.
"Kamu mempermainkanku. Kamu bermain dan melimpahkan semuanya padaku. Akulah yang harus kotor, kamu tidak berbuat salah dan tidak akan pernah salah. Akulah yang berbuat salah. Aku yang memaksa, aku yang mengancam, aku yang membunuh dia sementara kamu!"
Iaros meninju lantai tepat di samping wajah Kamila, tak peduli itu membuat dia menangis.
"Kamu hanya menangis dan menjadikanku monster."
Iaros berpaling lemah. Kepalanya mendadak berat, beranjak dari tubuh Kamila.
Sudah lama ia tak menangis, apalagi di depan Kamila. Tapi Iaros benar-benar sesak. Perasaan ini membakar habis jiwanya.
"Aku tidak peduli bahkan kalau kamu menjilati lantai demi aku." Iaros meninggalkan dia. "Akan kudapatkan kamu dengan caraku. Harus dengan caraku."
Kali ini, Iaros tak mau lagi perasaannya dipermainkan.
__ADS_1
Tidak akan pernah lagi.
...*...