Takdir Wanita Narendra

Takdir Wanita Narendra
45. Alasan Kewarasan


__ADS_3

Demeter tersenyum kecil melihat Iaros berlutut terengah-engah. Butuh waktu cukup lama untuk membuat dia mengeluarkan ekspresi lain. Tapi sepertinya Iaros masih belum berubah sejak terakhir kali mereka 'bermain'.


"Aku sangat malu pada Kakak."


Demeter menjambak keras rambut Iaros agar mendongak, melihat matanya memerah akibat cabukan tanpa henti barusan.


"Aku sangat malu sampai darahku bergejolak. Aku bertanya-tanya, Kakak, bagaimana bisa kakakku yang mengagumkan merendahkan harga dirinya demi seorang wanita? Dan itu bukan orang lain tapi setengah Narendra?"


Iaros berusaha keras untuk bernapas.


"Ibu Hilaeira menangis dalam kematiannya, Kakak, melihat putra kesayangannya berbuat konyol seperti ini. Jika Paman tahu, entah apa yang akan Paman lakukan. Jadi berterima kasih padaku sudah menyelamatkan Kakak."


Sementara itu Iaros berjuang mempertahankan kewarasannya. Ia mencoba untuk tidak terbawa suasana. Menggigit lidahnya hingga berdarah agar suara Ibu tak terus menerus berputar menghantui Iaros.


"Kamu adalah mahakarya."


"Kamu harus sempurna."


"Jangan menentang Demeter, Iaros."


"Demeter adalah belenggu yang sempurna. Akan lebih sempurna jika dia saudarimu dari Ibu, namun itu tidak penting sekarang. Dengarkan dia, patuhi dia, karena dia pengganti Ibu."


"Ibu dengar kamu mengabaikan Demeter."


"Iaros."


"Demeter."


"Iaros."


"Demeter."


"Iaros."


"Demeter."

__ADS_1


Napas Iaros mulai semakin tak terkendali. Matanya terbelalak, tercekik oleh perasaan-perasaan masa lalu yang berusaha keras ia kubur.


Satu-satunya cara untuk ia bisa tenang hanya memikirkan Kamila, tapi sosok Demeter di depannya mengaburkan seluruh pikiran itu, seolah memaksa Iaros melihat bahwa dia adalah kenyataan dan Kamila adalah bayangan tak berwujud.


"Hm, sepertinya sekarang Kakak mulai memahami maksudku?" Demeter menunduk, tersenyum sangat menikmati penderitaan Iaros.


Tidak ada kebencian dalam diri Demeter untuk kakaknya. Justru, mungkin harus ia katakan, Iaros adalah kakak favoritnya dari ayah yang sama.


Lantas mengapa Demeter melakukannya?


Jawaban Demeter ... apa tidak boleh ia melakukan kesenangan?


Wanita Narendra yang sejati bukanlah meratap dalam kurungan. Tapi duduk angkuh di atas tahta, karena ketika semua pria Narendra melakukan sesuatu demi keluarga, wanita Narendra hanya perlu duduk menikmati semua itu.


"Kakak."


Iaros mendongak. Pikirannya semakin tak waras sampai-sampai melihat sosok ibunya berdiri di belakang Demeter, menatap dingin khas ibunya.


"Aku ...." Iaros menggigit lidahnya kuat-kuat meski pada akhirnya ia tetap menuruti Demeter. "Aku akan mendengarmu."


Kamila.


Kamila.


Hanya dia ... satu-satunya alasan Iaros tetap waras di antara tekanan ini.


...*...


"Kamila, bangun dan makanlah sesuatu."


Kelopak mata Kamila terbuka lemah, tak banyak bersuara melihat Lily di samping tempat tidurnya seperti biasa.


Hanya hal sesederhana itu, Kamila takut. Ia takut salah mengambil keputusan. Ia takut jika seharusnya ia kabur, tapi malah melakukan hal bodoh dengan kembali ke sini.


Kamila lelah terluka. Kepalanya sudah sakit tanpa harus dijambak oleh Lily. Hatinya sudah sesak tanpa harus mendengar penghinaan.

__ADS_1


"Tuan Muda."


Lily tersentak saat Kamila justru mencari Aether. "Kamila, jangan menyusahkan Tuan Muda Pertama. Aku akan menjagamu jadi—"


"Tuan Muda." Kamila turun dari tempat tidur. Berusaha cepat berlari agar Lily tak menjangkaunya lalu menjambaki rambutnya sambil berteriak bahwa ia yang bersalah.


Meski merasa ingin jatuh, Kamila terus berlari.


"Kamila, kembali! Kamu bisa terluka!"


Aku berlari agar tidak terluka.


Kamila merasakan napasnya memberat lagi. Tubuh lemah yang mungkin sudah berkarat ini terasa ngilu. Tapi jika ia berhenti, Lily mungkin akan menyeretnya ke kamar mandi lalu menyirami air ke tubuhnya.


Dingin.


Kamila tidak suka disiram air saat ia kedinginan.


"Nona."


Langkah Kamila nyatanya tak bertahan. Kakinya tersandung hingga ia terjerembab.


Hefaistos yang kebetulan mendengar suara teriakan dari lantai bawah bergegas turun, terkejut melihat Kamila di lantai.


"Ada apa?"


Para pelawan dan Lily berbondong-bondong datang membantunya. Tapi Kamila mengulurkan tangan ke udara seolah ingin Hefaistos yang memegangnya.


"Tuan Muda."


Panasnya tinggi. Hefaistos sudah tahu Kamila sakit, tapi merasakan dia sepanas ini, tubuh Kamila benar-benar lemah.


"Jangan membuatnya takut dengan mengejarnya." Hefaistos mengisyaratkan pelayan mundur. "Pergilah. Akan kubawa dia pada Aether."


"Tapi, Tuan Muda—"

__ADS_1


Kamila sudah berada di antara lengan Hefaistos. "Mulai sekarang, tidak ada satupun yang boleh mengunjungi Kamila tanpa izin dariku dan Aether."


*


__ADS_2